Aku percaya Takdir.

Selasa, 22 Juli 2014

Aku, Layaknya Sebuah Rumah


Dear Nona, kemarilah. Duduklah sebentar disampingku. Dengarkan sejenak ceritaku. Janganlah beranjak dari tempat dudukmu ketika aku belum selesai bercerita. Bersediakah kau? Ok langsung saja. Begini nona :
Dulu banget, aku pernah menjadi sebuah rumah. Rumah yang dimana dilengkapi dengan penghuni-penghuninya yang luarbiasa. Kami hidup rukun bahagia selalu kala itu. Tak hanya itu nona, aku seperti layaknya rumah yang selalu melindungi penghuniku dari panas dan dinginnya cuaca didunia ini. Timbal balik dari penghuniku juga sangat luar biasa sekali nona, mereka selalu membersihkanku, merawatku ketika aku kotor, kehujanan serta memperbaikiku ketika ada bagian dariku yang rusak. Indah bukan nona?
Tapi taukah kamu nona? Kebahagiaan semacam itu tak berlangsung lama. Pernah suatu ketika, penghuniku keluar rumah entah mencari apa aku tak tau. Yang aku tau mereka pasti pulang kerumah. Pulang kepadaku jadi aku mengijinkan mereka keluar meninggalkanku. Entah apa yang mereka temukan diluar sana hingga membuatnya jarang pulang, malah tak pernah pulang. Apakah mereka sudah bosen menempatiku? Apakah penghuni-penghuniku sudah menemukan rumah idaman mereka yang jauh lebih bagus dan semegah istana? Pernah mereka pulang, tapi mereka tak mencoba masuk kerumah, mereka hanya melihatku dari kejauhan. Dan lebih parahnya lagi nona, bisakah kau menebak? Mereka memameriku rumah idaman mereka yang semegah dan senyaman yang tak pernah kuberikan katanya. Kamu pasti paham perasaanku kala itu nona? Iya hancur remuk rontok.
Aku hanya diam saja nona, tak banyak yang dapat ku lakukan selain meiyakan mereka mulia keluar dari tempatku. Aku tak punya cukup daya dan tak punya atas mereka. Hingga suatu ketika aku sudah lelah menanti mereka pulang namun mereka tak kunjung pulang, Yang dapat kulakukan sekarang hanya menunggu mereka pulang. Aku tau nona,  kamu akan mengataiku kalau aku pengecut karena memilih tindakan bodoh seperti ini.
Hingga suatu ketika, mereka kembali mengunjungiku, hanya mengunjungiku nona, tak mau lagi menginap ditempatku. Mereka datang dengan rumah barunya, serta membawa masuk penghuni baru yang aku tak tau siapa dia. Lalu aku dikenalkan dengan penghuni baru yang nantinya dia mulai menyukai tempatku. Penghuni ini bilang kalau dia nyaman denganku. Dan aku sungguh ingin sekali menolak kedatangannya ditempatku. Karena dorongan dari penghuniku yang lama, akhirnya aku mengiyakan penghuni baru itu masuk dan menjadikanku rumah. Tapi sungguh, aku hanya menemaninya. Wahai nona, bisakah kau menyimpulkan ceritaku diatas tadi? Sebenarnya aku hanya ingin penghuni lamaku kembali pulang. Walaupun aku tak sebagus dan tak semegah rumah idaman yang mereka temukan, seenggaknya, akulah orang pertama tempatnya berteduh. Tapi sudahlah nona, aku tak mau memaksanya. Toh kalau mereka kembali pulang belum tentu keadaannya akan serukun dan bahagia seperti dulu, mesti ada cacatnya.
Tak usah pusing memahaminya nona, aku tak ingin kamu terlalu mencermatinya, aku hanya ingin kamu dengarkan, aku tak punya teman bicara sekarang. Terimakasih sudah mendengarkan nona. Kelak kalau kamu berjumpa dengan penghuni-penghuni lamaku, titip salam maaf dan kangenku padanya

Jumat, 20 Juni 2014

Terjebak di dua hati




Kala itu disebuah bangku panjang kosong yang menghadap ke hamparan air berwarna biru terpampang pemandangan sangat indah didepanku. Selalu ada kelegaan setiap kali aku bisa berjumpa dengan pantai. Dan aku selalu berharap setelah berjumpa dengan pantai, semua masalah yang sedang menggelumutiku seakan mengalir terbawa arus. Lalu terserah gelombang air akan membawanya kemana. Itu urusan mereka bukan lagi urusanku. Dan itu kenapa sekarang aku meminta bayu membawaku ke pantai ini. Bayu adalah adiknya kekasihku. Yogi kekasihku memang tak punya banyak waktu untukku. Dia sering sibuk dengan kuliahnya diluar kota. Dulu sebelum yogi pindah keluar kota, dia pernah bilang tak mau membiarkan aku dikota ini sendiri, apalagi antara aku dan yogi sudah sering bareng dari 3 tahun belakangan ini. Namun apa boleh buat, mau tidak mau, aku juga harus ikut mengiyakan apa apa yang sudah menjadi kehendaknya, toh juga yang dia lakukan untuk keluarganya.
Selama yogi berada diluar kota, bayu yang selalu membantu dan menemaniku. Yogi yang menyuruh bayu untuk ngejagain aku. Sempat aku bilang ke yogi ini terlalu berlebihan , namun semua ocehanku tak pernah dihiraukan yogi. Selalu saja dia mengirimkan bayu untuk menemaniku selama yogi tak bisa melakukan hal itu kepadaku. Betapa tak diduga-duga oleh yogi dan bahkan olehku juga, bahwa terlalu seringnya  bayu menemaniku setiap hari, hal itu melahirkan masalah yang terlalu runyam.
“Nay, aku mencintaimu” kata bayu menatapku
Aku kaget mendengar bayu berkata seperti ini kepadaku. Tak ada yang bisa aku lakukan waktu itu, aku tercengang, aku selalu mengelak, apa yang barusan dikatakan bayu hanya bualan, mungkin dia bercanda, mungkin dia hanya ingin membuatku tersenyum. Aku mematung dan pura-pura tak mendengar ucapan bayu barusan.
“Nayla, aku mencintaimu” ulangnya kembali.
“Nay, silahkan saja kamu menamparku, mencaci makiku dan berkata kalau aku adalah adik yang tak tau diri sudah lancang mencintai kekasih dari abangnya sendiri. Maafkan aku nay.” Imbuhnya lagi
Aku hanya bisa mematung, tak bisa berkata apa-apa. Sungguh ini diluar logika, bagaimana mungkin ini semua bisa terjadi? Siapa yang harus disalahkan didalam cerita ini? Siapa? Jeritku dalam hati.
“Bay, jangan bercanda. Aku ini masih kekasih orang, aku kekasih abangmu sendiri.”
Aku berhenti menjawab, hanya terdengar helaan napas panjang dan deru kepiluan yang tak karuan mengudara semaunya.
“Aku tau nay, aku ngerti ini hal gila. Lalu apa salah jika aku mencintaimu, aku yang tiap hari selalu ada untukmu. Aku juga pria normal yang bisa merasakan jatuh cinta bila keseharianku selalu diisi denganmu nay.”
“Seharusnya dari pertama kamu mengerti bay, seharusnya kamu lebih bisa mengontrol hatimu dan memperingatkan hatimu lebih dulu. Bahwa wanita yang kamu cintai ini adalah kekasihmu abangmu sendiri.” Tangisku pecah
“Hey nay, jangan menangis. Maafin aku nay, aku salah.” Ucapnya sembari merengkuh tubuhku kedalam pelukannya.
Aku tersentak. Berani sekali bayu melakukan hal ini kepadaku. Tak ada tangan pria lain yang berani merengkuhku selain yogi dan papaku. Sekarang, bayu melakukan apa yang yogi lakukan. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Aku berusaha melarikan diri dari rengkuhan bayu namun apa daya, tenaga bayu cukup kuat untuk menahanku agar tetap berada dipelukannya. Tak lama, tiba-tiba dering ponselku berbunyi. Segera ku raih ponselku dan menjawab panggilan dari yogi yang tertera disana.
“Bee lagi dimana?” Tanya yogi
“Aku lagi dipantai bee”
“Kamu kenapa bee, kok suara kamu gini, kamu nangis?”
“Enggak apa-apa kok bee, aku lagi flu aja ini bee”
“Flu sejak kapan, kok enggak bilang aku sih”
“Cuman flu biasa aja kok bee, masak perlu bilang sih”
“Dipantai sama siapa? Dianter bayu kan?
Aku melirik ke arah bayu yang sudah sedari tadi menyimpan segurat rasa takut untuk mengungkapkan semua isi perasaannya. Laki-laki ini mirip dengan yogi. Bola matanya selalu menghadirkan kesejukan tiap aku memandangnya. Apa salah ketika hati ini sudah lama terisi tiba-tiba hati ini tersandung hati lain?
“Halo bee” suara yogi membuyarkan lamunanku
“Iya bee aku ditemenin bayu”
“Kasih bayu bee, aku mau ngomong” segera ku kasih ponselku ke bayu
Entah apa yang sedang dibicarakan bayu dengan yogi, kenapa harus bayu membawa ponselku menjauh dariku. Apa bayu mau menceritakan semua perasaannya ke yogi? Lalu apa tanggapan yogi? Tuhan, aku harus bagaimana? Andai aku bisa membawa pikiran manusia, maka sudah dari dulu aku tak mau menerima bantuan bayu, jika pada akhirnya serumit ini.
“Ini yogi mau ngomong sama kamu” kata bayu sembari memberikan ponsel kepadaku
“Iya halo bee”
“Kamu hati-hati ya disana, jangan kenapa-kenapa ya, jaga diri baik-baik bee, aku sayang kamu”
“Iya baik bee, akupun juga sayang kamu”
Kumatikan teleponnya dan kumasukan kembali ponselku kedalam tas. Ku lempar pandangan ke laut lepas didepanku, hening, tak ada suara, hanya suara angin dan gelombang yang gemericik merdu.
“Nay, maafkan aku. Aku salah sudah mencintai kekasih abangku sendiri. Maafkan aku nay.” Suara bayu membuka percakapan
“Bay, aku tak tahu siapa sebenarnya yang mesti disalahkan didalam keadaan seperti ini, aku tak marah kau mengungkapkan perasaanmu padaku bay, yang salah itu jika kamu berusaha menghancurkan rasa cintaku ke abangmu. Yogi pria tangguh baik dan bertanggung jawab seperti yang saya kenal. Apa tega kamu menghancurkan kebahagiaan abangmu sendiri dengan egomu itu bay? Enggak kan? Maka bay, tolong dengan sangat cukup saja kamu mencintaiku sebagai kakakmu, kamu baik, ganteng, perhatian. Aku percaya diluar sana banyak wanita yang menunggu kedatanganmu. Samperin dia, cintai dia seperti kamu mencintaiku.”
“Tapi nay, tak semudah itu melakukan apa yang kamu mau”
“Bay, dimana ada niat dan tindakan. Disana akan tumbuh usaha yang mulia. Berusahalah bay, demi kamu, yogi dan aku.”
“Oke kalau memang itu yang terbaik nay, aku coba” jawabnya dengan nada tak ikhlas.
Terkadang kita memang ditakdirkan untuk tidak dapat bersatu meskipun sebenarnya kita saling cinta.




Minggu, 27 April 2014

Tak perlu berandai-andai membayangkan sesuatu yang masih tak bisa terjamah. Jika memang itu dirasa benar olehmu. Silahkan lanjutkan dan pergilah. Aku tak pernah melarangmu untuk hal itu.

Kamis, 17 April 2014

Dulu, ketika aku masih mencintaimu


Sayup sayup terdengar suara angin berhembus dari jendela kamarku, hanya suara dentang jam yang terdengar jelas, tak lagi ada suaramu ketika malam mulai menghampiri. Entahlah, sedang dimana keberadaanmu sekarang. Jangankan sosok dirimu, suaramu saja sudah tak lagi ku dapati. Apakah tak pernah kamu rasakan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seseorang yang selalu ada buatmu? Tak pernahkah kamu pikirkan hal itu? Tak ingatkah kamu dulu, dulu ketika kekasihmu yang sangat kamu agung-agungkan tiba-tiba mengkhianatimu dan meninggalkanmu sendiri diangkringan dan pergi dengan kekasihnya yang baru? Tak ingatkah kamu bagaimana hatimu kala itu? Tak ingatkah kamu, siapa orang yang rela kehujanan menghampirimu ke angkringan kala itu? Jika dirimu sudah tak ingat lagi, tak usah kamu mengingatnya dengan terlalu, karena aku tak pernah memaksamu untuk mengingatnya. Aku masih sabar untuk menunggumu mengingatnya. Aku percaya suatu saat nanti, entah kapan, kamu bisa mengingat kembali bagaimana rasanya ditinggal pergi dan dikhianati oleh orang yang kamu anggap penting. Semoga ketika suatu saat nanti kamu kembali mengingat dan menyadari peristiwa tersebut, aku masih duduk dibibir pantai ini bersamamu. Tidakkah kamu tahu, aku sudah tak punya banyak waktu lagi menemanimu duduk dibibir pantai seperti saat ini, maaf bukannya aku lancang mendahului kehendak Tuhan. Tapi akan lebih baik kalau aku menyiapkan semua ini dari awal. Benar begitu bukan?
Terhitung sejak dokter menvonis bahwa aku positif menderita penyakit kanker otak stadium akhir. Sejak saat itu aku merasa tak ingin lagi memperjuangkan rasa cintaku padamu yang tak kunjung kamu rasakan sampai saat ini. Aku merasa tak pantas mendampingimu, aku merasa tak mau menyusahkan dirimu jika aku bersamamu. Kucoba untuk membunuh rasa yang ada, rasa yang dulu menggebu-gebu minta ingin kamu rasakan. Namun sampai saat ini, detik inipun tak kunjung terwujud. Dulu memang aku pernah punya niat ingin menghilang darimu tapi hatiku berontak tak karuan mendengar ide konyol tersebut. Dan hal itu tak pernah bisa aku lakukan. Namun sekarang? Lihatlah. Kamu tiba-tiba menghilang dariku, sudah sebulan lebih kamu tak ada kabar, tak bisa dihubungi. Tidakkah hatimu sedikit iba melihatku seperti ini? Inikah balasan dari semua yang sudah aku lakukan kepadamu selama ini? Selama kekasihmu mengkhianatimu? Yang merawatmu ketika kamu sakit? Ketika kamu butuh teman curhat dan segalanya? Siapa yang selalu ada buatmu? Siapa? Duhai pria bermata sipit dan berpipi lesung, kenapa tega kamu membiarkanku melawan penyakit ini sendirian? Kenapa teganya kamu menghempaskanku dan memilih bersembunyi ditempat yang tak pernah bisa kujamah? Malukah dirimu mempunyai teman berpenyakit kanker seperti aku ini? Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu sangat bangga memiliki teman sepertiku. Bukankah mulutmu sendiri yang mengatakan kalau hanya aku satu-satunya wanita yang bisa mengerti maunya hatimu selain ibumu.
Alvin, bukankah kamu selalu berkata kalau tiba-tiba penyakitku lagi kumat-kumatnya kamu mau selalu disampingku, kamu mau mengelus lembut kepalaku sampai aku tertidur dan tak merasa sakit lagi, dan ketika ku jawab kalau aku wanita kuat dan aku tak akan pernah merasakan sakit yang sering kau sebut itu lalu dengan lantang kamu menjawab kalau kumatnya sakit kanker itu sakitnya berlipat-lipat, dan aku hanya bisa membungkam mendengar nada suaramu mulai meninggi. Namun memang benar katamu, saat ini aku sedang merasakannya, sungguh sakitnya keterlaluan. Vin, aku sedang kumat seperti ini, katanya kamu mau menemaniku meredam rasa sakit ini tapi sekarang mana vin? Jangankan sosok dirimu disampingku, suara dan kabarmu saja tak ku dengar. Kalau memang bahagiamu itu dengan meninggalkanku, tak apa vin, aku tak marah. Aku juga tak pernah punya hak atas dirimu. Pergilah semaumu vin, maafkan diriku kalau nanti tiba-tiba kamu datang dan mencariku lagi tetapi aku sudah tertidur disamping makam ayah dan abangku. Maafkan diriku jika aku tak bisa merawatmu lagi saat kamu sakit, tak bisa mendengarkan ceritamu lagi, tak bisa selalu ada buatmu lagi. Terimakasih vin, sudah menjadi sosok pria yang menemaniku selama ini, walau hanya sekedar teman, aku sudah sangat beruntung. Bahagialah vin, aku hanya ingin melihatmu bahagia dari atas sana nanti.
Aku mencintaimu Alvin.


Wanita yang menggilaimu

Soya





#fiksi

Selasa, 08 April 2014

Kepada hati yang tak tau diri


Maafkan hatiku yang sudah lancang merindukan dirimu, ah tidak, maksutku aku merindukan hatimu. Maafkanlah. Aku tak tau harus bagaimana. Tapi tenang saja, aku hanya merindukanmu, tak berusaha untuk mengusik semua keadaanmu yang sudah baik-baik saja, tak akan. Aku bukan tipe wanita yang ingin merusak hubungan orang lain, aku hanya ingin mengutarakan segala yang kurasa dalam bentuk tulisan ini, dan aku yakin kamupun tak akan sempat membaca tulisan jelekku ini, dan aku juga tak berharap kamu membacanya karena kalau sampai kamu membacanya mungkin aku akan tutup muka atau memalingkan wajahku ketika bertemu denganmu. Kalaupun kamu sempat membaca tulisan ini mungkin kamu akan tertawa terbahak-bahak mendapati diriku yang bisa dikatakan belum sepenuhnya buang rasa. Oh ya, aku memang tak berusaha untuk membuang semua rasa yang sudah pernah tercipta, aku hanya ingin menyempitkan rasa tersebut tanpa harus mengurangi rasa itu sendiri. Jadi tak usah kuatir aku akan mengusik kehidupanmu, akan kupastikan hal tersebut tak akan terjadi. Kamu mau tau apa alasannya? Iya karena aku adalah salah satu seseorang yang sangat mendamba hubungan kalian, aku kagum, aku senang melihat hubungan kalian berdua, tak tau kenapa, tapi itu benar adanya. Kalian sangatlah cocok.
Gejolak yang saat ini sedang aku rasakan memang seharusnya tak boleh seperti ini, tak seharusnya aku merindukan seseorang yang sudah menjadi milik orang lain, tak sepantasnya hal ini terjadi pada hatiku. Beribu kali ku coba untuk tak merasakan hal seperti ini namun entahlah. Ini sudah yang kesekian kalinya aku sibuk berdialog dengan hatiku sendiri, aku lelah menciptakan asumsi-asumsi yang tak pasti seperti ini. Entah sampai kapan aku akan selalu seperti ini. Proses. Iya benar, ini semua masih dalam kategori proses. Biarkan saja sekarang ini hatiku berimajinasi, berasumsi, bergelak sesukanya, sampai tiba saatnya nanti waktu yang meleburkan, mencairkan segala sesuatunya menjadi jauh lebih baik dan tenang dari sekarang, aku mungkin cukup lebih bersabar dan menikmati proses seperti ini yang mungkin nanti tak kurasakan lagi. Tak perlu aku mencari pasangan baru untuk mengobati semua luka-luka yang sudah menganga lebar dihati. Tak perlu. Jangan pernah beranggapan kalau setelah putus cinta lalu dapat pasangan baru kita akan merasa luka lama sudah hilang, atau kita akan merasa menang dari mantan-mantan yang sudah menyakiti hati kita. Justru itu akan memperlihatkan betapa tak kuatnya diri kita ketika ditinggalkan. Janganlah bertindak seperti anak kecil. Memilih sendiri dengan menata hati dan membangun kembali mimpi-mimpi yang dulu sempat tersingkirkan itu jauh lebih baik.

Wanita yang hatinya tak tau diri. 

Senin, 24 Maret 2014

Dia siapa dan aku siapa? part II


Lanjutan dari cerita sebelumnya :)

Keesokan harinya mentari pagi diujung timur sudah mulai menyinari sebagian kamarku. Aku agak malas buat bangun pagi-pagi seperti ini, rasanya tak ingin terbangun untuk hari ini saja. Tapi apa boleh buat, semakin aku mengelak semakin nyata pula kenyataan yang harus aku hadapi hari ini. Ponselku berdering, nomor yang semalam menelfonku kembali tertera diponselku, ada ragu dalam benakku untuk tak mengangkatnya. Tapi rasa kasianku sungguh besar apabila aku tak menjawab telepon dari bayu, aku tak mau bayu mikir yang enggak-enggak. Aku harus ikut senang melihat bayu senang.

“Selamat pagi elsa” suara lirih bayu. Aku senang mendengarnya bila bayu bisa kembali seperti dulu, sebelum seminggu yang lalu. Setiap pagi, setiap menit bahkan tiap detik  bayu selalu bersamaku.
“Pagi juga bay” jawabku
“Aku udah nepati janjiku kan el? Aku gak ngilang-ngilang lagi kayak kemarin-kemarin.” Ungkapnya.
“Hahaha iya bay bisa aja kamu tuh”
“Baru bangun kamu el?”
“Iya bay baru bangun, kamu jadi pulang hari ini?”
“Iya el, jdi dong. Aku udah kangen sama idungmu yang pesek. Bawaannya pengen cepet-cepet ketemu idungmu.”
“Oh jadi gitu, lebih kangen sama idungnya ketimbang sama orangnya.”
“hiihh ngambek, jelek ah ngambek gitu”
“Biarin lah, yang dibahas hidung mulu. Kamu belum sarapan kan?”
“Kok kamu tau el?”
“Iya tau lah, kan biasanya kamu kalau sarapan disatuin sama makan siang, maklum anak kost”
“Hahaha dasar pisek, yaudah aku tak mandi dulu ya nanti sore jam 4 aku jemput dirumah ya, harus sudah siap ya, dandan yang cantik ya.”
“ngapain aku harus dandan buat kamu, ogah ah. Udah dulu ya bay, aku dipanggil mama, gak enak daritadi aku belum bangun. See you”
“Iya sek pesek”

Setelah mematikan telepon, perasaanku jauh lebih tenang ketimbang sebelumnya. Aku hampir tak sadar bahwasannya bayu balik ke kudus hanya ingin bercerita tentang wanita yang didambanya, wanita udah berhasil merebut perhatiannya, bukan merebut sih seharusnya, mengambil lebih tepatnya. Wanita yang udah berhasil juga mengambil hati bayu.

Pukul 4 sore, aku sudah menyiapkan segala sesuatu. Aku tinggal menunggu bayu menjemputku. Sembari menunggu bayu menjemputku, aku berulang kali menengok jam dinding yang tertempel rapi didekat poster fotoku bersama bayu dan kedua adikku. Sudah jam 4.15 menit, dan bayu tak kunjung datang. Kucoba menghubunginya tapi tak ada respon. Yasudah ku tunggu dia 10menit lagi. Setelah lama menunggu bayu yang tak kunjung datang, aku bergegas berangkat sendiri ke kedai. Lalu sebelum aku bergegas meninggalkan rumah, ku kirim sms ke bayu
Bay, aku langsung ke kedai saja ya, aku tunggu kamu disana. Iya terkirim.

Di kedai, lagi-lagi aku disambut oleh waiters-waiters kedai yang sangat ramah tamah ini, kedai sore ini agak sepi, mungkin nanti menjelang maghrib baru mulai banyak pengunjung yang datang. Suasana kayak begini yang sebenarnya aku inginkan. Tak terlalu rame. Kembali ku pesan kopi panas ditambah gula sedikit. Kupilih tempat duduk yang biasanya aku sama bayu tempati setiap kali berkunjung kesini. Ponselku berdering, pesan baru dari bayu : El, kamu dimana? Aku udah dirumahmu. Malah kamu ke kedai duluan. Yaudah aku langsung kesana. Tungguin ya. Lega sekali rasanya membaca pesannya tadi. mengingat sebentar lagi aku bertemu dan berbincang-bincang kembali bersama bayu, rasanya udah lama sekali aku tak mnghabiskan waktu bareng dia. Padahal hanya seminggu saja bayu ngilang dan tak ada kabar, berasa sudah sebulan tak bertemu dengannya. Ah aku berlebihan. Terlintas kembali dikepalaku tentang apa yang ingin dikatakan dan diceritakan bayu padaku nanti. Dia menemuiku hanya ingin menceritakan bahwa dia telah jatuh hati kepada wanita lain, aku meyakinkan diriku untuk tetap tegar mendengar semua cerita bayu dan merespon baik semua cerita bayu nanti. Bayu hanyaa mengganggapku sebagai sahabat kecilnya, sering dia berkata dia mengganggapku sebagai adiknya. Hatiku berontak tiap kali bayu mengganggapku sebagai adiknya, aku ingin lebih dari sekedar adik tapi aku bisa apa kalau bayu tak mempunyai perasaan yang sama denganku?

“Aku melempar pandangan kearah pintu masuk, terlihat sosok pria yang taka sing lagi buatku, pria ini jauh lebih keren dari sebelumnya, pria ini terlihat berwibawa ketimbang biasanya. Iya bayu. Hari ini bayu terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Aku terkejut melihat perubahan bayu yang begitu drastis. Lantas timbul pertanyaan dibenakku siapakah yang sudah membuat bayu berubah begini? Wanita yang ingin diceritakannya nanti kah?
“Hay el, aku mencarimu kerumah tadi” sapanya ketika memasuki pintu masuk.
“Sory bay, aku tadi sudah menunggumu lama, yaudah aku mutusin kesini sendiri” jawabku singkat.

Sebentar, siapa wanita yang sedang jalan disamping bayu? Wanita yang tak pernah aku lihat sebelumnya, wanita yang tak aku kenali. Terlihat tangan bayu menggandeng wanita tersebut, bayu menawarinya aneka menu kopi yang ingin dipesannya. Persis seperti pertama kali bayu memperlakukanku ketika mengunjungi kedai ini. Apa mungkin itu wanita yang mau diceritakannya padaku? aduh kenapa hatiku rasanya ingin berontak, tapi aku tak punya hak untuk melakukan hal tersebut. Bayu dan wanita itu mendekatiku, aku mencoba untuk menahan semua itu, aku harus Nampak baik-baik saja. Harus.

“El kamu ngeselin banget sih dicariin dari tadi dirumah gak ada taunya udah disini” katanya sambil mengacak-ngacak rambutku.
“Hahaha (ketawa yang kupaksakan) iya map bay” jawabku
“Oh ya el, kenalin nih temanku, namanya citra.”
“Aku elsa” kataku sambil mengulurkan tanganku.
“Aku citra” jawabnya sambil membalas uluran tanganku.
“Oh ya cit, ini elsa. Sahabat tersayangku sejak kecil, dia yang selama ini ada buatku. 

Yang sering aku ceritakan padamu itu. Dia ini udah kek adekku sendiri” ungkapnya dengan merangkul lenganku.
Rasanya aku ingin menjerit, ingin berontak, ketika bayu melontarkan kata-kata tadi, bagian terakhir dari kalimatnya tadi begini “Dia udah kek adekku sendiri” sudah kuduga kalau bayu hanya menganggapku seperti ini, dia hanya menggangpku sebagai sahabatnya, sebagai adeknya. Aku benar-benar tak karuan saat ini. Aku tak bisa berkata apa-apa, rasanya aku ingin pergi dari hadapan mereka berdua.

“el, ini citra yang mau aku ceritakan ke kamu” bayu berkata
“Eh ini bay yang katanya bisa membuat kamu jatuh hati. Ciye bayu” kataku mencoba biasa saja. Telihat citra Nampak tersipu malu-malu mendengar ucapanku tadi, bayu juga Nampak salah tingkah. Ah beneran. Bayu memang sudah menambatkan hatinya ke citra.

“kamu bisa aja el” jawab bayu malu-malu.
“menurutmu gimana aku sama citra? Cocok gak?” katanya
“Emmm cocok kok kalau kamunya cocok cocok saja” jawabku sedikit berbohong.
“Citra itu orangnya cantik kan el? Dia ini pintar banget lho el, gak kayak kamu bisanya galau terus………………” ungkap bayu. Aku mencoba tak mendengarkan apa yang diungkapkan sama bayu, aku merasa muak. Bayu selalu mengunggul-unggulkan kekasih barunya, selalu membeda-bedakanku. Merasa kalau kekasihnya adalah seseorang yang benar-benar sempurna dimatanya. Aku sedikit kecewa denganmu bayu, seharusnya bayu tak bertingkah seperti ini. Seharusnya dia ingat, bukan kekasihnya yang selalu menemaninya selama ini, tapi aku yang selalu ada buatnya dalam keadaan apapun. Ok malam ini kamu bercerita banyak tentang keunggulan kekasihmu tanpa menyadari betapa mirisnya hatiku mendengarnya. Malam ini kamu sudah memberikanku kejutan yang tak aku sangka-sangka sebelumnya. Terima kasih kejutannya bay, kamu berhasil membuatku terkejut dan menitihkan airmata setelah pertemuan kita kali ini selama seminggu kamu ngilang dan tak kasih kabar ke aku dan tiba-tiba kamu datang kejutan yang benar-benar mengejutkan. Tak ada yang aku bisa lakukan selain berbahagialah dengan kekasihmu bay, tak usah memikirkanku, lama kelamaan kamu pasti akan sedikit menggantikan posisiku dengan kekasih barumu itu. Dan kembalilah jika suatu saat wanitamu tak bisa seperti apa yang kamu harapkan. Kembalilah sebelum aku yang tak akan benar-benar menerimamu kembali. Jangan sampai terlambat bay. Ingat akulah seseorang yang selalu ada buat kamu sejak dulu, aku yang menemani hari-harimu selama ini, dan sekarang dengan mudahnya kamu mau menggeser posisiku. Tak apa bay, selama itu bisa membuatmu bahagia. Tak usah kau hiraukan diriku.

Tertanda.

Aku, yang selalu kau anggap sahabat/adekmu.

Minggu, 23 Maret 2014

Dia siapa dan Aku siapa?


Kopi yang kupesan sejak sejam yang lalu sudah terlalu dingin untuk diminum. Entah apa yang membuatku tak berminat meminumnya malam ini, mungkin caffeinnya yang terlalu banyak jadi terasa agak tak enak untuk diminum. Tak seperti biasanya, biasanya kopi yang disuguhkan oleh waiter disini, porsi rasanya selalu pas, tak kurang tak lebih. Mungkin bukan kopinya yang tak enak, mungkin perasaanku yang membuat kopi ini tak enak atau mungkin peracik kopinya sedang tak baik-baik saja. Memang sih kedai kopi ini tercatat kedai baru yg launching sekitar 2bulan yang lalu, sejak pertama aku berkunjung dan menikmati kopi disini, semuanya terkesan sangat enak. Bukan hanya enak saja, para waiternya juga terlihat ramah dan friendly sekali orangnya. Hampir setiap hari aku tak pernah absen mengunjungi kedai ini, sampai-sampai beberapa waiternya tak  asing lagi denganku bahkan mereka sudah begitu mengenalku.
“Kok sendiri mbak, mas Bayu tak diajak?” Tanya salah seorang kasir.

Ini yang sudah aku takutkan sebelum memutuskan pergi ke kedai ini, mesti akan menjadi pertanyaan besar ketika aku ke kedai ini sendiri tanpa ditemani Bayu. Iya biasanya memang bayu yang menemaniku mengunjungi kedai ini sejak pertama kali aku menginjakkan kaki dikedai ini. Bayu juga yang mengenalkanku bagaimana caranya menikmati kopi yang terlalu pahit agar terasa lebih manis ketika diseduh. Yang mengajariku bagaimana hidup ini seperti secangkir kopi, ada pahit ,manisnya. Tergantung bagaimana cara kita menyeduhnya dan menikmatinya.

“Bayunya masih disemarang mas” jawabku ngasal.
Padahal aku sendiri tak tau bayu sekarang ada dimana? Tak ada kabar, tiba-tiba menghilang sudah hampir seminggu. Disms tak terkirim, dihubungi lewat sosnet juga tak ada respon. Entahlah menghilang kemana bayu sekarang.
“Oh begitu, mau pesan apa? Ganti menu baru apa kayak biasanya?” Tawarnya  
“emmm apa ya,  kayak biasanya aja lah mas, tak mau coba-coba yang lain takut gak cocok sama rasa kopi yang baru” jawabku
“Wih bahasanya seperti orang sedang putus cinta” tanggapnya
“Hahaha itu mah masnya saja yang berlebihan” tepisku

Kedai kali ini teramat rame, hampir semua tempat duduk penuh dengan pengunjung. Kuinget-inget kembali hari apakah ini? Kok kedai ini terlihat sangat ramai. Sebelumnya tak pernah aku melihat kedai ini teramat rame seperti ini, biasanya separo dari tempat duduk terisi. Ku raih ponselku lalu kulihat hari apakah hari ini? Oh pantesan, ini hari minggu. Pantesan ramai bener. Sepertinya aku salah keluar malam ini. Yasudah sudah terlanjur, daripada tak merasakan kopi malam ini. Aku mencoba mencari tempat duduk yang tak terlalu rame, iya hanya ada satu bangku kosong diujung sana, aku bergegas menghampiri bangku kosong tersebut.
Selang beberapa menit, seorang waiter mengantarkan kopi pesananku.

“Silahkan mbak” ujarnya
“Iya makasih” jawabku

Aroma kopi ini begitu menyedapkan hidung siapa saja yang menciumnya, terlebih bayu. Dia sangat suka dengan aroma kopi ini, entah kenapa setiap kali aku menyeduh kopi panas ini, aku selalu merasa bayu tak pergi, aku selalu merasa dia selalu disampingku, didekatku, mendekapku. Sesekali aku memejamkan mata dan mencubit kecil tubuhku sendiri, barangkali benar adanya kalau sekarang ini bayu memang disampingku, setelah kubuka kembali mataku yang sempat terpejam beberapa menit ketika menyeduh kopi panas ini, kosong. Tak ada bayu disini. Kemana sih kamu bay, batinku. aku tak tau salahku dimana sampai kau hilang dariku begitu tiba-tiba seperti ini. Suara ponsel mengagetkanku. Kulihat disana tertera nomor yang tak kukenal memanggil. Kucoba mengangkat panggilan tersebut.

“Elsaaa” terdengar suara dari ujung sana
“Iya halo, ini siapa?” tanyaku
“Elsa, ini aku bayu.” Jawabnya

Ada sedikit ketenangan dihatiku, ketika dia menyebutkan namanya. Pria ini tak biasanya menghilang begitu saja  seperti tadi.

“Bayu, serius ini kamu?” tanyaku lagi
“Sebegitu asingkah diriku el, sampai kamu tak mengenaliku suara merduku” jawabnya.
“Bay, kamu kemana saja bay? Tiba-tiba gada kabar, nomor gak aktip, wa, bm, line , fb, twitter juga gak aktip. Kamu habis diculik siapa?” tanyaku
“Ciye ciye nyariin aku ciye, ciye hawatir ciye” usilnya
“Gimana tak hawatir coba bay, sudah seminggu kamu tak kasih kabar, sudah seminggu kamu tak kunjung pulang.”
“Iya iya sory, kemarin-kemarin hpku hilang el dikampus.”
“Kok bisa sih bay, kenapa kamu tak cepat-cepat menghubungiku kala itu? Aku coba sms ke diko, katanya kamu sudah seminggu tak balik ke kosan. Bener begitu?”
“Kamu cariin aku ke diko el?”
“Iya aku nanyain kamu ke diko, habisnya aku hawatir bay sama kamu.”
“Iya tenang saja el, aku baik-baik saja kok, kmu dimana sekarang el? Kok suaranya rame banget”
“Aku lagi dikedai bay, kamu belum jawab pertanyaanku bay, kamu darimana seminggu yang lalu? Hilang tak ada kabar”
“Tuh kan ke kedai gak ngajak-ngajak”
“Gimana mau ngajak? Orang kamunya tiba-tiba ngilang kayak pocong”
“Ih jahat sekali, aku disamain sama pocong”
“Biarin, salah siapa ngilang-ngilang begitu”
“Iya dah gak ngilang lagi, janji deh”
“Halah janji-janji doang paling orang kamu tuh”
“Serius elsa. El besok aku balik, tungguin aku ya besok kita ke kedai bareng lagi.”
“Besok memang kamu tak ada kuliah?”
“Gada elsa. Selasa baru ada kelas”
“Yaudah besok hati-hati baliknya, tak usah ngebut-ngebut”
“Iy siap bos, sekalian besok aku mau cerita sama kamu el”
“Soal apa?”
“Aku sedang jatuh hati sama seseorang el”

Senyum mengembangku tiba-tiba sedikit meredup. Mungkin ini ada kaitannya kenapa bayu seminggu ini ngilang. Kenapa aku jadi tak karuan begini? Bukankah wajar-wajar saja bayu jatuh hati kepada wanita lain selain diriku. Toh memang selama ini hubunganku sama bayu hanya sekedar teman semasa kecil, sahabat lah istimewanya. Tak lebih.

“el apa kamu dengerin aku?”
“eh ya bay, ok lah sampai berjumpa besok” kataku menutup telepon secara tiba-tiba. 

Hatiku tak karuan rasanya, seharusnya aku tak seperti ini, seharusnya aku biasa saja, seharusnya aku paham betul bahwa aku tak pantas cemburu tak dalam status. Mungkin aku terlalu lama bareng sama bayu, jadi berasa susah menerima kenyataan kalau pada akhirnya antara aku dan bayu harus pisah, menuju hidup masing-masing. Mencari jodohnya sendiri-sendiri. Seharusnya seperti itu tapi entahlah. Aku tak mengerti kenapa tiba-tiba seperti ini. Rasanya tak ingin ada hari esok biar aku tak bisa ketemu bayu dan tak mendengarkan cerita tentang wanita yang didambanya itu. Tapi apa boleh buat? Mau tak mau, yang namanya sahabat harus ada disaat sahabatnya membutuhkan meskipun terkadang sesuatu itu menjadi kebalikannya. Setelah cukup lama berdiam diri dikedai ini sendirian ditambah suasana yang rame begini, rasanya aku ingin cepet-cepet pulang dan merebahkan sejenak apa yang sejak tadi mengulumutiku. Segera aku bereskan barang-barangku kedalam tas dan bergegas menuju kasir untuk membayar kopi yang tadi aku pesan.

“Cepat banget mbak, jam segini udah mau pulang” Tanya kasir tersebut
“Iya mas, udah disuruh mama pulang, ini mas uangnya” jawabku
“Iya mbak, makasih ya. Sering-sering kesini lagi” pintanya
“Iya mas ok, mari mas” jawabku
“Nggeh mbak monggo”

Aku keluar dari kedai dan bergegas menaiki sepeda motorku dengan kecepatan yang tak terlalu ngebut,  malam ini malam minggu. Banyak pemuda pemudi yang ngawur bawa motor dijalanan. Rasanya aku ingin terbang dan cling sampai rumah. Tapi apa boleh buat? Jalan ini bukan jalan milik eyangku, ini jalan umum yang siapa saja boleh melewatinya. Sesampainya dirumah, aku bergegas kedalam kamar, ku rebahkan semua bebanku disini, tak ada yang tau aku lagi bersedih, jangankan papa, mama saja tak tau kalau anaknya lagi sedih. Tak ada satupun yang berusaha menghiburku, biasanya bayu yang selalu menghiburkan ketika aku bersedih tetapi sekarang yang menjadi alasanku bersedih adalah dirinya. Mana bisa dia bisa menghiburku? Aku tak dapat tidur, apa yang harus aku lakukan besok? Apakah aku harus menemuinya besok? 

To be continue................... 

Sabtu, 22 Maret 2014

Senja itu milik alvin


Senja kali ini tak begitu indah, terlihat murung, seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi dia tak mampu. Entahlah walaupun senja kali ini terlihat murung tapi aku bisa menikmatinya dengan perasaan yang justru kebalikannya, aku merasa bahagia saat ini, karena aku bisa mengajak perempuan yang dulu hanya bisa aku mimpikan didalam dunia mimpi. Sekarang, hari ini tepatnya diulang tahunnya yang ke 21tahun, aku bisa menikmati senja bersamanya, ditempat yang sama. Sesekali aku mencubit lenganku sendiri, barangkali aku sedang bermimpi bisa mengajaknya kepantai ini.
“Lu orang pertama yang mengajakku menyaksikan senja seperti vin” suara lirih irin membuyarkanku
“Benarkah?” tanyaku melempar pandangan kearahnya.
Irin hanya mengangguk, menandakan bahwa yang dikatakannya sungguh benar adanya.
“Irin, happy birthday ya, semoga nambah baik segalanya, makin lancar.” Kataku sambil mengulurkan tangan
“Iya amin, thanks vin” jawabnya sambil membalas uluran tanganku
“Sory ya rin, gue gak bisa ngasih lu kado apa*”
“Ini udah cukup kok vin, udah hadiah terindah yang pernah gue terima, thanks ya vin” jawabnya.
Sorotan mata itu yang selalu tak bisa aku pandang lama-lama. Kedua bola mata yang indah, yang selalu berhasil membuatku berdebar tak karuan, berkeringat dingin, dan membuatku tak bisa berkata apa-apa. Ditambah bibirnya yang indah membuat wajahnya semakin terlihat sempurna. Perempuan ini yang dulu hanya bisa aku cintai dalam diam, yang hanya bisa aku mimpikan, sekarang dia berada didepanku,  menemaniku menikmati senja yang terlihat murung, bukan ikut menikmati senja lebih tepatnya ikut menghibur senja yang cenderung murung. Duh betapa beruntungnya pria seperti aku yang bisa duduk berdua dibibir pantai sambil menikmati senja sore ini bersama perempuan cantik seperti irin, yang namanya selalu digembar-gemborkan oleh pria-pria difakultas ekonomi. Aku tak tahu bagaimana nanti tanggapan mereka ketika mengetahui irin mau aku ajak kesini. Mungkin mereka akan mengolok-olokku dan bilang aku tak punya malu.
“Kenapa lu nglamun vin?”panggilnya
“oh enggak rin, gimana? Lu suka?”tanyaku
“Iya vin gue suka, sering-sering ya ngajak gue kesini”
“ok siap”
“Lu sering kesini ya vin?”
“Iya rin, gue kalau lagi bête, sering kesini.”
“Sendirian?”
“Iya sendirian rin, baru lu yang gue ajak kesini”
Irin tak menjawab, dia hanya mengangguk. Entahlah, aku tak mengerti arti anggukannya tersebut. Tiba-tiba terbesit didalam benakku untuk mengatakan sesuatu yang dulu hanya bisa aku pendam dalam diam, aku ingin mengatakan kalau aku mencintainya. Tapi aku tak mampu. Aku tak berani menerima resikonya kalau nanti akhirnya irin menolakku. Tetapi kalau tak mencobanya, sampai kapan aku hanya bisa menjadi temannya irin, sampai kapan aku harus mencintai irin dalam diam, sampai kapan?
“Irin” panggilku.
“Hemm, iya kenapa?” jawabnya sambil memainkan pasir yang digenggamnya.
“Irin mau sering-sering diajak kesini kan?”
“he.em iya mau lah” jawabnya singkat.
“Kalau misalnya irin udah punya pacar, irin memang dibolehin pacarnya, gue ajakin kesini lagi?”
Irin menghentikan mainan pasir ditangannya, kedua matanya menatapku cukup lama, seolah memberi isyarat bahwa apa yang sudah aku katakan tadi salah. Kami terdiam cukup lama, tak ada suara, hanya suara ombak dan hembusan angin yang mengacak-acak rambut irin. Aku tak tau harus bagaimana, aku takut menyinggung perasaan irin.
“Gue salah bicara ya?” aku memberanikan membunuh kebungkaman ini.
“Mana mungkin pacar gue nanti melarang gue menikmati senja seperti ini vin, kebiasaan dia kalau lagi bête saja sering kesini.” Katanya sambil tersenyum
Aku tak mengerti apa yang irin katakan, berarti irin membohongiku kalau dia bilang dia baru pertama kali menikmati senja seperti ini, padahal pria yang dia cintai sering melakukan hal yang sama sepertiku. Belum sempat aku menanyainya lagi, dia sudah balik bertanya padaku.
“Bagaimana nanti kalau pacar lu yang nglarang lu ngajakin gue kesini? Apa mungkin nanti lu ngajakin pacar lu kesini?” tanyanya balik
Aku sejenak diam, tak langsung menjawab.
“Aku hanya ingin membawa satu perempuan kesini rin, hanya satu perempuan yang akan aku kenalkan kepada senja, pantai, ombak, dan orangtuaku nanti.” Jawabku
“Maksut lu? Kan lu ini udah ngajak gue kesini, lalu?”
“Iya rin, aku hanya ingin membawamu dan mengenalkanmu pada mereka jika kamu berkenan” kataku sambil menggenggam tangan irin. Irin tak menjawab dia hanya bisa diam, entahlah apa yang sedang dia pikirkan.
“Irin, maukah lu? Tak usah bingung rin, kalau memang lu tak bisa, gue gak maksa.” Jelasku
Irin nampak mendongakkan kepalanya dan berusaha menjawab pertanyaanku. Terlihat matanya berkaca-kaca, apa yang sedang dipikirkan sama irin? Entahlah. Aku tak mau berandai-andai daripada aku salah mengartikan semua ini.
“Kalau lu gak bisa tak apa rin, memang lebih baik lagi kalau kita hanya berteman, udah gak usah dibahas lagi” kataku melepaskan genggaman tangannya.
“Vin, gue mau” jawabnya sambil meneteskan airmata.
“Rin, lu serius? Kataku tak percaya.
“iya gue serius, gue terharu vin”
ku genggam kembali tangannya, kuusap airmatanya dan kuraih tubuhnya kedalam pelukanku. Aku kegirangan, aku peluk irin erat-erat ku bisikan lirih ditelinganya “I love you sayang” dia tak menjawab, dia hanya menangis terharu. Aku longgarkan pelukannya, aku cium keningnya dan mengusap air matanya lalu menggendongnya berlari dibibir pantai. Senyum mengembang dibibir irin.
“Lihat sayang, betapa senja ikut ceria melihat kita seperti ini, I love you bee” kataku
“Iya bee, love you too”
Ku peluk irin sekali lagi, terdengar debur ombak semakin merdu seperti ikutserta dalam kebahagiaan kami.

Selasa, 04 Maret 2014

Wanita itu bernama ELSA


 “Kenapa bersedih El ?”  Kata seorang pria yang duduk disampingku.

Aku tak menjawab, dia masih terdiam dan seolah tak menggubris apa yang sedang dibicarakan oleh abangku itu. Mengerti kalau adik perempuannya tidak akan menjawab pertanyaannya, Evan menggenggam tangan elsa, berharap elsa mau menceritakan apa yang telah terjadi padanya. Namun rupanya upaya evan masih tak mampu membuat elsa mau angkat bicara.
“El, apa gerangan yang membuatmu seperti ini ? Biasanya kamu tak pernah seperti ini el, sebelumnya kamu tak pernah seperti ini.” Tanyanya lagi.

Elsa menoleh kearah evan lalu kembali dia melempar pandangan kearah pengunjung yang datang diangkringan miliknya.

“Aku tak mengerti apa yang sedang aku alami ini van, aku bingung.” Jawab elsa lirih diiringi airmatanya yang mulai jatuh menumpahi kopi hitamnya itu.

 “Sudah, sudah husssttt jangan nangis sayang, masih ada abang disini.” Kata evan sambil memeluk adiknya itu.

 “Tenangin dulu hatinya, jangan ceritakan dulu. Buatlah hatimu nyaman dulu. Hussttt udah jangan menangis.” timpalnya lagi.

Elsa mengerti bahwasannya evan yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman. Elsa menumpahkan semua tangisannnya dipelukan evan. Elsa tak peduli dengan pengunjung  yang datang memerhatikannya. Dia tak peduli. Yang elsa pikirkan hanya bagaimana dia tidak sesakit ini.
Hari semakan malam, pengunjung yang datang sudah bergegas meninggalkan angkringan miliknya dan elsa masih belum berhenti menangis, mungkin saking berat beban yang dipikul elsa sehingga dia tak kunjung berhenti menangis.

“Sebaiknya kamu pulang dulu saja, kamu istirahatkan dulu badan dan pikiranmu, biar abang yang jaga angkringan.” Evan menyarankan.

“Aku pulang nanti bareng kamu saja van, lagian percuma kalau aku pulang aku juga nanti susah tidur.” Jawab elsa.

“Yasudah kamu rebahan dulu diruang kerjamu, biar abang disini jagain angkringan, ini sudah jam 10 lho, gak baik wanita jam segini belum tidur, nanti kamu sakit, gih tidur sana.” Suruhnya.

“Van, biar aku disini, aku egk mau sendirian van, nanti aku jadi semakin mikir yang egk*. Ujarku.

“Memangnya apa sih yang kamu pikirkan, soal Rafa?” Tanyanya lagi.

Deg, tiba* hatiku merasa tak karuan ketika evan menyebut nama rafa. Rafa, pria yang bernama lengkap Rafael Aditya, dia dulu adalah kekasihku, dia menyayangiku, dia yang membawaku menuju kesuksesan, dia yang merawatku ketika aku sakit, dia yang selalu mampu membuatku merasa paling nyaman setelah evan. Begitulah dulu sosok rafa, ketika dia masih sabar menghadapi jarak rumahku dan rumahnya, ratusan bahkan ribuan kilometer. Namun setelah sekian lama, mungkin dia merasa bosan dan pengen seperti halnya pasangan lainnya yang kemana* bisa bareng, ngapain* bareng, begitulah sejatinya pasangan, katanya. Aku sangat merasa, sekarang ini rafa berubah, sikapnya yang dulu kupikir berlebihan kini berubah menjadi cuek. Saat itulah aku merasa mungkin rafa sebenarnya sudah tak butuh aku lagi, mungkin rafa sudah mempunyai sosok lain disana, yang bisa diajak kesana kesini bareng. Bukan seperti aku ini. Ah begitu banyak pertanyaan yang muncul dikepalaku ketika nama rafa disebut, mengingat yang manis dan mengingat yang pahit sekalipun. Biarkan Rafa memilih jalannya, bukankah sejatinya mencintai seseorang itu harus rela orang yang disayanginya bahagia tanpa dirinya? Begitulah semestinya.

“hey el, kok bengong? Abang salah ngomong ya?” Tanya evan.

Aku masih tak menjawab, pikiranku masih tentang rafa, rafa dan rafa. Ah berlebihan.

“Elsa.” Panggilnya lagi.

“Egk salah kok van” jawabku.

“Terus apa sih yang sedang kamu pikirkan?” tanyanya.

“Van, begini ya rasanya kehilangan? 

“Kehilangan siapa el? Ayah?”

“Kehilangan orang* yang kita sayangi”

“Beginilah hidup el, tentang siapa yang datang dan pergi, ada kalanya orang yang kita sayang pergi, dan mau tak mau kita hanya bisa menerima apa yang sebenarnya sudah menjadi takdir kita el.”

“Aku tak mengerti van, kenapa mereka perginya barengan. Ayah lalu rafa. Mereka dua ini adalah pria yang teramat berarti buatku van, termasuk kamu. Ayah, rafa dan kamu adalah tempat ku bercerita, sosok yang sangat aku impikan van tapi sekarang, ayah lebih memilih tinggal disurga ketimbang disini bersamaku. Lalu rafa lebih memilih tinggal dipelukan orang lain ketimbang pelukanku. Pria yang aku punya sekarang cuma kamu van, aku tak tau apakah nanti kamu seperti mereka, tega meninggalkanku sendiri disini, sungguh van aku kehilangan segalanya, kesuksesan yang aku raih tak ada artinya kalau tanpa kalian van.” Tangisku.

“Aku tau el apa yang sedang kamu rasakan, masih ada aku disini el, aku tidak akan ninggalin kamu el, aku nemenin kamu terus el, jangan sedih ya cantik ya, sekarang lanjutin hidup kamu sayang, masih banyak kok pria diluar sana yang jauh lebih baik dri rafa, masih banyak, cuman kamu buka dulu hatimu buat yang baru. Kalau kamu masih menutup hatimu mana bisa pria diluar sana mau masuk el, ngerti kan sayang?” ucapnya sambil memelukku.

“Kamu tau teman abang yang namanya galang? Yang dulu pernah jagain kamu selama kamu hilang ingatan? Yang sering nganterin kamu kemanapun kamu pergi? Dia kemarin cerita sama abang kalau dia juga suka sama kamu, belum lagi si bayu.”

“Tapi kan suka sama sayang itu beda van, mungkin galang itu hanya sekedar suka, sekedar sayang sebagai seorang adik. Kalau bayu, aku sudah janji sama rafa van, rafa dulu pernah melarangku berteman dengan bayu, karena sikapnya  yang temperamental, yang emosinya suka meledak* dan sering nyusahkan keluarga kita van.”

“Ya sudah apapun yang ingin kamu lakukan, lakukan saja, abang gk ingin melarangmu, abang dukung kamu selama yang kamu lakukan itu membuatmu seneng, ya?

Aku hanya menggangguk, tak menjawab. Sudah pukul 10.30, pengunjung masih begitu ramai. Aku melempar pandangan kesemua pengunjung yang datang, banyak pengunjung yang bersuka ria bersama teman*nya, ada pengunjung yang menghabiskan waktunya sendiri,  menikmati aroma kopi yang begitu menyengat hidung siapa saja yang datang ketempat ini. Lalu aku melempar pandangan kearah kanan dimana tepat didepanku duduk, terlihat dua sejoli itu sedang merasakan kebahagiaan dengan menghabiskan waktunya dengan duduk manis berdua menikmati suasana yang ada ditempat ini, terkadang aku melihat mereka saling bersuapan, pegangan tangan, mengusap keringat perempuannya, sungguh ini pemandangan yang tak menyedapkan mata dan hatiku. Pandanganku buyar ketika ada sosok pria datang menghampiri tempat dudukku bersama evan, dia adalah galang. Sahabat evan yang dulu pernah merawatku ketika aku lupa ingatan, galang ini yang mengantarkanku kemanapun aku pergi.

“sory bro gue telat,” kata galang mengawali percakapan.

“Santai aja lang, kagak apa*” Evan menjawab sambil berjabat tangan dengan sahabatnya itu.

“Elsa apa kabar? Sudah sembuh sakitnya? Kenal sama aku gak?” Kata galang

“Alhamdulillah udah mendingan, ingat lah, kamu galang yang dulu abangku nitipin aku ke kamu ketika dia sibuk ngurusi skripinya itu kan?” jawabku

“Nah iya pinter, udah inget” katanya sambil mengacak* rambutku.”

“ih resek banget ya kamu ini”  aku tak membalasnya.

Kulihat sedari tadi evan sedang asik dengan handphone yang dipegangnya, dia lagi asik bbm-an sama kezia, kekasihnya. Lalu galang mencairkan suasana kembali.

“Sa, kamu habis nangis ya? Kok matanya bengkak gitu” Tanya galang.

“Iya lang, dia lagi galau” jawab evan.

“Ngapain sih galau* mulu” kata galang

“Tau tuh elsa, cemen banget” timpal evan

Percakapan kita terhenti ketika kasir memberi peringatan kepada semua pengunjung yang datang kalau 20 menit lagi, angkringan akan ditutup. Evan lalu menghampiri kasir tersebut guna menghitung jumlah uang pemasukan yang ada. Aku tak sadar bahwasannya dari tadi, galang sedang memandangiku. Aku mencoba tak menghiraukannya namun semakin lama, galang semakin tak berhenti memandangiku.

“Lang, mau minum apa?”

“Ehmm, terserah deh”

“Ya sudah sebentar ya, aku nyusul evan dulu.”

“Ngapain, disini aja nemenin aku” katanya.

“Ada yang mau aku omongin sama kamu sa,” timpalnya lagi.

“Mau ngomong apa? Ngomong gih”

“Kamu kenapa sedih?”

“ih kepo banget sih kamu ini lang, rahasia :p”

“Kok gitu sih sa”

“Biarin :p “

Evan memanggilku, dan aku bergegas menghampirinya. Setelah aku dan evan membereskan semuanya. Semua pengunjung sudah pada pulang. Begitu juga sebagian dari karyawan*. Tinggal aku evan galang. Aku menuju kedalam mobil terlebih dahulu karena aku sangat mengantuk, sedangkan evan dan galang mengunci angkringan. Sembari menunggu evan masuk kedalam mobil, ponselku berdering. Beberapa sms dan telpon yang masuk dari rafa. Dia mencariku. Raut wajah mengantukku menghilang dan berganti dengan tangisan. Aku tak habis pikir, apa maksut dengan semua ini? Dia yang bilang kalau dia bosan denganku, bosan dengan jarak yang ada, tetapi dia masih mencariku, masih membuatku selayaknya kekasihnya, padahal jelas sekali dirinya sudah menggantikan diriku dengan yang lain. Apa maksutnya ini semua? Evan dan galang menuju ke arahku.

“Sa aku balik dulu ya?” Pamit galang kepadaku
Belum sempat aku menjawab, galang bertanya lagi. 

“Lho kamu kenapa nangis sa?” Evan yang tadinya sibuk dengan ponselnya ketika mendengar adik perempuannya kembali menangis, sontak dia melihatku.

“El, are you ok?” kata evan sembari membuka pintu mobil.

“Elsa, sudah dong sayang jangan sedih, sudah sudah cup cup sayang” katanya mencoba menenangkanku sambil memelukku.

“Lang, kalau lu mau balik, balik aja dlu lang, elsa biar aku yang ngurus” kata evan.

“Enggak van, kita bareng saja nanti baliknya.” Jawab galang

“Lu mau balik ketempat gue aja apa?” Tanya evan

“Gitu juga boleh van” singkat galang.

“Yaudah kita balik sekarang aja, udah malam ini, gak baik diliat warga.” Saran evan

“iya bener van ayok.”

Disepanjang jalan pulang, aku tak bicara apapun, aku hanya bisa diam dan netesin airmata, tak mengerti apa yang sedang rafa lakukan padaku. Rafa membuatku semakin bingung. Evan mencoba menghibur tetapi sia* saja.
Setelah sampai rumah sekitar pukul 11.30, aku langsung menuju kedalam kamar, aku tak menghiraukan evan dan galang. Aku berlari kekamar dan menangis sejadi-jadinya. Ponselku masih berdering. Setelah ku buka pesannya, masih dari rafa. Ya tuhan, mau gimana lagi aku ini, apa sebenarnya maunya rafa? Bukankah dia yang sudah bilang kalau dia bosan, tetapi kenapa dia sampai sekarang masih mencariku? Masih memberi perhatian padaku layaknya aku ini masih kekasihnya? Apa maksutnya tuhan? Terdengar evan memanggilku dari balik pintu, tapi aku tak menggubrisnya. Evan dan galang mencoba menghiburku melalui sms tetapi aku masih memikirkan rafa, oh apakah yang rafa lakukan sampai membuatku merasa seperti ini?

Rabu, 26 Februari 2014

Biarkan semesta yang mengubahnya.


"Part of my writing"

Setelah sampai dipantai, galang memarkirkan mobilnya ditempat parkir yang semestinya sudah disiapkan. Mobil baru saja berhenti, tak peduli evan dan galang, aku lalu bergegas turun dari mobil dan berlari kearah pantai disebrang tempat kami memarkir mobil. Galang dan evan menggelengkan kepala mereka melihat tingkahku yang lucu ini. Setelah sampai dibibir pantai, aku menghela nafas panjang.

“huuuuuuuuuuhhhhhhhhh” Nafasku tersendak

“Begitu cintanya ya sama pantai, sampai* aku ditinggalkan” Suara itu berasal dari belakangku

“Eh galang, iya sory lang, aku memang suka sekali dengan pantai lang, pantai ini bisa menenangkanku” jelasku

“Ohh gitu” jawabnya singkat

“Evan mana lang?” tanyaku

“Dia sedang ketoilet sa” jawabnya

“kamu kenapa jadi murung gitu lang” kataku menanyakan.

“Enggak apa* sa, aku hanya takut dengan pantai”

“Loh kenapa gak suka lang? Pantai kan indah”

“Aku pernah punya masa lalu yang jelek dengan pantai sa”

“Aduh sory ya lang, aku enggak tau kamu enggak suka dengan pantai, kalau kamu enggak suka dengan pantai, kenapa tadi kamu ikut kesini?”

“Aku kan maunya nemenin kamu sa”

“Halah, mulai lagi rese nya”

“Lhoh siapa yang rese?”

“Iya kamu lah, siapa lagi”

“Sa kesana yuk, disana tempatnya indah lho”

“Iyaudah ayok” kataku berjalan beriringan mengikutinya.”

“Lang boleh tau enggak kenapa kamu enggak suka dengan pantai?”

“Ihh gantian kamu kan yang kepo”

“Ihh kok gitu sih lang”

“Biarin saja, salah siapa kemarin aku nanya kamu enggak jawab gitu”

“Iyaudah kamu certain dulu nanti gantian aku ceritakan, gimana?”

“Deal ya?”

“Iya deal” kataku sambil menjabat uluran tangannya

“Ceritanya begini sa, dulu aku pernah kehilangan perempuanku disini sa, ketika kita mencoba untuk menaiki kapal menuju ke pulau panjang. Waktu berangkatnya kita aman* saja sa, aku dan perempuanku sempat menghabiskan waktu dipulau panjang sa tapi setelah perjalanan pulang dari pulau panjang tiba* kapal yang kami naiki terbalik sa, banyak sekali korban yang tidak selamat dalam peristiwa ini termasuk perempuanku sa.” jelasnya

Aku tak bisa berkata apa*, aku hanya bisa menepuk* bahunya.

“Peristiwa itu masih jelas teringat olehku sa, tapi aku yakin kalau rahasia Allah lebih indah dari ini sa.”

“Iya lang, dibalik setiap masalah pasti ada hikmahnya kok, tinggal kita yang sabar dalam 
menjalani semuanya”

“Kalau enggak ada peristiwa kayak kemarin, mungkin sekarang aku enggak akan kenal sama wanita secerdas dan secantik kamu elsa.”

“Tuh kan gombal lagi”

“Enggak gombal kok, aku serius, kamu itu cerdas sekali berbisnis, pinter juga mengolah uang. Bangga sekali aku kenal sama kamu sa”

“Sudahlah tak usah berlebihan”

“Iyauda iya, sekarang giliranmu bercerita” katanya menatapku.
Aku memandangnya balik, ada keseriusan dimatanya untuk mengetahui apa yang ingin aku ceritakan padanya. Lalu aku melempar pandangan kepantai yang lepas ini.

“Begini lang ceritanya, aku sudah enggak sama rafa” kataku sambil merunduk.

“Maafkan aku sa kalau aku memaksamu bercerita” sesalnya sambil merangkul lenganku kedalam pelukannya.

“Tak usah bersedih sa, semua yang ada didunia ini enggak ada yang abadi, ada kalanya orang yang kita sayangi meninggalkan kita, seharusnya kita dari awal sudah sepakat kalau dengan datangnya cinta yang dibawa oleh pasangan kita pada akhirnya kita memang harus siap apabila mereka meninggalkan kita” katanya lirih.

“Sudah janganlah larut dalam sedihmu begini, masih banyak yang sayang sama kita, banyak kok yang sayang sama kamu, setauku, selain kamu wanita cerdas dan pandai berbisnins, kamu juga wanita terkuat yang pernah aku temui setelah ibuku sa, kamu kuat dalam menjalani semua rintangan hidup yang datang menghampirimu. Seharusnya beruntunglah pria yang bisa mendapatkan cintamu dengan tulus sa, seharusnya kamu tak pantas disia*kan begini sa.” Timpalnya

Seharusnya memang begitu lang, batinku. Seharusnya rafa tak melakukan hal tersebut padaku. aku selalu salah dimata rafa, aku seperti anak kecil dimata rafa, rafa tak pernah melakukan tindakan yang membuktikan dia sayang sama aku. Kalau memang aku tak bisa menjemput dia dikotanya, seharusnya dia yang berusaha menemuiku disini, tapi kenapa dia tidak tak berusaha? Kenapa dia tak berusaha menabung? Siapapun wanita ingin prianya yang mengunjunginya bukan wanitanya. Aku sudah pernah ingin memberikannya surprise dengan menemuinya diam* namun pada saat aku kesana yang kudapat hanya luka, yang kulihat rafa sedang berboncengan dengan wanita lain. Hati wanita mana yang tak sakit melihat prianya begitu dibelakangnya. Pria yang selalu kudamba kubanggakan karena kegigihannya, kecerdasannya, kesetiaannya namun kenyataannya begitu.

“aku tak tau lang” jawabku

“tak usah kau pikirkan sa, biarkan semua ini mengalir seperti air dipantai ini, ada hikmah yang lebih indah dari ini sa” katanya sambil mengusap rambutku

“tenangkanlah dirimu terlebih dahulu, luruhkan semua bebanmu disini, tinggalkanlah semua bebanmu disini, biar air dipantai ini yang membawanya pergi” timpalnya lagi.

“Lang, dulu apa kamu merasakan apa yang saat ini sedang aku rasakan?” tanyaku sembari bangun dari bahunya

“Iya sa, aku dulu merasakan lebih dari yang kau rasa. Semua orang pasti merasakan seperti kita kalau mereka ditinggalkan oleh orang yang mereka sayang” jawabnya menatapku

“Sakit kan lang rasanya?” isakku

“Sakit yang kita rasakan saat ini tidak akan lama kok sa, kita hanya butuh waktu untuk berdamai dengan masa lalu kita sa, jangan malah kau melupakannya. Semakin kamu mencoba melupakannya semakin kamu akan teringat olehnya” hiburnya mengusap airmataku

“Sudah jangan menangis sa” peluknya lagi.


*To be continue*