“Kenapa bersedih El ?” Kata seorang pria yang duduk disampingku.
Aku tak menjawab, dia
masih terdiam dan seolah tak menggubris apa yang sedang dibicarakan oleh
abangku itu. Mengerti kalau adik perempuannya tidak akan menjawab
pertanyaannya, Evan menggenggam tangan elsa, berharap elsa mau menceritakan apa
yang telah terjadi padanya. Namun rupanya upaya evan masih tak mampu membuat
elsa mau angkat bicara.
“El, apa gerangan yang
membuatmu seperti ini ? Biasanya kamu tak pernah seperti ini el, sebelumnya
kamu tak pernah seperti ini.” Tanyanya lagi.
Elsa menoleh kearah evan lalu kembali dia melempar
pandangan kearah pengunjung yang datang diangkringan miliknya.
“Aku tak mengerti apa
yang sedang aku alami ini van, aku bingung.” Jawab elsa lirih diiringi
airmatanya yang mulai jatuh menumpahi kopi hitamnya itu.
“Sudah, sudah husssttt jangan nangis sayang,
masih ada abang disini.” Kata evan sambil memeluk adiknya itu.
“Tenangin dulu hatinya, jangan ceritakan dulu.
Buatlah hatimu nyaman dulu. Hussttt udah jangan menangis.” timpalnya lagi.
Elsa mengerti
bahwasannya evan yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman. Elsa menumpahkan
semua tangisannnya dipelukan evan. Elsa tak peduli dengan pengunjung yang datang memerhatikannya. Dia tak peduli.
Yang elsa pikirkan hanya bagaimana dia tidak sesakit ini.
Hari semakan malam,
pengunjung yang datang sudah bergegas meninggalkan angkringan miliknya dan elsa
masih belum berhenti menangis, mungkin saking berat beban yang dipikul elsa sehingga
dia tak kunjung berhenti menangis.
“Sebaiknya kamu pulang
dulu saja, kamu istirahatkan dulu badan dan pikiranmu, biar abang yang jaga
angkringan.” Evan menyarankan.
“Aku pulang nanti
bareng kamu saja van, lagian percuma kalau aku pulang aku juga nanti susah
tidur.” Jawab elsa.
“Yasudah kamu rebahan
dulu diruang kerjamu, biar abang disini jagain angkringan, ini sudah jam 10
lho, gak baik wanita jam segini belum tidur, nanti kamu sakit, gih tidur sana.”
Suruhnya.
“Van, biar aku disini,
aku egk mau sendirian van, nanti aku jadi semakin mikir yang egk*. Ujarku.
“Memangnya apa sih yang
kamu pikirkan, soal Rafa?” Tanyanya lagi.
Deg, tiba* hatiku
merasa tak karuan ketika evan menyebut nama rafa. Rafa, pria yang bernama
lengkap Rafael Aditya, dia dulu adalah kekasihku, dia menyayangiku, dia yang
membawaku menuju kesuksesan, dia yang merawatku ketika aku sakit, dia yang
selalu mampu membuatku merasa paling nyaman setelah evan. Begitulah dulu sosok
rafa, ketika dia masih sabar menghadapi jarak rumahku dan rumahnya, ratusan
bahkan ribuan kilometer. Namun setelah sekian lama, mungkin dia merasa bosan
dan pengen seperti halnya pasangan lainnya yang kemana* bisa bareng, ngapain*
bareng, begitulah sejatinya pasangan, katanya. Aku sangat merasa, sekarang ini
rafa berubah, sikapnya yang dulu kupikir berlebihan kini berubah menjadi cuek.
Saat itulah aku merasa mungkin rafa sebenarnya sudah tak butuh aku lagi,
mungkin rafa sudah mempunyai sosok lain disana, yang bisa diajak kesana kesini
bareng. Bukan seperti aku ini. Ah begitu banyak pertanyaan yang muncul
dikepalaku ketika nama rafa disebut, mengingat yang manis dan mengingat yang
pahit sekalipun. Biarkan Rafa memilih jalannya, bukankah sejatinya mencintai
seseorang itu harus rela orang yang disayanginya bahagia tanpa dirinya?
Begitulah semestinya.
“hey el, kok bengong?
Abang salah ngomong ya?” Tanya evan.
Aku masih tak menjawab,
pikiranku masih tentang rafa, rafa dan rafa. Ah berlebihan.
“Elsa.” Panggilnya
lagi.
“Egk salah kok van”
jawabku.
“Terus apa sih yang
sedang kamu pikirkan?” tanyanya.
“Van, begini ya rasanya
kehilangan? “
“Kehilangan siapa el?
Ayah?”
“Kehilangan orang* yang
kita sayangi”
“Beginilah hidup el, tentang
siapa yang datang dan pergi, ada kalanya orang yang kita sayang pergi, dan mau
tak mau kita hanya bisa menerima apa yang sebenarnya sudah menjadi takdir kita
el.”
“Aku tak mengerti van,
kenapa mereka perginya barengan. Ayah lalu rafa. Mereka dua ini adalah pria
yang teramat berarti buatku van, termasuk kamu. Ayah, rafa dan kamu adalah
tempat ku bercerita, sosok yang sangat aku impikan van tapi sekarang, ayah
lebih memilih tinggal disurga ketimbang disini bersamaku. Lalu rafa lebih
memilih tinggal dipelukan orang lain ketimbang pelukanku. Pria yang aku punya
sekarang cuma kamu van, aku tak tau apakah nanti kamu seperti mereka, tega
meninggalkanku sendiri disini, sungguh van aku kehilangan segalanya, kesuksesan
yang aku raih tak ada artinya kalau tanpa kalian van.” Tangisku.
“Aku tau el apa yang
sedang kamu rasakan, masih ada aku disini el, aku tidak akan ninggalin kamu el,
aku nemenin kamu terus el, jangan sedih ya cantik ya, sekarang lanjutin hidup
kamu sayang, masih banyak kok pria diluar sana yang jauh lebih baik dri rafa,
masih banyak, cuman kamu buka dulu hatimu buat yang baru. Kalau kamu masih
menutup hatimu mana bisa pria diluar sana mau masuk el, ngerti kan sayang?”
ucapnya sambil memelukku.
“Kamu tau teman abang
yang namanya galang? Yang dulu pernah jagain kamu selama kamu hilang ingatan?
Yang sering nganterin kamu kemanapun kamu pergi? Dia kemarin cerita sama abang
kalau dia juga suka sama kamu, belum lagi si bayu.”
“Tapi kan suka sama
sayang itu beda van, mungkin galang itu hanya sekedar suka, sekedar sayang
sebagai seorang adik. Kalau bayu, aku sudah janji sama rafa van, rafa dulu
pernah melarangku berteman dengan bayu, karena sikapnya yang temperamental, yang emosinya suka
meledak* dan sering nyusahkan keluarga kita van.”
“Ya sudah apapun yang
ingin kamu lakukan, lakukan saja, abang gk ingin melarangmu, abang dukung kamu
selama yang kamu lakukan itu membuatmu seneng, ya?
Aku hanya menggangguk, tak menjawab. Sudah pukul
10.30, pengunjung masih begitu ramai. Aku melempar pandangan kesemua pengunjung
yang datang, banyak pengunjung yang bersuka ria bersama teman*nya, ada
pengunjung yang menghabiskan waktunya sendiri,
menikmati aroma kopi yang begitu menyengat hidung siapa saja yang datang
ketempat ini. Lalu aku melempar pandangan kearah kanan dimana tepat didepanku
duduk, terlihat dua sejoli itu sedang merasakan kebahagiaan dengan menghabiskan
waktunya dengan duduk manis berdua menikmati suasana yang ada ditempat ini,
terkadang aku melihat mereka saling bersuapan, pegangan tangan, mengusap
keringat perempuannya, sungguh ini pemandangan yang tak menyedapkan mata dan
hatiku. Pandanganku buyar ketika ada sosok pria datang menghampiri tempat
dudukku bersama evan, dia adalah galang. Sahabat evan yang dulu pernah
merawatku ketika aku lupa ingatan, galang ini yang mengantarkanku kemanapun aku
pergi.
“sory bro gue telat,” kata galang mengawali
percakapan.
“Santai aja lang, kagak apa*” Evan menjawab sambil
berjabat tangan dengan sahabatnya itu.
“Elsa apa kabar? Sudah sembuh sakitnya? Kenal sama
aku gak?” Kata galang
“Alhamdulillah udah mendingan, ingat lah, kamu
galang yang dulu abangku nitipin aku ke kamu ketika dia sibuk ngurusi skripinya
itu kan?” jawabku
“Nah iya pinter, udah inget” katanya sambil mengacak*
rambutku.”
“ih resek banget ya kamu ini” aku tak membalasnya.
Kulihat sedari tadi evan sedang asik dengan
handphone yang dipegangnya, dia lagi asik bbm-an sama kezia, kekasihnya. Lalu
galang mencairkan suasana kembali.
“Sa, kamu habis nangis ya? Kok matanya bengkak gitu”
Tanya galang.
“Iya lang, dia lagi galau” jawab evan.
“Ngapain sih galau* mulu” kata galang
“Tau tuh elsa, cemen banget” timpal evan
Percakapan kita terhenti ketika kasir memberi
peringatan kepada semua pengunjung yang datang kalau 20 menit lagi, angkringan
akan ditutup. Evan lalu menghampiri kasir tersebut guna menghitung jumlah uang
pemasukan yang ada. Aku tak sadar bahwasannya dari tadi, galang sedang
memandangiku. Aku mencoba tak menghiraukannya namun semakin lama, galang semakin
tak berhenti memandangiku.
“Lang, mau minum apa?”
“Ehmm, terserah deh”
“Ya sudah sebentar ya, aku nyusul evan dulu.”
“Ngapain, disini aja nemenin aku” katanya.
“Ada yang mau aku omongin sama kamu sa,” timpalnya
lagi.
“Mau ngomong apa? Ngomong gih”
“Kamu kenapa sedih?”
“ih kepo banget sih kamu ini lang, rahasia :p”
“Kok gitu sih sa”
“Biarin :p “
Evan memanggilku, dan aku bergegas menghampirinya.
Setelah aku dan evan membereskan semuanya. Semua pengunjung sudah pada pulang.
Begitu juga sebagian dari karyawan*. Tinggal aku evan galang. Aku menuju
kedalam mobil terlebih dahulu karena aku sangat mengantuk, sedangkan evan dan
galang mengunci angkringan. Sembari menunggu evan masuk kedalam mobil, ponselku
berdering. Beberapa sms dan telpon yang masuk dari rafa. Dia mencariku. Raut
wajah mengantukku menghilang dan berganti dengan tangisan. Aku tak habis pikir,
apa maksut dengan semua ini? Dia yang bilang kalau dia bosan denganku, bosan
dengan jarak yang ada, tetapi dia masih mencariku, masih membuatku selayaknya kekasihnya,
padahal jelas sekali dirinya sudah menggantikan diriku dengan yang lain. Apa
maksutnya ini semua? Evan dan galang menuju ke arahku.
“Sa aku balik dulu ya?” Pamit galang kepadaku
Belum sempat aku menjawab, galang bertanya lagi.
“Lho kamu kenapa nangis sa?” Evan yang tadinya sibuk dengan ponselnya ketika
mendengar adik perempuannya kembali menangis, sontak dia melihatku.
“El, are you ok?” kata evan sembari membuka pintu
mobil.
“Elsa, sudah dong sayang jangan sedih, sudah sudah
cup cup sayang” katanya mencoba menenangkanku sambil memelukku.
“Lang, kalau lu mau balik, balik aja dlu lang, elsa
biar aku yang ngurus” kata evan.
“Enggak van, kita bareng saja nanti baliknya.” Jawab
galang
“Lu mau balik ketempat gue aja apa?” Tanya evan
“Gitu juga boleh van” singkat galang.
“Yaudah kita balik sekarang aja, udah malam ini, gak
baik diliat warga.” Saran evan
“iya bener van ayok.”
Disepanjang jalan pulang, aku tak bicara apapun, aku
hanya bisa diam dan netesin airmata, tak mengerti apa yang sedang rafa lakukan
padaku. Rafa membuatku semakin bingung. Evan mencoba menghibur tetapi sia*
saja.
Setelah sampai rumah sekitar pukul 11.30, aku
langsung menuju kedalam kamar, aku tak menghiraukan evan dan galang. Aku
berlari kekamar dan menangis sejadi-jadinya. Ponselku masih berdering. Setelah
ku buka pesannya, masih dari rafa. Ya tuhan, mau gimana lagi aku ini, apa
sebenarnya maunya rafa? Bukankah dia yang sudah bilang kalau dia bosan, tetapi
kenapa dia sampai sekarang masih mencariku? Masih memberi perhatian padaku
layaknya aku ini masih kekasihnya? Apa maksutnya tuhan? Terdengar evan
memanggilku dari balik pintu, tapi aku tak menggubrisnya. Evan dan galang
mencoba menghiburku melalui sms tetapi aku masih memikirkan rafa, oh apakah
yang rafa lakukan sampai membuatku merasa seperti ini?