
Kala itu disebuah bangku
panjang kosong yang menghadap ke hamparan air berwarna biru terpampang
pemandangan sangat indah didepanku. Selalu ada kelegaan setiap kali aku bisa berjumpa
dengan pantai. Dan aku selalu berharap setelah berjumpa dengan pantai, semua
masalah yang sedang menggelumutiku seakan mengalir terbawa arus. Lalu terserah
gelombang air akan membawanya kemana. Itu urusan mereka bukan lagi urusanku.
Dan itu kenapa sekarang aku meminta bayu membawaku ke pantai ini. Bayu adalah
adiknya kekasihku. Yogi kekasihku memang tak punya banyak waktu untukku. Dia
sering sibuk dengan kuliahnya diluar kota. Dulu sebelum yogi pindah keluar
kota, dia pernah bilang tak mau membiarkan aku dikota ini sendiri, apalagi
antara aku dan yogi sudah sering bareng dari 3 tahun belakangan ini. Namun apa
boleh buat, mau tidak mau, aku juga harus ikut mengiyakan apa apa yang sudah
menjadi kehendaknya, toh juga yang dia lakukan untuk keluarganya.
Selama yogi berada
diluar kota, bayu yang selalu membantu dan menemaniku. Yogi yang menyuruh bayu
untuk ngejagain aku. Sempat aku bilang ke yogi ini terlalu berlebihan , namun
semua ocehanku tak pernah dihiraukan yogi. Selalu saja dia mengirimkan bayu
untuk menemaniku selama yogi tak bisa melakukan hal itu kepadaku. Betapa tak
diduga-duga oleh yogi dan bahkan olehku juga, bahwa terlalu seringnya bayu menemaniku setiap hari, hal itu
melahirkan masalah yang terlalu runyam.
“Nay, aku mencintaimu”
kata bayu menatapku
Aku kaget mendengar
bayu berkata seperti ini kepadaku. Tak ada yang bisa aku lakukan waktu itu, aku
tercengang, aku selalu mengelak, apa yang barusan dikatakan bayu hanya bualan,
mungkin dia bercanda, mungkin dia hanya ingin membuatku tersenyum. Aku mematung
dan pura-pura tak mendengar ucapan bayu barusan.
“Nayla, aku
mencintaimu” ulangnya kembali.
“Nay, silahkan saja
kamu menamparku, mencaci makiku dan berkata kalau aku adalah adik yang tak tau
diri sudah lancang mencintai kekasih dari abangnya sendiri. Maafkan aku nay.”
Imbuhnya lagi
Aku hanya bisa
mematung, tak bisa berkata apa-apa. Sungguh ini diluar logika, bagaimana
mungkin ini semua bisa terjadi? Siapa yang harus disalahkan didalam cerita ini?
Siapa? Jeritku dalam hati.
“Bay, jangan bercanda.
Aku ini masih kekasih orang, aku kekasih abangmu sendiri.”
Aku berhenti menjawab,
hanya terdengar helaan napas panjang dan deru kepiluan yang tak karuan
mengudara semaunya.
“Aku tau nay, aku
ngerti ini hal gila. Lalu apa salah jika aku mencintaimu, aku yang tiap hari
selalu ada untukmu. Aku juga pria normal yang bisa merasakan jatuh cinta bila
keseharianku selalu diisi denganmu nay.”
“Seharusnya dari
pertama kamu mengerti bay, seharusnya kamu lebih bisa mengontrol hatimu dan
memperingatkan hatimu lebih dulu. Bahwa wanita yang kamu cintai ini adalah
kekasihmu abangmu sendiri.” Tangisku pecah
“Hey nay, jangan
menangis. Maafin aku nay, aku salah.” Ucapnya sembari merengkuh tubuhku kedalam
pelukannya.
Aku tersentak. Berani
sekali bayu melakukan hal ini kepadaku. Tak ada tangan pria lain yang berani
merengkuhku selain yogi dan papaku. Sekarang, bayu melakukan apa yang yogi
lakukan. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Aku berusaha melarikan diri dari
rengkuhan bayu namun apa daya, tenaga bayu cukup kuat untuk menahanku agar
tetap berada dipelukannya. Tak lama, tiba-tiba dering ponselku berbunyi. Segera
ku raih ponselku dan menjawab panggilan dari yogi yang tertera disana.
“Bee lagi dimana?”
Tanya yogi
“Aku lagi dipantai bee”
“Kamu kenapa bee, kok
suara kamu gini, kamu nangis?”
“Enggak apa-apa kok
bee, aku lagi flu aja ini bee”
“Flu sejak kapan, kok
enggak bilang aku sih”
“Cuman flu biasa aja
kok bee, masak perlu bilang sih”
“Dipantai sama siapa? Dianter
bayu kan?
Aku melirik ke arah bayu
yang sudah sedari tadi menyimpan segurat rasa takut untuk mengungkapkan semua
isi perasaannya. Laki-laki ini mirip dengan yogi. Bola matanya selalu
menghadirkan kesejukan tiap aku memandangnya. Apa salah ketika hati ini sudah lama
terisi tiba-tiba hati ini tersandung hati lain?
“Halo bee” suara yogi
membuyarkan lamunanku
“Iya bee aku ditemenin
bayu”
“Kasih bayu bee, aku
mau ngomong” segera ku kasih ponselku ke bayu
Entah apa yang sedang
dibicarakan bayu dengan yogi, kenapa harus bayu membawa ponselku menjauh
dariku. Apa bayu mau menceritakan semua perasaannya ke yogi? Lalu apa tanggapan
yogi? Tuhan, aku harus bagaimana? Andai aku bisa membawa pikiran manusia, maka
sudah dari dulu aku tak mau menerima bantuan bayu, jika pada akhirnya serumit
ini.
“Ini yogi mau ngomong
sama kamu” kata bayu sembari memberikan ponsel kepadaku
“Iya halo bee”
“Kamu hati-hati ya
disana, jangan kenapa-kenapa ya, jaga diri baik-baik bee, aku sayang kamu”
“Iya baik bee, akupun
juga sayang kamu”
Kumatikan teleponnya
dan kumasukan kembali ponselku kedalam tas. Ku lempar pandangan ke laut lepas
didepanku, hening, tak ada suara, hanya suara angin dan gelombang yang
gemericik merdu.
“Nay, maafkan aku. Aku
salah sudah mencintai kekasih abangku sendiri. Maafkan aku nay.” Suara bayu
membuka percakapan
“Bay, aku tak tahu
siapa sebenarnya yang mesti disalahkan didalam keadaan seperti ini, aku tak
marah kau mengungkapkan perasaanmu padaku bay, yang salah itu jika kamu
berusaha menghancurkan rasa cintaku ke abangmu. Yogi pria tangguh baik dan
bertanggung jawab seperti yang saya kenal. Apa tega kamu menghancurkan
kebahagiaan abangmu sendiri dengan egomu itu bay? Enggak kan? Maka bay, tolong
dengan sangat cukup saja kamu mencintaiku sebagai kakakmu, kamu baik, ganteng,
perhatian. Aku percaya diluar sana banyak wanita yang menunggu kedatanganmu. Samperin
dia, cintai dia seperti kamu mencintaiku.”
“Tapi nay, tak semudah
itu melakukan apa yang kamu mau”
“Bay, dimana ada niat
dan tindakan. Disana akan tumbuh usaha yang mulia. Berusahalah bay, demi kamu,
yogi dan aku.”
“Oke kalau memang itu
yang terbaik nay, aku coba” jawabnya dengan nada tak ikhlas.
Terkadang kita memang ditakdirkan untuk tidak dapat bersatu meskipun sebenarnya kita saling cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar