Aku percaya Takdir.

Selasa, 22 Juli 2014

Aku, Layaknya Sebuah Rumah


Dear Nona, kemarilah. Duduklah sebentar disampingku. Dengarkan sejenak ceritaku. Janganlah beranjak dari tempat dudukmu ketika aku belum selesai bercerita. Bersediakah kau? Ok langsung saja. Begini nona :
Dulu banget, aku pernah menjadi sebuah rumah. Rumah yang dimana dilengkapi dengan penghuni-penghuninya yang luarbiasa. Kami hidup rukun bahagia selalu kala itu. Tak hanya itu nona, aku seperti layaknya rumah yang selalu melindungi penghuniku dari panas dan dinginnya cuaca didunia ini. Timbal balik dari penghuniku juga sangat luar biasa sekali nona, mereka selalu membersihkanku, merawatku ketika aku kotor, kehujanan serta memperbaikiku ketika ada bagian dariku yang rusak. Indah bukan nona?
Tapi taukah kamu nona? Kebahagiaan semacam itu tak berlangsung lama. Pernah suatu ketika, penghuniku keluar rumah entah mencari apa aku tak tau. Yang aku tau mereka pasti pulang kerumah. Pulang kepadaku jadi aku mengijinkan mereka keluar meninggalkanku. Entah apa yang mereka temukan diluar sana hingga membuatnya jarang pulang, malah tak pernah pulang. Apakah mereka sudah bosen menempatiku? Apakah penghuni-penghuniku sudah menemukan rumah idaman mereka yang jauh lebih bagus dan semegah istana? Pernah mereka pulang, tapi mereka tak mencoba masuk kerumah, mereka hanya melihatku dari kejauhan. Dan lebih parahnya lagi nona, bisakah kau menebak? Mereka memameriku rumah idaman mereka yang semegah dan senyaman yang tak pernah kuberikan katanya. Kamu pasti paham perasaanku kala itu nona? Iya hancur remuk rontok.
Aku hanya diam saja nona, tak banyak yang dapat ku lakukan selain meiyakan mereka mulia keluar dari tempatku. Aku tak punya cukup daya dan tak punya atas mereka. Hingga suatu ketika aku sudah lelah menanti mereka pulang namun mereka tak kunjung pulang, Yang dapat kulakukan sekarang hanya menunggu mereka pulang. Aku tau nona,  kamu akan mengataiku kalau aku pengecut karena memilih tindakan bodoh seperti ini.
Hingga suatu ketika, mereka kembali mengunjungiku, hanya mengunjungiku nona, tak mau lagi menginap ditempatku. Mereka datang dengan rumah barunya, serta membawa masuk penghuni baru yang aku tak tau siapa dia. Lalu aku dikenalkan dengan penghuni baru yang nantinya dia mulai menyukai tempatku. Penghuni ini bilang kalau dia nyaman denganku. Dan aku sungguh ingin sekali menolak kedatangannya ditempatku. Karena dorongan dari penghuniku yang lama, akhirnya aku mengiyakan penghuni baru itu masuk dan menjadikanku rumah. Tapi sungguh, aku hanya menemaninya. Wahai nona, bisakah kau menyimpulkan ceritaku diatas tadi? Sebenarnya aku hanya ingin penghuni lamaku kembali pulang. Walaupun aku tak sebagus dan tak semegah rumah idaman yang mereka temukan, seenggaknya, akulah orang pertama tempatnya berteduh. Tapi sudahlah nona, aku tak mau memaksanya. Toh kalau mereka kembali pulang belum tentu keadaannya akan serukun dan bahagia seperti dulu, mesti ada cacatnya.
Tak usah pusing memahaminya nona, aku tak ingin kamu terlalu mencermatinya, aku hanya ingin kamu dengarkan, aku tak punya teman bicara sekarang. Terimakasih sudah mendengarkan nona. Kelak kalau kamu berjumpa dengan penghuni-penghuni lamaku, titip salam maaf dan kangenku padanya