Dear Nona, kemarilah.
Duduklah sebentar disampingku. Dengarkan sejenak ceritaku. Janganlah beranjak
dari tempat dudukmu ketika aku belum selesai bercerita. Bersediakah kau? Ok
langsung saja. Begini nona :
Dulu banget, aku pernah
menjadi sebuah rumah. Rumah yang dimana dilengkapi dengan penghuni-penghuninya
yang luarbiasa. Kami hidup rukun bahagia selalu kala itu. Tak hanya itu nona, aku
seperti layaknya rumah yang selalu melindungi penghuniku dari panas dan
dinginnya cuaca didunia ini. Timbal balik dari penghuniku juga sangat luar
biasa sekali nona, mereka selalu membersihkanku, merawatku ketika aku kotor,
kehujanan serta memperbaikiku ketika ada bagian dariku yang rusak. Indah bukan
nona?
Tapi taukah kamu nona?
Kebahagiaan semacam itu tak berlangsung lama. Pernah suatu ketika, penghuniku
keluar rumah entah mencari apa aku tak tau. Yang aku tau mereka pasti pulang
kerumah. Pulang kepadaku jadi aku mengijinkan mereka keluar meninggalkanku. Entah
apa yang mereka temukan diluar sana hingga membuatnya jarang pulang, malah tak
pernah pulang. Apakah mereka sudah bosen menempatiku? Apakah penghuni-penghuniku
sudah menemukan rumah idaman mereka yang jauh lebih bagus dan semegah istana? Pernah
mereka pulang, tapi mereka tak mencoba masuk kerumah, mereka hanya melihatku
dari kejauhan. Dan lebih parahnya lagi nona, bisakah kau menebak? Mereka
memameriku rumah idaman mereka yang semegah dan senyaman yang tak pernah
kuberikan katanya. Kamu pasti paham perasaanku kala itu nona? Iya hancur remuk
rontok.
Aku hanya diam saja
nona, tak banyak yang dapat ku lakukan selain meiyakan mereka mulia keluar dari
tempatku. Aku tak punya cukup daya dan tak punya atas mereka. Hingga suatu
ketika aku sudah lelah menanti mereka pulang namun mereka tak kunjung pulang,
Yang dapat kulakukan sekarang hanya menunggu mereka pulang. Aku tau nona, kamu akan mengataiku kalau aku pengecut karena
memilih tindakan bodoh seperti ini.
Hingga suatu ketika,
mereka kembali mengunjungiku, hanya mengunjungiku nona, tak mau lagi menginap
ditempatku. Mereka datang dengan rumah barunya, serta membawa masuk penghuni
baru yang aku tak tau siapa dia. Lalu aku dikenalkan dengan penghuni baru yang
nantinya dia mulai menyukai tempatku. Penghuni ini bilang kalau dia nyaman
denganku. Dan aku sungguh ingin sekali menolak kedatangannya ditempatku. Karena
dorongan dari penghuniku yang lama, akhirnya aku mengiyakan penghuni baru itu
masuk dan menjadikanku rumah. Tapi sungguh, aku hanya menemaninya. Wahai nona,
bisakah kau menyimpulkan ceritaku diatas tadi? Sebenarnya aku hanya ingin
penghuni lamaku kembali pulang. Walaupun aku tak sebagus dan tak semegah rumah
idaman yang mereka temukan, seenggaknya, akulah orang pertama tempatnya
berteduh. Tapi sudahlah nona, aku tak mau memaksanya. Toh kalau mereka kembali
pulang belum tentu keadaannya akan serukun dan bahagia seperti dulu, mesti ada
cacatnya.
Tak usah pusing
memahaminya nona, aku tak ingin kamu terlalu mencermatinya, aku hanya ingin
kamu dengarkan, aku tak punya teman bicara sekarang. Terimakasih sudah
mendengarkan nona. Kelak kalau kamu berjumpa dengan penghuni-penghuni lamaku,
titip salam maaf dan kangenku padanya




