Aku percaya Takdir.

Selasa, 22 Juli 2014

Aku, Layaknya Sebuah Rumah


Dear Nona, kemarilah. Duduklah sebentar disampingku. Dengarkan sejenak ceritaku. Janganlah beranjak dari tempat dudukmu ketika aku belum selesai bercerita. Bersediakah kau? Ok langsung saja. Begini nona :
Dulu banget, aku pernah menjadi sebuah rumah. Rumah yang dimana dilengkapi dengan penghuni-penghuninya yang luarbiasa. Kami hidup rukun bahagia selalu kala itu. Tak hanya itu nona, aku seperti layaknya rumah yang selalu melindungi penghuniku dari panas dan dinginnya cuaca didunia ini. Timbal balik dari penghuniku juga sangat luar biasa sekali nona, mereka selalu membersihkanku, merawatku ketika aku kotor, kehujanan serta memperbaikiku ketika ada bagian dariku yang rusak. Indah bukan nona?
Tapi taukah kamu nona? Kebahagiaan semacam itu tak berlangsung lama. Pernah suatu ketika, penghuniku keluar rumah entah mencari apa aku tak tau. Yang aku tau mereka pasti pulang kerumah. Pulang kepadaku jadi aku mengijinkan mereka keluar meninggalkanku. Entah apa yang mereka temukan diluar sana hingga membuatnya jarang pulang, malah tak pernah pulang. Apakah mereka sudah bosen menempatiku? Apakah penghuni-penghuniku sudah menemukan rumah idaman mereka yang jauh lebih bagus dan semegah istana? Pernah mereka pulang, tapi mereka tak mencoba masuk kerumah, mereka hanya melihatku dari kejauhan. Dan lebih parahnya lagi nona, bisakah kau menebak? Mereka memameriku rumah idaman mereka yang semegah dan senyaman yang tak pernah kuberikan katanya. Kamu pasti paham perasaanku kala itu nona? Iya hancur remuk rontok.
Aku hanya diam saja nona, tak banyak yang dapat ku lakukan selain meiyakan mereka mulia keluar dari tempatku. Aku tak punya cukup daya dan tak punya atas mereka. Hingga suatu ketika aku sudah lelah menanti mereka pulang namun mereka tak kunjung pulang, Yang dapat kulakukan sekarang hanya menunggu mereka pulang. Aku tau nona,  kamu akan mengataiku kalau aku pengecut karena memilih tindakan bodoh seperti ini.
Hingga suatu ketika, mereka kembali mengunjungiku, hanya mengunjungiku nona, tak mau lagi menginap ditempatku. Mereka datang dengan rumah barunya, serta membawa masuk penghuni baru yang aku tak tau siapa dia. Lalu aku dikenalkan dengan penghuni baru yang nantinya dia mulai menyukai tempatku. Penghuni ini bilang kalau dia nyaman denganku. Dan aku sungguh ingin sekali menolak kedatangannya ditempatku. Karena dorongan dari penghuniku yang lama, akhirnya aku mengiyakan penghuni baru itu masuk dan menjadikanku rumah. Tapi sungguh, aku hanya menemaninya. Wahai nona, bisakah kau menyimpulkan ceritaku diatas tadi? Sebenarnya aku hanya ingin penghuni lamaku kembali pulang. Walaupun aku tak sebagus dan tak semegah rumah idaman yang mereka temukan, seenggaknya, akulah orang pertama tempatnya berteduh. Tapi sudahlah nona, aku tak mau memaksanya. Toh kalau mereka kembali pulang belum tentu keadaannya akan serukun dan bahagia seperti dulu, mesti ada cacatnya.
Tak usah pusing memahaminya nona, aku tak ingin kamu terlalu mencermatinya, aku hanya ingin kamu dengarkan, aku tak punya teman bicara sekarang. Terimakasih sudah mendengarkan nona. Kelak kalau kamu berjumpa dengan penghuni-penghuni lamaku, titip salam maaf dan kangenku padanya

Jumat, 20 Juni 2014

Terjebak di dua hati




Kala itu disebuah bangku panjang kosong yang menghadap ke hamparan air berwarna biru terpampang pemandangan sangat indah didepanku. Selalu ada kelegaan setiap kali aku bisa berjumpa dengan pantai. Dan aku selalu berharap setelah berjumpa dengan pantai, semua masalah yang sedang menggelumutiku seakan mengalir terbawa arus. Lalu terserah gelombang air akan membawanya kemana. Itu urusan mereka bukan lagi urusanku. Dan itu kenapa sekarang aku meminta bayu membawaku ke pantai ini. Bayu adalah adiknya kekasihku. Yogi kekasihku memang tak punya banyak waktu untukku. Dia sering sibuk dengan kuliahnya diluar kota. Dulu sebelum yogi pindah keluar kota, dia pernah bilang tak mau membiarkan aku dikota ini sendiri, apalagi antara aku dan yogi sudah sering bareng dari 3 tahun belakangan ini. Namun apa boleh buat, mau tidak mau, aku juga harus ikut mengiyakan apa apa yang sudah menjadi kehendaknya, toh juga yang dia lakukan untuk keluarganya.
Selama yogi berada diluar kota, bayu yang selalu membantu dan menemaniku. Yogi yang menyuruh bayu untuk ngejagain aku. Sempat aku bilang ke yogi ini terlalu berlebihan , namun semua ocehanku tak pernah dihiraukan yogi. Selalu saja dia mengirimkan bayu untuk menemaniku selama yogi tak bisa melakukan hal itu kepadaku. Betapa tak diduga-duga oleh yogi dan bahkan olehku juga, bahwa terlalu seringnya  bayu menemaniku setiap hari, hal itu melahirkan masalah yang terlalu runyam.
“Nay, aku mencintaimu” kata bayu menatapku
Aku kaget mendengar bayu berkata seperti ini kepadaku. Tak ada yang bisa aku lakukan waktu itu, aku tercengang, aku selalu mengelak, apa yang barusan dikatakan bayu hanya bualan, mungkin dia bercanda, mungkin dia hanya ingin membuatku tersenyum. Aku mematung dan pura-pura tak mendengar ucapan bayu barusan.
“Nayla, aku mencintaimu” ulangnya kembali.
“Nay, silahkan saja kamu menamparku, mencaci makiku dan berkata kalau aku adalah adik yang tak tau diri sudah lancang mencintai kekasih dari abangnya sendiri. Maafkan aku nay.” Imbuhnya lagi
Aku hanya bisa mematung, tak bisa berkata apa-apa. Sungguh ini diluar logika, bagaimana mungkin ini semua bisa terjadi? Siapa yang harus disalahkan didalam cerita ini? Siapa? Jeritku dalam hati.
“Bay, jangan bercanda. Aku ini masih kekasih orang, aku kekasih abangmu sendiri.”
Aku berhenti menjawab, hanya terdengar helaan napas panjang dan deru kepiluan yang tak karuan mengudara semaunya.
“Aku tau nay, aku ngerti ini hal gila. Lalu apa salah jika aku mencintaimu, aku yang tiap hari selalu ada untukmu. Aku juga pria normal yang bisa merasakan jatuh cinta bila keseharianku selalu diisi denganmu nay.”
“Seharusnya dari pertama kamu mengerti bay, seharusnya kamu lebih bisa mengontrol hatimu dan memperingatkan hatimu lebih dulu. Bahwa wanita yang kamu cintai ini adalah kekasihmu abangmu sendiri.” Tangisku pecah
“Hey nay, jangan menangis. Maafin aku nay, aku salah.” Ucapnya sembari merengkuh tubuhku kedalam pelukannya.
Aku tersentak. Berani sekali bayu melakukan hal ini kepadaku. Tak ada tangan pria lain yang berani merengkuhku selain yogi dan papaku. Sekarang, bayu melakukan apa yang yogi lakukan. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Aku berusaha melarikan diri dari rengkuhan bayu namun apa daya, tenaga bayu cukup kuat untuk menahanku agar tetap berada dipelukannya. Tak lama, tiba-tiba dering ponselku berbunyi. Segera ku raih ponselku dan menjawab panggilan dari yogi yang tertera disana.
“Bee lagi dimana?” Tanya yogi
“Aku lagi dipantai bee”
“Kamu kenapa bee, kok suara kamu gini, kamu nangis?”
“Enggak apa-apa kok bee, aku lagi flu aja ini bee”
“Flu sejak kapan, kok enggak bilang aku sih”
“Cuman flu biasa aja kok bee, masak perlu bilang sih”
“Dipantai sama siapa? Dianter bayu kan?
Aku melirik ke arah bayu yang sudah sedari tadi menyimpan segurat rasa takut untuk mengungkapkan semua isi perasaannya. Laki-laki ini mirip dengan yogi. Bola matanya selalu menghadirkan kesejukan tiap aku memandangnya. Apa salah ketika hati ini sudah lama terisi tiba-tiba hati ini tersandung hati lain?
“Halo bee” suara yogi membuyarkan lamunanku
“Iya bee aku ditemenin bayu”
“Kasih bayu bee, aku mau ngomong” segera ku kasih ponselku ke bayu
Entah apa yang sedang dibicarakan bayu dengan yogi, kenapa harus bayu membawa ponselku menjauh dariku. Apa bayu mau menceritakan semua perasaannya ke yogi? Lalu apa tanggapan yogi? Tuhan, aku harus bagaimana? Andai aku bisa membawa pikiran manusia, maka sudah dari dulu aku tak mau menerima bantuan bayu, jika pada akhirnya serumit ini.
“Ini yogi mau ngomong sama kamu” kata bayu sembari memberikan ponsel kepadaku
“Iya halo bee”
“Kamu hati-hati ya disana, jangan kenapa-kenapa ya, jaga diri baik-baik bee, aku sayang kamu”
“Iya baik bee, akupun juga sayang kamu”
Kumatikan teleponnya dan kumasukan kembali ponselku kedalam tas. Ku lempar pandangan ke laut lepas didepanku, hening, tak ada suara, hanya suara angin dan gelombang yang gemericik merdu.
“Nay, maafkan aku. Aku salah sudah mencintai kekasih abangku sendiri. Maafkan aku nay.” Suara bayu membuka percakapan
“Bay, aku tak tahu siapa sebenarnya yang mesti disalahkan didalam keadaan seperti ini, aku tak marah kau mengungkapkan perasaanmu padaku bay, yang salah itu jika kamu berusaha menghancurkan rasa cintaku ke abangmu. Yogi pria tangguh baik dan bertanggung jawab seperti yang saya kenal. Apa tega kamu menghancurkan kebahagiaan abangmu sendiri dengan egomu itu bay? Enggak kan? Maka bay, tolong dengan sangat cukup saja kamu mencintaiku sebagai kakakmu, kamu baik, ganteng, perhatian. Aku percaya diluar sana banyak wanita yang menunggu kedatanganmu. Samperin dia, cintai dia seperti kamu mencintaiku.”
“Tapi nay, tak semudah itu melakukan apa yang kamu mau”
“Bay, dimana ada niat dan tindakan. Disana akan tumbuh usaha yang mulia. Berusahalah bay, demi kamu, yogi dan aku.”
“Oke kalau memang itu yang terbaik nay, aku coba” jawabnya dengan nada tak ikhlas.
Terkadang kita memang ditakdirkan untuk tidak dapat bersatu meskipun sebenarnya kita saling cinta.




Minggu, 27 April 2014

Tak perlu berandai-andai membayangkan sesuatu yang masih tak bisa terjamah. Jika memang itu dirasa benar olehmu. Silahkan lanjutkan dan pergilah. Aku tak pernah melarangmu untuk hal itu.

Kamis, 17 April 2014

Dulu, ketika aku masih mencintaimu


Sayup sayup terdengar suara angin berhembus dari jendela kamarku, hanya suara dentang jam yang terdengar jelas, tak lagi ada suaramu ketika malam mulai menghampiri. Entahlah, sedang dimana keberadaanmu sekarang. Jangankan sosok dirimu, suaramu saja sudah tak lagi ku dapati. Apakah tak pernah kamu rasakan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seseorang yang selalu ada buatmu? Tak pernahkah kamu pikirkan hal itu? Tak ingatkah kamu dulu, dulu ketika kekasihmu yang sangat kamu agung-agungkan tiba-tiba mengkhianatimu dan meninggalkanmu sendiri diangkringan dan pergi dengan kekasihnya yang baru? Tak ingatkah kamu bagaimana hatimu kala itu? Tak ingatkah kamu, siapa orang yang rela kehujanan menghampirimu ke angkringan kala itu? Jika dirimu sudah tak ingat lagi, tak usah kamu mengingatnya dengan terlalu, karena aku tak pernah memaksamu untuk mengingatnya. Aku masih sabar untuk menunggumu mengingatnya. Aku percaya suatu saat nanti, entah kapan, kamu bisa mengingat kembali bagaimana rasanya ditinggal pergi dan dikhianati oleh orang yang kamu anggap penting. Semoga ketika suatu saat nanti kamu kembali mengingat dan menyadari peristiwa tersebut, aku masih duduk dibibir pantai ini bersamamu. Tidakkah kamu tahu, aku sudah tak punya banyak waktu lagi menemanimu duduk dibibir pantai seperti saat ini, maaf bukannya aku lancang mendahului kehendak Tuhan. Tapi akan lebih baik kalau aku menyiapkan semua ini dari awal. Benar begitu bukan?
Terhitung sejak dokter menvonis bahwa aku positif menderita penyakit kanker otak stadium akhir. Sejak saat itu aku merasa tak ingin lagi memperjuangkan rasa cintaku padamu yang tak kunjung kamu rasakan sampai saat ini. Aku merasa tak pantas mendampingimu, aku merasa tak mau menyusahkan dirimu jika aku bersamamu. Kucoba untuk membunuh rasa yang ada, rasa yang dulu menggebu-gebu minta ingin kamu rasakan. Namun sampai saat ini, detik inipun tak kunjung terwujud. Dulu memang aku pernah punya niat ingin menghilang darimu tapi hatiku berontak tak karuan mendengar ide konyol tersebut. Dan hal itu tak pernah bisa aku lakukan. Namun sekarang? Lihatlah. Kamu tiba-tiba menghilang dariku, sudah sebulan lebih kamu tak ada kabar, tak bisa dihubungi. Tidakkah hatimu sedikit iba melihatku seperti ini? Inikah balasan dari semua yang sudah aku lakukan kepadamu selama ini? Selama kekasihmu mengkhianatimu? Yang merawatmu ketika kamu sakit? Ketika kamu butuh teman curhat dan segalanya? Siapa yang selalu ada buatmu? Siapa? Duhai pria bermata sipit dan berpipi lesung, kenapa tega kamu membiarkanku melawan penyakit ini sendirian? Kenapa teganya kamu menghempaskanku dan memilih bersembunyi ditempat yang tak pernah bisa kujamah? Malukah dirimu mempunyai teman berpenyakit kanker seperti aku ini? Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu sangat bangga memiliki teman sepertiku. Bukankah mulutmu sendiri yang mengatakan kalau hanya aku satu-satunya wanita yang bisa mengerti maunya hatimu selain ibumu.
Alvin, bukankah kamu selalu berkata kalau tiba-tiba penyakitku lagi kumat-kumatnya kamu mau selalu disampingku, kamu mau mengelus lembut kepalaku sampai aku tertidur dan tak merasa sakit lagi, dan ketika ku jawab kalau aku wanita kuat dan aku tak akan pernah merasakan sakit yang sering kau sebut itu lalu dengan lantang kamu menjawab kalau kumatnya sakit kanker itu sakitnya berlipat-lipat, dan aku hanya bisa membungkam mendengar nada suaramu mulai meninggi. Namun memang benar katamu, saat ini aku sedang merasakannya, sungguh sakitnya keterlaluan. Vin, aku sedang kumat seperti ini, katanya kamu mau menemaniku meredam rasa sakit ini tapi sekarang mana vin? Jangankan sosok dirimu disampingku, suara dan kabarmu saja tak ku dengar. Kalau memang bahagiamu itu dengan meninggalkanku, tak apa vin, aku tak marah. Aku juga tak pernah punya hak atas dirimu. Pergilah semaumu vin, maafkan diriku kalau nanti tiba-tiba kamu datang dan mencariku lagi tetapi aku sudah tertidur disamping makam ayah dan abangku. Maafkan diriku jika aku tak bisa merawatmu lagi saat kamu sakit, tak bisa mendengarkan ceritamu lagi, tak bisa selalu ada buatmu lagi. Terimakasih vin, sudah menjadi sosok pria yang menemaniku selama ini, walau hanya sekedar teman, aku sudah sangat beruntung. Bahagialah vin, aku hanya ingin melihatmu bahagia dari atas sana nanti.
Aku mencintaimu Alvin.


Wanita yang menggilaimu

Soya





#fiksi

Selasa, 08 April 2014

Kepada hati yang tak tau diri


Maafkan hatiku yang sudah lancang merindukan dirimu, ah tidak, maksutku aku merindukan hatimu. Maafkanlah. Aku tak tau harus bagaimana. Tapi tenang saja, aku hanya merindukanmu, tak berusaha untuk mengusik semua keadaanmu yang sudah baik-baik saja, tak akan. Aku bukan tipe wanita yang ingin merusak hubungan orang lain, aku hanya ingin mengutarakan segala yang kurasa dalam bentuk tulisan ini, dan aku yakin kamupun tak akan sempat membaca tulisan jelekku ini, dan aku juga tak berharap kamu membacanya karena kalau sampai kamu membacanya mungkin aku akan tutup muka atau memalingkan wajahku ketika bertemu denganmu. Kalaupun kamu sempat membaca tulisan ini mungkin kamu akan tertawa terbahak-bahak mendapati diriku yang bisa dikatakan belum sepenuhnya buang rasa. Oh ya, aku memang tak berusaha untuk membuang semua rasa yang sudah pernah tercipta, aku hanya ingin menyempitkan rasa tersebut tanpa harus mengurangi rasa itu sendiri. Jadi tak usah kuatir aku akan mengusik kehidupanmu, akan kupastikan hal tersebut tak akan terjadi. Kamu mau tau apa alasannya? Iya karena aku adalah salah satu seseorang yang sangat mendamba hubungan kalian, aku kagum, aku senang melihat hubungan kalian berdua, tak tau kenapa, tapi itu benar adanya. Kalian sangatlah cocok.
Gejolak yang saat ini sedang aku rasakan memang seharusnya tak boleh seperti ini, tak seharusnya aku merindukan seseorang yang sudah menjadi milik orang lain, tak sepantasnya hal ini terjadi pada hatiku. Beribu kali ku coba untuk tak merasakan hal seperti ini namun entahlah. Ini sudah yang kesekian kalinya aku sibuk berdialog dengan hatiku sendiri, aku lelah menciptakan asumsi-asumsi yang tak pasti seperti ini. Entah sampai kapan aku akan selalu seperti ini. Proses. Iya benar, ini semua masih dalam kategori proses. Biarkan saja sekarang ini hatiku berimajinasi, berasumsi, bergelak sesukanya, sampai tiba saatnya nanti waktu yang meleburkan, mencairkan segala sesuatunya menjadi jauh lebih baik dan tenang dari sekarang, aku mungkin cukup lebih bersabar dan menikmati proses seperti ini yang mungkin nanti tak kurasakan lagi. Tak perlu aku mencari pasangan baru untuk mengobati semua luka-luka yang sudah menganga lebar dihati. Tak perlu. Jangan pernah beranggapan kalau setelah putus cinta lalu dapat pasangan baru kita akan merasa luka lama sudah hilang, atau kita akan merasa menang dari mantan-mantan yang sudah menyakiti hati kita. Justru itu akan memperlihatkan betapa tak kuatnya diri kita ketika ditinggalkan. Janganlah bertindak seperti anak kecil. Memilih sendiri dengan menata hati dan membangun kembali mimpi-mimpi yang dulu sempat tersingkirkan itu jauh lebih baik.

Wanita yang hatinya tak tau diri. 

Senin, 24 Maret 2014

Dia siapa dan aku siapa? part II


Lanjutan dari cerita sebelumnya :)

Keesokan harinya mentari pagi diujung timur sudah mulai menyinari sebagian kamarku. Aku agak malas buat bangun pagi-pagi seperti ini, rasanya tak ingin terbangun untuk hari ini saja. Tapi apa boleh buat, semakin aku mengelak semakin nyata pula kenyataan yang harus aku hadapi hari ini. Ponselku berdering, nomor yang semalam menelfonku kembali tertera diponselku, ada ragu dalam benakku untuk tak mengangkatnya. Tapi rasa kasianku sungguh besar apabila aku tak menjawab telepon dari bayu, aku tak mau bayu mikir yang enggak-enggak. Aku harus ikut senang melihat bayu senang.

“Selamat pagi elsa” suara lirih bayu. Aku senang mendengarnya bila bayu bisa kembali seperti dulu, sebelum seminggu yang lalu. Setiap pagi, setiap menit bahkan tiap detik  bayu selalu bersamaku.
“Pagi juga bay” jawabku
“Aku udah nepati janjiku kan el? Aku gak ngilang-ngilang lagi kayak kemarin-kemarin.” Ungkapnya.
“Hahaha iya bay bisa aja kamu tuh”
“Baru bangun kamu el?”
“Iya bay baru bangun, kamu jadi pulang hari ini?”
“Iya el, jdi dong. Aku udah kangen sama idungmu yang pesek. Bawaannya pengen cepet-cepet ketemu idungmu.”
“Oh jadi gitu, lebih kangen sama idungnya ketimbang sama orangnya.”
“hiihh ngambek, jelek ah ngambek gitu”
“Biarin lah, yang dibahas hidung mulu. Kamu belum sarapan kan?”
“Kok kamu tau el?”
“Iya tau lah, kan biasanya kamu kalau sarapan disatuin sama makan siang, maklum anak kost”
“Hahaha dasar pisek, yaudah aku tak mandi dulu ya nanti sore jam 4 aku jemput dirumah ya, harus sudah siap ya, dandan yang cantik ya.”
“ngapain aku harus dandan buat kamu, ogah ah. Udah dulu ya bay, aku dipanggil mama, gak enak daritadi aku belum bangun. See you”
“Iya sek pesek”

Setelah mematikan telepon, perasaanku jauh lebih tenang ketimbang sebelumnya. Aku hampir tak sadar bahwasannya bayu balik ke kudus hanya ingin bercerita tentang wanita yang didambanya, wanita udah berhasil merebut perhatiannya, bukan merebut sih seharusnya, mengambil lebih tepatnya. Wanita yang udah berhasil juga mengambil hati bayu.

Pukul 4 sore, aku sudah menyiapkan segala sesuatu. Aku tinggal menunggu bayu menjemputku. Sembari menunggu bayu menjemputku, aku berulang kali menengok jam dinding yang tertempel rapi didekat poster fotoku bersama bayu dan kedua adikku. Sudah jam 4.15 menit, dan bayu tak kunjung datang. Kucoba menghubunginya tapi tak ada respon. Yasudah ku tunggu dia 10menit lagi. Setelah lama menunggu bayu yang tak kunjung datang, aku bergegas berangkat sendiri ke kedai. Lalu sebelum aku bergegas meninggalkan rumah, ku kirim sms ke bayu
Bay, aku langsung ke kedai saja ya, aku tunggu kamu disana. Iya terkirim.

Di kedai, lagi-lagi aku disambut oleh waiters-waiters kedai yang sangat ramah tamah ini, kedai sore ini agak sepi, mungkin nanti menjelang maghrib baru mulai banyak pengunjung yang datang. Suasana kayak begini yang sebenarnya aku inginkan. Tak terlalu rame. Kembali ku pesan kopi panas ditambah gula sedikit. Kupilih tempat duduk yang biasanya aku sama bayu tempati setiap kali berkunjung kesini. Ponselku berdering, pesan baru dari bayu : El, kamu dimana? Aku udah dirumahmu. Malah kamu ke kedai duluan. Yaudah aku langsung kesana. Tungguin ya. Lega sekali rasanya membaca pesannya tadi. mengingat sebentar lagi aku bertemu dan berbincang-bincang kembali bersama bayu, rasanya udah lama sekali aku tak mnghabiskan waktu bareng dia. Padahal hanya seminggu saja bayu ngilang dan tak ada kabar, berasa sudah sebulan tak bertemu dengannya. Ah aku berlebihan. Terlintas kembali dikepalaku tentang apa yang ingin dikatakan dan diceritakan bayu padaku nanti. Dia menemuiku hanya ingin menceritakan bahwa dia telah jatuh hati kepada wanita lain, aku meyakinkan diriku untuk tetap tegar mendengar semua cerita bayu dan merespon baik semua cerita bayu nanti. Bayu hanyaa mengganggapku sebagai sahabat kecilnya, sering dia berkata dia mengganggapku sebagai adiknya. Hatiku berontak tiap kali bayu mengganggapku sebagai adiknya, aku ingin lebih dari sekedar adik tapi aku bisa apa kalau bayu tak mempunyai perasaan yang sama denganku?

“Aku melempar pandangan kearah pintu masuk, terlihat sosok pria yang taka sing lagi buatku, pria ini jauh lebih keren dari sebelumnya, pria ini terlihat berwibawa ketimbang biasanya. Iya bayu. Hari ini bayu terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Aku terkejut melihat perubahan bayu yang begitu drastis. Lantas timbul pertanyaan dibenakku siapakah yang sudah membuat bayu berubah begini? Wanita yang ingin diceritakannya nanti kah?
“Hay el, aku mencarimu kerumah tadi” sapanya ketika memasuki pintu masuk.
“Sory bay, aku tadi sudah menunggumu lama, yaudah aku mutusin kesini sendiri” jawabku singkat.

Sebentar, siapa wanita yang sedang jalan disamping bayu? Wanita yang tak pernah aku lihat sebelumnya, wanita yang tak aku kenali. Terlihat tangan bayu menggandeng wanita tersebut, bayu menawarinya aneka menu kopi yang ingin dipesannya. Persis seperti pertama kali bayu memperlakukanku ketika mengunjungi kedai ini. Apa mungkin itu wanita yang mau diceritakannya padaku? aduh kenapa hatiku rasanya ingin berontak, tapi aku tak punya hak untuk melakukan hal tersebut. Bayu dan wanita itu mendekatiku, aku mencoba untuk menahan semua itu, aku harus Nampak baik-baik saja. Harus.

“El kamu ngeselin banget sih dicariin dari tadi dirumah gak ada taunya udah disini” katanya sambil mengacak-ngacak rambutku.
“Hahaha (ketawa yang kupaksakan) iya map bay” jawabku
“Oh ya el, kenalin nih temanku, namanya citra.”
“Aku elsa” kataku sambil mengulurkan tanganku.
“Aku citra” jawabnya sambil membalas uluran tanganku.
“Oh ya cit, ini elsa. Sahabat tersayangku sejak kecil, dia yang selama ini ada buatku. 

Yang sering aku ceritakan padamu itu. Dia ini udah kek adekku sendiri” ungkapnya dengan merangkul lenganku.
Rasanya aku ingin menjerit, ingin berontak, ketika bayu melontarkan kata-kata tadi, bagian terakhir dari kalimatnya tadi begini “Dia udah kek adekku sendiri” sudah kuduga kalau bayu hanya menganggapku seperti ini, dia hanya menggangpku sebagai sahabatnya, sebagai adeknya. Aku benar-benar tak karuan saat ini. Aku tak bisa berkata apa-apa, rasanya aku ingin pergi dari hadapan mereka berdua.

“el, ini citra yang mau aku ceritakan ke kamu” bayu berkata
“Eh ini bay yang katanya bisa membuat kamu jatuh hati. Ciye bayu” kataku mencoba biasa saja. Telihat citra Nampak tersipu malu-malu mendengar ucapanku tadi, bayu juga Nampak salah tingkah. Ah beneran. Bayu memang sudah menambatkan hatinya ke citra.

“kamu bisa aja el” jawab bayu malu-malu.
“menurutmu gimana aku sama citra? Cocok gak?” katanya
“Emmm cocok kok kalau kamunya cocok cocok saja” jawabku sedikit berbohong.
“Citra itu orangnya cantik kan el? Dia ini pintar banget lho el, gak kayak kamu bisanya galau terus………………” ungkap bayu. Aku mencoba tak mendengarkan apa yang diungkapkan sama bayu, aku merasa muak. Bayu selalu mengunggul-unggulkan kekasih barunya, selalu membeda-bedakanku. Merasa kalau kekasihnya adalah seseorang yang benar-benar sempurna dimatanya. Aku sedikit kecewa denganmu bayu, seharusnya bayu tak bertingkah seperti ini. Seharusnya dia ingat, bukan kekasihnya yang selalu menemaninya selama ini, tapi aku yang selalu ada buatnya dalam keadaan apapun. Ok malam ini kamu bercerita banyak tentang keunggulan kekasihmu tanpa menyadari betapa mirisnya hatiku mendengarnya. Malam ini kamu sudah memberikanku kejutan yang tak aku sangka-sangka sebelumnya. Terima kasih kejutannya bay, kamu berhasil membuatku terkejut dan menitihkan airmata setelah pertemuan kita kali ini selama seminggu kamu ngilang dan tak kasih kabar ke aku dan tiba-tiba kamu datang kejutan yang benar-benar mengejutkan. Tak ada yang aku bisa lakukan selain berbahagialah dengan kekasihmu bay, tak usah memikirkanku, lama kelamaan kamu pasti akan sedikit menggantikan posisiku dengan kekasih barumu itu. Dan kembalilah jika suatu saat wanitamu tak bisa seperti apa yang kamu harapkan. Kembalilah sebelum aku yang tak akan benar-benar menerimamu kembali. Jangan sampai terlambat bay. Ingat akulah seseorang yang selalu ada buat kamu sejak dulu, aku yang menemani hari-harimu selama ini, dan sekarang dengan mudahnya kamu mau menggeser posisiku. Tak apa bay, selama itu bisa membuatmu bahagia. Tak usah kau hiraukan diriku.

Tertanda.

Aku, yang selalu kau anggap sahabat/adekmu.