Aku percaya Takdir.

Kamis, 17 April 2014

Dulu, ketika aku masih mencintaimu


Sayup sayup terdengar suara angin berhembus dari jendela kamarku, hanya suara dentang jam yang terdengar jelas, tak lagi ada suaramu ketika malam mulai menghampiri. Entahlah, sedang dimana keberadaanmu sekarang. Jangankan sosok dirimu, suaramu saja sudah tak lagi ku dapati. Apakah tak pernah kamu rasakan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seseorang yang selalu ada buatmu? Tak pernahkah kamu pikirkan hal itu? Tak ingatkah kamu dulu, dulu ketika kekasihmu yang sangat kamu agung-agungkan tiba-tiba mengkhianatimu dan meninggalkanmu sendiri diangkringan dan pergi dengan kekasihnya yang baru? Tak ingatkah kamu bagaimana hatimu kala itu? Tak ingatkah kamu, siapa orang yang rela kehujanan menghampirimu ke angkringan kala itu? Jika dirimu sudah tak ingat lagi, tak usah kamu mengingatnya dengan terlalu, karena aku tak pernah memaksamu untuk mengingatnya. Aku masih sabar untuk menunggumu mengingatnya. Aku percaya suatu saat nanti, entah kapan, kamu bisa mengingat kembali bagaimana rasanya ditinggal pergi dan dikhianati oleh orang yang kamu anggap penting. Semoga ketika suatu saat nanti kamu kembali mengingat dan menyadari peristiwa tersebut, aku masih duduk dibibir pantai ini bersamamu. Tidakkah kamu tahu, aku sudah tak punya banyak waktu lagi menemanimu duduk dibibir pantai seperti saat ini, maaf bukannya aku lancang mendahului kehendak Tuhan. Tapi akan lebih baik kalau aku menyiapkan semua ini dari awal. Benar begitu bukan?
Terhitung sejak dokter menvonis bahwa aku positif menderita penyakit kanker otak stadium akhir. Sejak saat itu aku merasa tak ingin lagi memperjuangkan rasa cintaku padamu yang tak kunjung kamu rasakan sampai saat ini. Aku merasa tak pantas mendampingimu, aku merasa tak mau menyusahkan dirimu jika aku bersamamu. Kucoba untuk membunuh rasa yang ada, rasa yang dulu menggebu-gebu minta ingin kamu rasakan. Namun sampai saat ini, detik inipun tak kunjung terwujud. Dulu memang aku pernah punya niat ingin menghilang darimu tapi hatiku berontak tak karuan mendengar ide konyol tersebut. Dan hal itu tak pernah bisa aku lakukan. Namun sekarang? Lihatlah. Kamu tiba-tiba menghilang dariku, sudah sebulan lebih kamu tak ada kabar, tak bisa dihubungi. Tidakkah hatimu sedikit iba melihatku seperti ini? Inikah balasan dari semua yang sudah aku lakukan kepadamu selama ini? Selama kekasihmu mengkhianatimu? Yang merawatmu ketika kamu sakit? Ketika kamu butuh teman curhat dan segalanya? Siapa yang selalu ada buatmu? Siapa? Duhai pria bermata sipit dan berpipi lesung, kenapa tega kamu membiarkanku melawan penyakit ini sendirian? Kenapa teganya kamu menghempaskanku dan memilih bersembunyi ditempat yang tak pernah bisa kujamah? Malukah dirimu mempunyai teman berpenyakit kanker seperti aku ini? Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu sangat bangga memiliki teman sepertiku. Bukankah mulutmu sendiri yang mengatakan kalau hanya aku satu-satunya wanita yang bisa mengerti maunya hatimu selain ibumu.
Alvin, bukankah kamu selalu berkata kalau tiba-tiba penyakitku lagi kumat-kumatnya kamu mau selalu disampingku, kamu mau mengelus lembut kepalaku sampai aku tertidur dan tak merasa sakit lagi, dan ketika ku jawab kalau aku wanita kuat dan aku tak akan pernah merasakan sakit yang sering kau sebut itu lalu dengan lantang kamu menjawab kalau kumatnya sakit kanker itu sakitnya berlipat-lipat, dan aku hanya bisa membungkam mendengar nada suaramu mulai meninggi. Namun memang benar katamu, saat ini aku sedang merasakannya, sungguh sakitnya keterlaluan. Vin, aku sedang kumat seperti ini, katanya kamu mau menemaniku meredam rasa sakit ini tapi sekarang mana vin? Jangankan sosok dirimu disampingku, suara dan kabarmu saja tak ku dengar. Kalau memang bahagiamu itu dengan meninggalkanku, tak apa vin, aku tak marah. Aku juga tak pernah punya hak atas dirimu. Pergilah semaumu vin, maafkan diriku kalau nanti tiba-tiba kamu datang dan mencariku lagi tetapi aku sudah tertidur disamping makam ayah dan abangku. Maafkan diriku jika aku tak bisa merawatmu lagi saat kamu sakit, tak bisa mendengarkan ceritamu lagi, tak bisa selalu ada buatmu lagi. Terimakasih vin, sudah menjadi sosok pria yang menemaniku selama ini, walau hanya sekedar teman, aku sudah sangat beruntung. Bahagialah vin, aku hanya ingin melihatmu bahagia dari atas sana nanti.
Aku mencintaimu Alvin.


Wanita yang menggilaimu

Soya





#fiksi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar