Sayup
sayup terdengar suara angin berhembus dari jendela kamarku, hanya suara dentang
jam yang terdengar jelas, tak lagi ada suaramu ketika malam mulai menghampiri.
Entahlah, sedang dimana keberadaanmu sekarang. Jangankan sosok dirimu, suaramu
saja sudah tak lagi ku dapati. Apakah tak pernah kamu rasakan bagaimana rasanya
ditinggalkan oleh seseorang yang selalu ada buatmu? Tak pernahkah kamu pikirkan
hal itu? Tak ingatkah kamu dulu, dulu ketika kekasihmu yang sangat kamu
agung-agungkan tiba-tiba mengkhianatimu dan meninggalkanmu sendiri diangkringan
dan pergi dengan kekasihnya yang baru? Tak ingatkah kamu bagaimana hatimu kala
itu? Tak ingatkah kamu, siapa orang yang rela kehujanan menghampirimu ke
angkringan kala itu? Jika dirimu sudah tak ingat lagi, tak usah kamu
mengingatnya dengan terlalu, karena aku tak pernah memaksamu untuk
mengingatnya. Aku masih sabar untuk menunggumu mengingatnya. Aku percaya suatu
saat nanti, entah kapan, kamu bisa mengingat kembali bagaimana rasanya
ditinggal pergi dan dikhianati oleh orang yang kamu anggap penting. Semoga
ketika suatu saat nanti kamu kembali mengingat dan menyadari peristiwa
tersebut, aku masih duduk dibibir pantai ini bersamamu. Tidakkah kamu tahu, aku
sudah tak punya banyak waktu lagi menemanimu duduk dibibir pantai seperti saat
ini, maaf bukannya aku lancang mendahului kehendak Tuhan. Tapi akan lebih baik
kalau aku menyiapkan semua ini dari awal. Benar begitu bukan?
Terhitung
sejak dokter menvonis bahwa aku positif menderita penyakit kanker otak stadium
akhir. Sejak saat itu aku merasa tak ingin lagi memperjuangkan rasa cintaku
padamu yang tak kunjung kamu rasakan sampai saat ini. Aku merasa tak pantas
mendampingimu, aku merasa tak mau menyusahkan dirimu jika aku bersamamu. Kucoba
untuk membunuh rasa yang ada, rasa yang dulu menggebu-gebu minta ingin kamu
rasakan. Namun sampai saat ini, detik inipun tak kunjung terwujud. Dulu memang
aku pernah punya niat ingin menghilang darimu tapi hatiku berontak tak karuan
mendengar ide konyol tersebut. Dan hal itu tak pernah bisa aku lakukan. Namun
sekarang? Lihatlah. Kamu tiba-tiba menghilang dariku, sudah sebulan lebih kamu
tak ada kabar, tak bisa dihubungi. Tidakkah hatimu sedikit iba melihatku
seperti ini? Inikah balasan dari semua yang sudah aku lakukan kepadamu selama
ini? Selama kekasihmu mengkhianatimu? Yang merawatmu ketika kamu sakit? Ketika
kamu butuh teman curhat dan segalanya? Siapa yang selalu ada buatmu? Siapa?
Duhai pria bermata sipit dan berpipi lesung, kenapa tega kamu membiarkanku melawan
penyakit ini sendirian? Kenapa teganya kamu menghempaskanku dan memilih
bersembunyi ditempat yang tak pernah bisa kujamah? Malukah dirimu mempunyai
teman berpenyakit kanker seperti aku ini? Bukannya kamu sendiri yang bilang
kalau kamu sangat bangga memiliki teman sepertiku. Bukankah mulutmu sendiri
yang mengatakan kalau hanya aku satu-satunya wanita yang bisa mengerti maunya
hatimu selain ibumu.
Alvin,
bukankah kamu selalu berkata kalau tiba-tiba penyakitku lagi kumat-kumatnya
kamu mau selalu disampingku, kamu mau mengelus lembut kepalaku sampai aku
tertidur dan tak merasa sakit lagi, dan ketika ku jawab kalau aku wanita kuat
dan aku tak akan pernah merasakan sakit yang sering kau sebut itu lalu dengan
lantang kamu menjawab kalau kumatnya sakit kanker itu sakitnya berlipat-lipat,
dan aku hanya bisa membungkam mendengar nada suaramu mulai meninggi. Namun
memang benar katamu, saat ini aku sedang merasakannya, sungguh sakitnya
keterlaluan. Vin, aku sedang kumat seperti ini, katanya kamu mau menemaniku
meredam rasa sakit ini tapi sekarang mana vin? Jangankan sosok dirimu
disampingku, suara dan kabarmu saja tak ku dengar. Kalau memang bahagiamu itu
dengan meninggalkanku, tak apa vin, aku tak marah. Aku juga tak pernah punya
hak atas dirimu. Pergilah semaumu vin, maafkan diriku kalau nanti tiba-tiba
kamu datang dan mencariku lagi tetapi aku sudah tertidur disamping makam ayah
dan abangku. Maafkan diriku jika aku tak bisa merawatmu lagi saat kamu sakit,
tak bisa mendengarkan ceritamu lagi, tak bisa selalu ada buatmu lagi.
Terimakasih vin, sudah menjadi sosok pria yang menemaniku selama ini, walau
hanya sekedar teman, aku sudah sangat beruntung. Bahagialah vin, aku hanya
ingin melihatmu bahagia dari atas sana nanti.
Aku mencintaimu Alvin.
Wanita yang menggilaimu
Aku mencintaimu Alvin.
Wanita yang menggilaimu
Soya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar