Aku percaya Takdir.

Jumat, 20 Juni 2014

Terjebak di dua hati




Kala itu disebuah bangku panjang kosong yang menghadap ke hamparan air berwarna biru terpampang pemandangan sangat indah didepanku. Selalu ada kelegaan setiap kali aku bisa berjumpa dengan pantai. Dan aku selalu berharap setelah berjumpa dengan pantai, semua masalah yang sedang menggelumutiku seakan mengalir terbawa arus. Lalu terserah gelombang air akan membawanya kemana. Itu urusan mereka bukan lagi urusanku. Dan itu kenapa sekarang aku meminta bayu membawaku ke pantai ini. Bayu adalah adiknya kekasihku. Yogi kekasihku memang tak punya banyak waktu untukku. Dia sering sibuk dengan kuliahnya diluar kota. Dulu sebelum yogi pindah keluar kota, dia pernah bilang tak mau membiarkan aku dikota ini sendiri, apalagi antara aku dan yogi sudah sering bareng dari 3 tahun belakangan ini. Namun apa boleh buat, mau tidak mau, aku juga harus ikut mengiyakan apa apa yang sudah menjadi kehendaknya, toh juga yang dia lakukan untuk keluarganya.
Selama yogi berada diluar kota, bayu yang selalu membantu dan menemaniku. Yogi yang menyuruh bayu untuk ngejagain aku. Sempat aku bilang ke yogi ini terlalu berlebihan , namun semua ocehanku tak pernah dihiraukan yogi. Selalu saja dia mengirimkan bayu untuk menemaniku selama yogi tak bisa melakukan hal itu kepadaku. Betapa tak diduga-duga oleh yogi dan bahkan olehku juga, bahwa terlalu seringnya  bayu menemaniku setiap hari, hal itu melahirkan masalah yang terlalu runyam.
“Nay, aku mencintaimu” kata bayu menatapku
Aku kaget mendengar bayu berkata seperti ini kepadaku. Tak ada yang bisa aku lakukan waktu itu, aku tercengang, aku selalu mengelak, apa yang barusan dikatakan bayu hanya bualan, mungkin dia bercanda, mungkin dia hanya ingin membuatku tersenyum. Aku mematung dan pura-pura tak mendengar ucapan bayu barusan.
“Nayla, aku mencintaimu” ulangnya kembali.
“Nay, silahkan saja kamu menamparku, mencaci makiku dan berkata kalau aku adalah adik yang tak tau diri sudah lancang mencintai kekasih dari abangnya sendiri. Maafkan aku nay.” Imbuhnya lagi
Aku hanya bisa mematung, tak bisa berkata apa-apa. Sungguh ini diluar logika, bagaimana mungkin ini semua bisa terjadi? Siapa yang harus disalahkan didalam cerita ini? Siapa? Jeritku dalam hati.
“Bay, jangan bercanda. Aku ini masih kekasih orang, aku kekasih abangmu sendiri.”
Aku berhenti menjawab, hanya terdengar helaan napas panjang dan deru kepiluan yang tak karuan mengudara semaunya.
“Aku tau nay, aku ngerti ini hal gila. Lalu apa salah jika aku mencintaimu, aku yang tiap hari selalu ada untukmu. Aku juga pria normal yang bisa merasakan jatuh cinta bila keseharianku selalu diisi denganmu nay.”
“Seharusnya dari pertama kamu mengerti bay, seharusnya kamu lebih bisa mengontrol hatimu dan memperingatkan hatimu lebih dulu. Bahwa wanita yang kamu cintai ini adalah kekasihmu abangmu sendiri.” Tangisku pecah
“Hey nay, jangan menangis. Maafin aku nay, aku salah.” Ucapnya sembari merengkuh tubuhku kedalam pelukannya.
Aku tersentak. Berani sekali bayu melakukan hal ini kepadaku. Tak ada tangan pria lain yang berani merengkuhku selain yogi dan papaku. Sekarang, bayu melakukan apa yang yogi lakukan. Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan. Aku berusaha melarikan diri dari rengkuhan bayu namun apa daya, tenaga bayu cukup kuat untuk menahanku agar tetap berada dipelukannya. Tak lama, tiba-tiba dering ponselku berbunyi. Segera ku raih ponselku dan menjawab panggilan dari yogi yang tertera disana.
“Bee lagi dimana?” Tanya yogi
“Aku lagi dipantai bee”
“Kamu kenapa bee, kok suara kamu gini, kamu nangis?”
“Enggak apa-apa kok bee, aku lagi flu aja ini bee”
“Flu sejak kapan, kok enggak bilang aku sih”
“Cuman flu biasa aja kok bee, masak perlu bilang sih”
“Dipantai sama siapa? Dianter bayu kan?
Aku melirik ke arah bayu yang sudah sedari tadi menyimpan segurat rasa takut untuk mengungkapkan semua isi perasaannya. Laki-laki ini mirip dengan yogi. Bola matanya selalu menghadirkan kesejukan tiap aku memandangnya. Apa salah ketika hati ini sudah lama terisi tiba-tiba hati ini tersandung hati lain?
“Halo bee” suara yogi membuyarkan lamunanku
“Iya bee aku ditemenin bayu”
“Kasih bayu bee, aku mau ngomong” segera ku kasih ponselku ke bayu
Entah apa yang sedang dibicarakan bayu dengan yogi, kenapa harus bayu membawa ponselku menjauh dariku. Apa bayu mau menceritakan semua perasaannya ke yogi? Lalu apa tanggapan yogi? Tuhan, aku harus bagaimana? Andai aku bisa membawa pikiran manusia, maka sudah dari dulu aku tak mau menerima bantuan bayu, jika pada akhirnya serumit ini.
“Ini yogi mau ngomong sama kamu” kata bayu sembari memberikan ponsel kepadaku
“Iya halo bee”
“Kamu hati-hati ya disana, jangan kenapa-kenapa ya, jaga diri baik-baik bee, aku sayang kamu”
“Iya baik bee, akupun juga sayang kamu”
Kumatikan teleponnya dan kumasukan kembali ponselku kedalam tas. Ku lempar pandangan ke laut lepas didepanku, hening, tak ada suara, hanya suara angin dan gelombang yang gemericik merdu.
“Nay, maafkan aku. Aku salah sudah mencintai kekasih abangku sendiri. Maafkan aku nay.” Suara bayu membuka percakapan
“Bay, aku tak tahu siapa sebenarnya yang mesti disalahkan didalam keadaan seperti ini, aku tak marah kau mengungkapkan perasaanmu padaku bay, yang salah itu jika kamu berusaha menghancurkan rasa cintaku ke abangmu. Yogi pria tangguh baik dan bertanggung jawab seperti yang saya kenal. Apa tega kamu menghancurkan kebahagiaan abangmu sendiri dengan egomu itu bay? Enggak kan? Maka bay, tolong dengan sangat cukup saja kamu mencintaiku sebagai kakakmu, kamu baik, ganteng, perhatian. Aku percaya diluar sana banyak wanita yang menunggu kedatanganmu. Samperin dia, cintai dia seperti kamu mencintaiku.”
“Tapi nay, tak semudah itu melakukan apa yang kamu mau”
“Bay, dimana ada niat dan tindakan. Disana akan tumbuh usaha yang mulia. Berusahalah bay, demi kamu, yogi dan aku.”
“Oke kalau memang itu yang terbaik nay, aku coba” jawabnya dengan nada tak ikhlas.
Terkadang kita memang ditakdirkan untuk tidak dapat bersatu meskipun sebenarnya kita saling cinta.