Aku percaya Takdir.

Senin, 24 Maret 2014

Dia siapa dan aku siapa? part II


Lanjutan dari cerita sebelumnya :)

Keesokan harinya mentari pagi diujung timur sudah mulai menyinari sebagian kamarku. Aku agak malas buat bangun pagi-pagi seperti ini, rasanya tak ingin terbangun untuk hari ini saja. Tapi apa boleh buat, semakin aku mengelak semakin nyata pula kenyataan yang harus aku hadapi hari ini. Ponselku berdering, nomor yang semalam menelfonku kembali tertera diponselku, ada ragu dalam benakku untuk tak mengangkatnya. Tapi rasa kasianku sungguh besar apabila aku tak menjawab telepon dari bayu, aku tak mau bayu mikir yang enggak-enggak. Aku harus ikut senang melihat bayu senang.

“Selamat pagi elsa” suara lirih bayu. Aku senang mendengarnya bila bayu bisa kembali seperti dulu, sebelum seminggu yang lalu. Setiap pagi, setiap menit bahkan tiap detik  bayu selalu bersamaku.
“Pagi juga bay” jawabku
“Aku udah nepati janjiku kan el? Aku gak ngilang-ngilang lagi kayak kemarin-kemarin.” Ungkapnya.
“Hahaha iya bay bisa aja kamu tuh”
“Baru bangun kamu el?”
“Iya bay baru bangun, kamu jadi pulang hari ini?”
“Iya el, jdi dong. Aku udah kangen sama idungmu yang pesek. Bawaannya pengen cepet-cepet ketemu idungmu.”
“Oh jadi gitu, lebih kangen sama idungnya ketimbang sama orangnya.”
“hiihh ngambek, jelek ah ngambek gitu”
“Biarin lah, yang dibahas hidung mulu. Kamu belum sarapan kan?”
“Kok kamu tau el?”
“Iya tau lah, kan biasanya kamu kalau sarapan disatuin sama makan siang, maklum anak kost”
“Hahaha dasar pisek, yaudah aku tak mandi dulu ya nanti sore jam 4 aku jemput dirumah ya, harus sudah siap ya, dandan yang cantik ya.”
“ngapain aku harus dandan buat kamu, ogah ah. Udah dulu ya bay, aku dipanggil mama, gak enak daritadi aku belum bangun. See you”
“Iya sek pesek”

Setelah mematikan telepon, perasaanku jauh lebih tenang ketimbang sebelumnya. Aku hampir tak sadar bahwasannya bayu balik ke kudus hanya ingin bercerita tentang wanita yang didambanya, wanita udah berhasil merebut perhatiannya, bukan merebut sih seharusnya, mengambil lebih tepatnya. Wanita yang udah berhasil juga mengambil hati bayu.

Pukul 4 sore, aku sudah menyiapkan segala sesuatu. Aku tinggal menunggu bayu menjemputku. Sembari menunggu bayu menjemputku, aku berulang kali menengok jam dinding yang tertempel rapi didekat poster fotoku bersama bayu dan kedua adikku. Sudah jam 4.15 menit, dan bayu tak kunjung datang. Kucoba menghubunginya tapi tak ada respon. Yasudah ku tunggu dia 10menit lagi. Setelah lama menunggu bayu yang tak kunjung datang, aku bergegas berangkat sendiri ke kedai. Lalu sebelum aku bergegas meninggalkan rumah, ku kirim sms ke bayu
Bay, aku langsung ke kedai saja ya, aku tunggu kamu disana. Iya terkirim.

Di kedai, lagi-lagi aku disambut oleh waiters-waiters kedai yang sangat ramah tamah ini, kedai sore ini agak sepi, mungkin nanti menjelang maghrib baru mulai banyak pengunjung yang datang. Suasana kayak begini yang sebenarnya aku inginkan. Tak terlalu rame. Kembali ku pesan kopi panas ditambah gula sedikit. Kupilih tempat duduk yang biasanya aku sama bayu tempati setiap kali berkunjung kesini. Ponselku berdering, pesan baru dari bayu : El, kamu dimana? Aku udah dirumahmu. Malah kamu ke kedai duluan. Yaudah aku langsung kesana. Tungguin ya. Lega sekali rasanya membaca pesannya tadi. mengingat sebentar lagi aku bertemu dan berbincang-bincang kembali bersama bayu, rasanya udah lama sekali aku tak mnghabiskan waktu bareng dia. Padahal hanya seminggu saja bayu ngilang dan tak ada kabar, berasa sudah sebulan tak bertemu dengannya. Ah aku berlebihan. Terlintas kembali dikepalaku tentang apa yang ingin dikatakan dan diceritakan bayu padaku nanti. Dia menemuiku hanya ingin menceritakan bahwa dia telah jatuh hati kepada wanita lain, aku meyakinkan diriku untuk tetap tegar mendengar semua cerita bayu dan merespon baik semua cerita bayu nanti. Bayu hanyaa mengganggapku sebagai sahabat kecilnya, sering dia berkata dia mengganggapku sebagai adiknya. Hatiku berontak tiap kali bayu mengganggapku sebagai adiknya, aku ingin lebih dari sekedar adik tapi aku bisa apa kalau bayu tak mempunyai perasaan yang sama denganku?

“Aku melempar pandangan kearah pintu masuk, terlihat sosok pria yang taka sing lagi buatku, pria ini jauh lebih keren dari sebelumnya, pria ini terlihat berwibawa ketimbang biasanya. Iya bayu. Hari ini bayu terlihat sangat berbeda dari sebelumnya. Aku terkejut melihat perubahan bayu yang begitu drastis. Lantas timbul pertanyaan dibenakku siapakah yang sudah membuat bayu berubah begini? Wanita yang ingin diceritakannya nanti kah?
“Hay el, aku mencarimu kerumah tadi” sapanya ketika memasuki pintu masuk.
“Sory bay, aku tadi sudah menunggumu lama, yaudah aku mutusin kesini sendiri” jawabku singkat.

Sebentar, siapa wanita yang sedang jalan disamping bayu? Wanita yang tak pernah aku lihat sebelumnya, wanita yang tak aku kenali. Terlihat tangan bayu menggandeng wanita tersebut, bayu menawarinya aneka menu kopi yang ingin dipesannya. Persis seperti pertama kali bayu memperlakukanku ketika mengunjungi kedai ini. Apa mungkin itu wanita yang mau diceritakannya padaku? aduh kenapa hatiku rasanya ingin berontak, tapi aku tak punya hak untuk melakukan hal tersebut. Bayu dan wanita itu mendekatiku, aku mencoba untuk menahan semua itu, aku harus Nampak baik-baik saja. Harus.

“El kamu ngeselin banget sih dicariin dari tadi dirumah gak ada taunya udah disini” katanya sambil mengacak-ngacak rambutku.
“Hahaha (ketawa yang kupaksakan) iya map bay” jawabku
“Oh ya el, kenalin nih temanku, namanya citra.”
“Aku elsa” kataku sambil mengulurkan tanganku.
“Aku citra” jawabnya sambil membalas uluran tanganku.
“Oh ya cit, ini elsa. Sahabat tersayangku sejak kecil, dia yang selama ini ada buatku. 

Yang sering aku ceritakan padamu itu. Dia ini udah kek adekku sendiri” ungkapnya dengan merangkul lenganku.
Rasanya aku ingin menjerit, ingin berontak, ketika bayu melontarkan kata-kata tadi, bagian terakhir dari kalimatnya tadi begini “Dia udah kek adekku sendiri” sudah kuduga kalau bayu hanya menganggapku seperti ini, dia hanya menggangpku sebagai sahabatnya, sebagai adeknya. Aku benar-benar tak karuan saat ini. Aku tak bisa berkata apa-apa, rasanya aku ingin pergi dari hadapan mereka berdua.

“el, ini citra yang mau aku ceritakan ke kamu” bayu berkata
“Eh ini bay yang katanya bisa membuat kamu jatuh hati. Ciye bayu” kataku mencoba biasa saja. Telihat citra Nampak tersipu malu-malu mendengar ucapanku tadi, bayu juga Nampak salah tingkah. Ah beneran. Bayu memang sudah menambatkan hatinya ke citra.

“kamu bisa aja el” jawab bayu malu-malu.
“menurutmu gimana aku sama citra? Cocok gak?” katanya
“Emmm cocok kok kalau kamunya cocok cocok saja” jawabku sedikit berbohong.
“Citra itu orangnya cantik kan el? Dia ini pintar banget lho el, gak kayak kamu bisanya galau terus………………” ungkap bayu. Aku mencoba tak mendengarkan apa yang diungkapkan sama bayu, aku merasa muak. Bayu selalu mengunggul-unggulkan kekasih barunya, selalu membeda-bedakanku. Merasa kalau kekasihnya adalah seseorang yang benar-benar sempurna dimatanya. Aku sedikit kecewa denganmu bayu, seharusnya bayu tak bertingkah seperti ini. Seharusnya dia ingat, bukan kekasihnya yang selalu menemaninya selama ini, tapi aku yang selalu ada buatnya dalam keadaan apapun. Ok malam ini kamu bercerita banyak tentang keunggulan kekasihmu tanpa menyadari betapa mirisnya hatiku mendengarnya. Malam ini kamu sudah memberikanku kejutan yang tak aku sangka-sangka sebelumnya. Terima kasih kejutannya bay, kamu berhasil membuatku terkejut dan menitihkan airmata setelah pertemuan kita kali ini selama seminggu kamu ngilang dan tak kasih kabar ke aku dan tiba-tiba kamu datang kejutan yang benar-benar mengejutkan. Tak ada yang aku bisa lakukan selain berbahagialah dengan kekasihmu bay, tak usah memikirkanku, lama kelamaan kamu pasti akan sedikit menggantikan posisiku dengan kekasih barumu itu. Dan kembalilah jika suatu saat wanitamu tak bisa seperti apa yang kamu harapkan. Kembalilah sebelum aku yang tak akan benar-benar menerimamu kembali. Jangan sampai terlambat bay. Ingat akulah seseorang yang selalu ada buat kamu sejak dulu, aku yang menemani hari-harimu selama ini, dan sekarang dengan mudahnya kamu mau menggeser posisiku. Tak apa bay, selama itu bisa membuatmu bahagia. Tak usah kau hiraukan diriku.

Tertanda.

Aku, yang selalu kau anggap sahabat/adekmu.

Minggu, 23 Maret 2014

Dia siapa dan Aku siapa?


Kopi yang kupesan sejak sejam yang lalu sudah terlalu dingin untuk diminum. Entah apa yang membuatku tak berminat meminumnya malam ini, mungkin caffeinnya yang terlalu banyak jadi terasa agak tak enak untuk diminum. Tak seperti biasanya, biasanya kopi yang disuguhkan oleh waiter disini, porsi rasanya selalu pas, tak kurang tak lebih. Mungkin bukan kopinya yang tak enak, mungkin perasaanku yang membuat kopi ini tak enak atau mungkin peracik kopinya sedang tak baik-baik saja. Memang sih kedai kopi ini tercatat kedai baru yg launching sekitar 2bulan yang lalu, sejak pertama aku berkunjung dan menikmati kopi disini, semuanya terkesan sangat enak. Bukan hanya enak saja, para waiternya juga terlihat ramah dan friendly sekali orangnya. Hampir setiap hari aku tak pernah absen mengunjungi kedai ini, sampai-sampai beberapa waiternya tak  asing lagi denganku bahkan mereka sudah begitu mengenalku.
“Kok sendiri mbak, mas Bayu tak diajak?” Tanya salah seorang kasir.

Ini yang sudah aku takutkan sebelum memutuskan pergi ke kedai ini, mesti akan menjadi pertanyaan besar ketika aku ke kedai ini sendiri tanpa ditemani Bayu. Iya biasanya memang bayu yang menemaniku mengunjungi kedai ini sejak pertama kali aku menginjakkan kaki dikedai ini. Bayu juga yang mengenalkanku bagaimana caranya menikmati kopi yang terlalu pahit agar terasa lebih manis ketika diseduh. Yang mengajariku bagaimana hidup ini seperti secangkir kopi, ada pahit ,manisnya. Tergantung bagaimana cara kita menyeduhnya dan menikmatinya.

“Bayunya masih disemarang mas” jawabku ngasal.
Padahal aku sendiri tak tau bayu sekarang ada dimana? Tak ada kabar, tiba-tiba menghilang sudah hampir seminggu. Disms tak terkirim, dihubungi lewat sosnet juga tak ada respon. Entahlah menghilang kemana bayu sekarang.
“Oh begitu, mau pesan apa? Ganti menu baru apa kayak biasanya?” Tawarnya  
“emmm apa ya,  kayak biasanya aja lah mas, tak mau coba-coba yang lain takut gak cocok sama rasa kopi yang baru” jawabku
“Wih bahasanya seperti orang sedang putus cinta” tanggapnya
“Hahaha itu mah masnya saja yang berlebihan” tepisku

Kedai kali ini teramat rame, hampir semua tempat duduk penuh dengan pengunjung. Kuinget-inget kembali hari apakah ini? Kok kedai ini terlihat sangat ramai. Sebelumnya tak pernah aku melihat kedai ini teramat rame seperti ini, biasanya separo dari tempat duduk terisi. Ku raih ponselku lalu kulihat hari apakah hari ini? Oh pantesan, ini hari minggu. Pantesan ramai bener. Sepertinya aku salah keluar malam ini. Yasudah sudah terlanjur, daripada tak merasakan kopi malam ini. Aku mencoba mencari tempat duduk yang tak terlalu rame, iya hanya ada satu bangku kosong diujung sana, aku bergegas menghampiri bangku kosong tersebut.
Selang beberapa menit, seorang waiter mengantarkan kopi pesananku.

“Silahkan mbak” ujarnya
“Iya makasih” jawabku

Aroma kopi ini begitu menyedapkan hidung siapa saja yang menciumnya, terlebih bayu. Dia sangat suka dengan aroma kopi ini, entah kenapa setiap kali aku menyeduh kopi panas ini, aku selalu merasa bayu tak pergi, aku selalu merasa dia selalu disampingku, didekatku, mendekapku. Sesekali aku memejamkan mata dan mencubit kecil tubuhku sendiri, barangkali benar adanya kalau sekarang ini bayu memang disampingku, setelah kubuka kembali mataku yang sempat terpejam beberapa menit ketika menyeduh kopi panas ini, kosong. Tak ada bayu disini. Kemana sih kamu bay, batinku. aku tak tau salahku dimana sampai kau hilang dariku begitu tiba-tiba seperti ini. Suara ponsel mengagetkanku. Kulihat disana tertera nomor yang tak kukenal memanggil. Kucoba mengangkat panggilan tersebut.

“Elsaaa” terdengar suara dari ujung sana
“Iya halo, ini siapa?” tanyaku
“Elsa, ini aku bayu.” Jawabnya

Ada sedikit ketenangan dihatiku, ketika dia menyebutkan namanya. Pria ini tak biasanya menghilang begitu saja  seperti tadi.

“Bayu, serius ini kamu?” tanyaku lagi
“Sebegitu asingkah diriku el, sampai kamu tak mengenaliku suara merduku” jawabnya.
“Bay, kamu kemana saja bay? Tiba-tiba gada kabar, nomor gak aktip, wa, bm, line , fb, twitter juga gak aktip. Kamu habis diculik siapa?” tanyaku
“Ciye ciye nyariin aku ciye, ciye hawatir ciye” usilnya
“Gimana tak hawatir coba bay, sudah seminggu kamu tak kasih kabar, sudah seminggu kamu tak kunjung pulang.”
“Iya iya sory, kemarin-kemarin hpku hilang el dikampus.”
“Kok bisa sih bay, kenapa kamu tak cepat-cepat menghubungiku kala itu? Aku coba sms ke diko, katanya kamu sudah seminggu tak balik ke kosan. Bener begitu?”
“Kamu cariin aku ke diko el?”
“Iya aku nanyain kamu ke diko, habisnya aku hawatir bay sama kamu.”
“Iya tenang saja el, aku baik-baik saja kok, kmu dimana sekarang el? Kok suaranya rame banget”
“Aku lagi dikedai bay, kamu belum jawab pertanyaanku bay, kamu darimana seminggu yang lalu? Hilang tak ada kabar”
“Tuh kan ke kedai gak ngajak-ngajak”
“Gimana mau ngajak? Orang kamunya tiba-tiba ngilang kayak pocong”
“Ih jahat sekali, aku disamain sama pocong”
“Biarin, salah siapa ngilang-ngilang begitu”
“Iya dah gak ngilang lagi, janji deh”
“Halah janji-janji doang paling orang kamu tuh”
“Serius elsa. El besok aku balik, tungguin aku ya besok kita ke kedai bareng lagi.”
“Besok memang kamu tak ada kuliah?”
“Gada elsa. Selasa baru ada kelas”
“Yaudah besok hati-hati baliknya, tak usah ngebut-ngebut”
“Iy siap bos, sekalian besok aku mau cerita sama kamu el”
“Soal apa?”
“Aku sedang jatuh hati sama seseorang el”

Senyum mengembangku tiba-tiba sedikit meredup. Mungkin ini ada kaitannya kenapa bayu seminggu ini ngilang. Kenapa aku jadi tak karuan begini? Bukankah wajar-wajar saja bayu jatuh hati kepada wanita lain selain diriku. Toh memang selama ini hubunganku sama bayu hanya sekedar teman semasa kecil, sahabat lah istimewanya. Tak lebih.

“el apa kamu dengerin aku?”
“eh ya bay, ok lah sampai berjumpa besok” kataku menutup telepon secara tiba-tiba. 

Hatiku tak karuan rasanya, seharusnya aku tak seperti ini, seharusnya aku biasa saja, seharusnya aku paham betul bahwa aku tak pantas cemburu tak dalam status. Mungkin aku terlalu lama bareng sama bayu, jadi berasa susah menerima kenyataan kalau pada akhirnya antara aku dan bayu harus pisah, menuju hidup masing-masing. Mencari jodohnya sendiri-sendiri. Seharusnya seperti itu tapi entahlah. Aku tak mengerti kenapa tiba-tiba seperti ini. Rasanya tak ingin ada hari esok biar aku tak bisa ketemu bayu dan tak mendengarkan cerita tentang wanita yang didambanya itu. Tapi apa boleh buat? Mau tak mau, yang namanya sahabat harus ada disaat sahabatnya membutuhkan meskipun terkadang sesuatu itu menjadi kebalikannya. Setelah cukup lama berdiam diri dikedai ini sendirian ditambah suasana yang rame begini, rasanya aku ingin cepet-cepet pulang dan merebahkan sejenak apa yang sejak tadi mengulumutiku. Segera aku bereskan barang-barangku kedalam tas dan bergegas menuju kasir untuk membayar kopi yang tadi aku pesan.

“Cepat banget mbak, jam segini udah mau pulang” Tanya kasir tersebut
“Iya mas, udah disuruh mama pulang, ini mas uangnya” jawabku
“Iya mbak, makasih ya. Sering-sering kesini lagi” pintanya
“Iya mas ok, mari mas” jawabku
“Nggeh mbak monggo”

Aku keluar dari kedai dan bergegas menaiki sepeda motorku dengan kecepatan yang tak terlalu ngebut,  malam ini malam minggu. Banyak pemuda pemudi yang ngawur bawa motor dijalanan. Rasanya aku ingin terbang dan cling sampai rumah. Tapi apa boleh buat? Jalan ini bukan jalan milik eyangku, ini jalan umum yang siapa saja boleh melewatinya. Sesampainya dirumah, aku bergegas kedalam kamar, ku rebahkan semua bebanku disini, tak ada yang tau aku lagi bersedih, jangankan papa, mama saja tak tau kalau anaknya lagi sedih. Tak ada satupun yang berusaha menghiburku, biasanya bayu yang selalu menghiburkan ketika aku bersedih tetapi sekarang yang menjadi alasanku bersedih adalah dirinya. Mana bisa dia bisa menghiburku? Aku tak dapat tidur, apa yang harus aku lakukan besok? Apakah aku harus menemuinya besok? 

To be continue................... 

Sabtu, 22 Maret 2014

Senja itu milik alvin


Senja kali ini tak begitu indah, terlihat murung, seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi dia tak mampu. Entahlah walaupun senja kali ini terlihat murung tapi aku bisa menikmatinya dengan perasaan yang justru kebalikannya, aku merasa bahagia saat ini, karena aku bisa mengajak perempuan yang dulu hanya bisa aku mimpikan didalam dunia mimpi. Sekarang, hari ini tepatnya diulang tahunnya yang ke 21tahun, aku bisa menikmati senja bersamanya, ditempat yang sama. Sesekali aku mencubit lenganku sendiri, barangkali aku sedang bermimpi bisa mengajaknya kepantai ini.
“Lu orang pertama yang mengajakku menyaksikan senja seperti vin” suara lirih irin membuyarkanku
“Benarkah?” tanyaku melempar pandangan kearahnya.
Irin hanya mengangguk, menandakan bahwa yang dikatakannya sungguh benar adanya.
“Irin, happy birthday ya, semoga nambah baik segalanya, makin lancar.” Kataku sambil mengulurkan tangan
“Iya amin, thanks vin” jawabnya sambil membalas uluran tanganku
“Sory ya rin, gue gak bisa ngasih lu kado apa*”
“Ini udah cukup kok vin, udah hadiah terindah yang pernah gue terima, thanks ya vin” jawabnya.
Sorotan mata itu yang selalu tak bisa aku pandang lama-lama. Kedua bola mata yang indah, yang selalu berhasil membuatku berdebar tak karuan, berkeringat dingin, dan membuatku tak bisa berkata apa-apa. Ditambah bibirnya yang indah membuat wajahnya semakin terlihat sempurna. Perempuan ini yang dulu hanya bisa aku cintai dalam diam, yang hanya bisa aku mimpikan, sekarang dia berada didepanku,  menemaniku menikmati senja yang terlihat murung, bukan ikut menikmati senja lebih tepatnya ikut menghibur senja yang cenderung murung. Duh betapa beruntungnya pria seperti aku yang bisa duduk berdua dibibir pantai sambil menikmati senja sore ini bersama perempuan cantik seperti irin, yang namanya selalu digembar-gemborkan oleh pria-pria difakultas ekonomi. Aku tak tahu bagaimana nanti tanggapan mereka ketika mengetahui irin mau aku ajak kesini. Mungkin mereka akan mengolok-olokku dan bilang aku tak punya malu.
“Kenapa lu nglamun vin?”panggilnya
“oh enggak rin, gimana? Lu suka?”tanyaku
“Iya vin gue suka, sering-sering ya ngajak gue kesini”
“ok siap”
“Lu sering kesini ya vin?”
“Iya rin, gue kalau lagi bĂȘte, sering kesini.”
“Sendirian?”
“Iya sendirian rin, baru lu yang gue ajak kesini”
Irin tak menjawab, dia hanya mengangguk. Entahlah, aku tak mengerti arti anggukannya tersebut. Tiba-tiba terbesit didalam benakku untuk mengatakan sesuatu yang dulu hanya bisa aku pendam dalam diam, aku ingin mengatakan kalau aku mencintainya. Tapi aku tak mampu. Aku tak berani menerima resikonya kalau nanti akhirnya irin menolakku. Tetapi kalau tak mencobanya, sampai kapan aku hanya bisa menjadi temannya irin, sampai kapan aku harus mencintai irin dalam diam, sampai kapan?
“Irin” panggilku.
“Hemm, iya kenapa?” jawabnya sambil memainkan pasir yang digenggamnya.
“Irin mau sering-sering diajak kesini kan?”
“he.em iya mau lah” jawabnya singkat.
“Kalau misalnya irin udah punya pacar, irin memang dibolehin pacarnya, gue ajakin kesini lagi?”
Irin menghentikan mainan pasir ditangannya, kedua matanya menatapku cukup lama, seolah memberi isyarat bahwa apa yang sudah aku katakan tadi salah. Kami terdiam cukup lama, tak ada suara, hanya suara ombak dan hembusan angin yang mengacak-acak rambut irin. Aku tak tau harus bagaimana, aku takut menyinggung perasaan irin.
“Gue salah bicara ya?” aku memberanikan membunuh kebungkaman ini.
“Mana mungkin pacar gue nanti melarang gue menikmati senja seperti ini vin, kebiasaan dia kalau lagi bĂȘte saja sering kesini.” Katanya sambil tersenyum
Aku tak mengerti apa yang irin katakan, berarti irin membohongiku kalau dia bilang dia baru pertama kali menikmati senja seperti ini, padahal pria yang dia cintai sering melakukan hal yang sama sepertiku. Belum sempat aku menanyainya lagi, dia sudah balik bertanya padaku.
“Bagaimana nanti kalau pacar lu yang nglarang lu ngajakin gue kesini? Apa mungkin nanti lu ngajakin pacar lu kesini?” tanyanya balik
Aku sejenak diam, tak langsung menjawab.
“Aku hanya ingin membawa satu perempuan kesini rin, hanya satu perempuan yang akan aku kenalkan kepada senja, pantai, ombak, dan orangtuaku nanti.” Jawabku
“Maksut lu? Kan lu ini udah ngajak gue kesini, lalu?”
“Iya rin, aku hanya ingin membawamu dan mengenalkanmu pada mereka jika kamu berkenan” kataku sambil menggenggam tangan irin. Irin tak menjawab dia hanya bisa diam, entahlah apa yang sedang dia pikirkan.
“Irin, maukah lu? Tak usah bingung rin, kalau memang lu tak bisa, gue gak maksa.” Jelasku
Irin nampak mendongakkan kepalanya dan berusaha menjawab pertanyaanku. Terlihat matanya berkaca-kaca, apa yang sedang dipikirkan sama irin? Entahlah. Aku tak mau berandai-andai daripada aku salah mengartikan semua ini.
“Kalau lu gak bisa tak apa rin, memang lebih baik lagi kalau kita hanya berteman, udah gak usah dibahas lagi” kataku melepaskan genggaman tangannya.
“Vin, gue mau” jawabnya sambil meneteskan airmata.
“Rin, lu serius? Kataku tak percaya.
“iya gue serius, gue terharu vin”
ku genggam kembali tangannya, kuusap airmatanya dan kuraih tubuhnya kedalam pelukanku. Aku kegirangan, aku peluk irin erat-erat ku bisikan lirih ditelinganya “I love you sayang” dia tak menjawab, dia hanya menangis terharu. Aku longgarkan pelukannya, aku cium keningnya dan mengusap air matanya lalu menggendongnya berlari dibibir pantai. Senyum mengembang dibibir irin.
“Lihat sayang, betapa senja ikut ceria melihat kita seperti ini, I love you bee” kataku
“Iya bee, love you too”
Ku peluk irin sekali lagi, terdengar debur ombak semakin merdu seperti ikutserta dalam kebahagiaan kami.

Selasa, 04 Maret 2014

Wanita itu bernama ELSA


 “Kenapa bersedih El ?”  Kata seorang pria yang duduk disampingku.

Aku tak menjawab, dia masih terdiam dan seolah tak menggubris apa yang sedang dibicarakan oleh abangku itu. Mengerti kalau adik perempuannya tidak akan menjawab pertanyaannya, Evan menggenggam tangan elsa, berharap elsa mau menceritakan apa yang telah terjadi padanya. Namun rupanya upaya evan masih tak mampu membuat elsa mau angkat bicara.
“El, apa gerangan yang membuatmu seperti ini ? Biasanya kamu tak pernah seperti ini el, sebelumnya kamu tak pernah seperti ini.” Tanyanya lagi.

Elsa menoleh kearah evan lalu kembali dia melempar pandangan kearah pengunjung yang datang diangkringan miliknya.

“Aku tak mengerti apa yang sedang aku alami ini van, aku bingung.” Jawab elsa lirih diiringi airmatanya yang mulai jatuh menumpahi kopi hitamnya itu.

 “Sudah, sudah husssttt jangan nangis sayang, masih ada abang disini.” Kata evan sambil memeluk adiknya itu.

 “Tenangin dulu hatinya, jangan ceritakan dulu. Buatlah hatimu nyaman dulu. Hussttt udah jangan menangis.” timpalnya lagi.

Elsa mengerti bahwasannya evan yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman. Elsa menumpahkan semua tangisannnya dipelukan evan. Elsa tak peduli dengan pengunjung  yang datang memerhatikannya. Dia tak peduli. Yang elsa pikirkan hanya bagaimana dia tidak sesakit ini.
Hari semakan malam, pengunjung yang datang sudah bergegas meninggalkan angkringan miliknya dan elsa masih belum berhenti menangis, mungkin saking berat beban yang dipikul elsa sehingga dia tak kunjung berhenti menangis.

“Sebaiknya kamu pulang dulu saja, kamu istirahatkan dulu badan dan pikiranmu, biar abang yang jaga angkringan.” Evan menyarankan.

“Aku pulang nanti bareng kamu saja van, lagian percuma kalau aku pulang aku juga nanti susah tidur.” Jawab elsa.

“Yasudah kamu rebahan dulu diruang kerjamu, biar abang disini jagain angkringan, ini sudah jam 10 lho, gak baik wanita jam segini belum tidur, nanti kamu sakit, gih tidur sana.” Suruhnya.

“Van, biar aku disini, aku egk mau sendirian van, nanti aku jadi semakin mikir yang egk*. Ujarku.

“Memangnya apa sih yang kamu pikirkan, soal Rafa?” Tanyanya lagi.

Deg, tiba* hatiku merasa tak karuan ketika evan menyebut nama rafa. Rafa, pria yang bernama lengkap Rafael Aditya, dia dulu adalah kekasihku, dia menyayangiku, dia yang membawaku menuju kesuksesan, dia yang merawatku ketika aku sakit, dia yang selalu mampu membuatku merasa paling nyaman setelah evan. Begitulah dulu sosok rafa, ketika dia masih sabar menghadapi jarak rumahku dan rumahnya, ratusan bahkan ribuan kilometer. Namun setelah sekian lama, mungkin dia merasa bosan dan pengen seperti halnya pasangan lainnya yang kemana* bisa bareng, ngapain* bareng, begitulah sejatinya pasangan, katanya. Aku sangat merasa, sekarang ini rafa berubah, sikapnya yang dulu kupikir berlebihan kini berubah menjadi cuek. Saat itulah aku merasa mungkin rafa sebenarnya sudah tak butuh aku lagi, mungkin rafa sudah mempunyai sosok lain disana, yang bisa diajak kesana kesini bareng. Bukan seperti aku ini. Ah begitu banyak pertanyaan yang muncul dikepalaku ketika nama rafa disebut, mengingat yang manis dan mengingat yang pahit sekalipun. Biarkan Rafa memilih jalannya, bukankah sejatinya mencintai seseorang itu harus rela orang yang disayanginya bahagia tanpa dirinya? Begitulah semestinya.

“hey el, kok bengong? Abang salah ngomong ya?” Tanya evan.

Aku masih tak menjawab, pikiranku masih tentang rafa, rafa dan rafa. Ah berlebihan.

“Elsa.” Panggilnya lagi.

“Egk salah kok van” jawabku.

“Terus apa sih yang sedang kamu pikirkan?” tanyanya.

“Van, begini ya rasanya kehilangan? 

“Kehilangan siapa el? Ayah?”

“Kehilangan orang* yang kita sayangi”

“Beginilah hidup el, tentang siapa yang datang dan pergi, ada kalanya orang yang kita sayang pergi, dan mau tak mau kita hanya bisa menerima apa yang sebenarnya sudah menjadi takdir kita el.”

“Aku tak mengerti van, kenapa mereka perginya barengan. Ayah lalu rafa. Mereka dua ini adalah pria yang teramat berarti buatku van, termasuk kamu. Ayah, rafa dan kamu adalah tempat ku bercerita, sosok yang sangat aku impikan van tapi sekarang, ayah lebih memilih tinggal disurga ketimbang disini bersamaku. Lalu rafa lebih memilih tinggal dipelukan orang lain ketimbang pelukanku. Pria yang aku punya sekarang cuma kamu van, aku tak tau apakah nanti kamu seperti mereka, tega meninggalkanku sendiri disini, sungguh van aku kehilangan segalanya, kesuksesan yang aku raih tak ada artinya kalau tanpa kalian van.” Tangisku.

“Aku tau el apa yang sedang kamu rasakan, masih ada aku disini el, aku tidak akan ninggalin kamu el, aku nemenin kamu terus el, jangan sedih ya cantik ya, sekarang lanjutin hidup kamu sayang, masih banyak kok pria diluar sana yang jauh lebih baik dri rafa, masih banyak, cuman kamu buka dulu hatimu buat yang baru. Kalau kamu masih menutup hatimu mana bisa pria diluar sana mau masuk el, ngerti kan sayang?” ucapnya sambil memelukku.

“Kamu tau teman abang yang namanya galang? Yang dulu pernah jagain kamu selama kamu hilang ingatan? Yang sering nganterin kamu kemanapun kamu pergi? Dia kemarin cerita sama abang kalau dia juga suka sama kamu, belum lagi si bayu.”

“Tapi kan suka sama sayang itu beda van, mungkin galang itu hanya sekedar suka, sekedar sayang sebagai seorang adik. Kalau bayu, aku sudah janji sama rafa van, rafa dulu pernah melarangku berteman dengan bayu, karena sikapnya  yang temperamental, yang emosinya suka meledak* dan sering nyusahkan keluarga kita van.”

“Ya sudah apapun yang ingin kamu lakukan, lakukan saja, abang gk ingin melarangmu, abang dukung kamu selama yang kamu lakukan itu membuatmu seneng, ya?

Aku hanya menggangguk, tak menjawab. Sudah pukul 10.30, pengunjung masih begitu ramai. Aku melempar pandangan kesemua pengunjung yang datang, banyak pengunjung yang bersuka ria bersama teman*nya, ada pengunjung yang menghabiskan waktunya sendiri,  menikmati aroma kopi yang begitu menyengat hidung siapa saja yang datang ketempat ini. Lalu aku melempar pandangan kearah kanan dimana tepat didepanku duduk, terlihat dua sejoli itu sedang merasakan kebahagiaan dengan menghabiskan waktunya dengan duduk manis berdua menikmati suasana yang ada ditempat ini, terkadang aku melihat mereka saling bersuapan, pegangan tangan, mengusap keringat perempuannya, sungguh ini pemandangan yang tak menyedapkan mata dan hatiku. Pandanganku buyar ketika ada sosok pria datang menghampiri tempat dudukku bersama evan, dia adalah galang. Sahabat evan yang dulu pernah merawatku ketika aku lupa ingatan, galang ini yang mengantarkanku kemanapun aku pergi.

“sory bro gue telat,” kata galang mengawali percakapan.

“Santai aja lang, kagak apa*” Evan menjawab sambil berjabat tangan dengan sahabatnya itu.

“Elsa apa kabar? Sudah sembuh sakitnya? Kenal sama aku gak?” Kata galang

“Alhamdulillah udah mendingan, ingat lah, kamu galang yang dulu abangku nitipin aku ke kamu ketika dia sibuk ngurusi skripinya itu kan?” jawabku

“Nah iya pinter, udah inget” katanya sambil mengacak* rambutku.”

“ih resek banget ya kamu ini”  aku tak membalasnya.

Kulihat sedari tadi evan sedang asik dengan handphone yang dipegangnya, dia lagi asik bbm-an sama kezia, kekasihnya. Lalu galang mencairkan suasana kembali.

“Sa, kamu habis nangis ya? Kok matanya bengkak gitu” Tanya galang.

“Iya lang, dia lagi galau” jawab evan.

“Ngapain sih galau* mulu” kata galang

“Tau tuh elsa, cemen banget” timpal evan

Percakapan kita terhenti ketika kasir memberi peringatan kepada semua pengunjung yang datang kalau 20 menit lagi, angkringan akan ditutup. Evan lalu menghampiri kasir tersebut guna menghitung jumlah uang pemasukan yang ada. Aku tak sadar bahwasannya dari tadi, galang sedang memandangiku. Aku mencoba tak menghiraukannya namun semakin lama, galang semakin tak berhenti memandangiku.

“Lang, mau minum apa?”

“Ehmm, terserah deh”

“Ya sudah sebentar ya, aku nyusul evan dulu.”

“Ngapain, disini aja nemenin aku” katanya.

“Ada yang mau aku omongin sama kamu sa,” timpalnya lagi.

“Mau ngomong apa? Ngomong gih”

“Kamu kenapa sedih?”

“ih kepo banget sih kamu ini lang, rahasia :p”

“Kok gitu sih sa”

“Biarin :p “

Evan memanggilku, dan aku bergegas menghampirinya. Setelah aku dan evan membereskan semuanya. Semua pengunjung sudah pada pulang. Begitu juga sebagian dari karyawan*. Tinggal aku evan galang. Aku menuju kedalam mobil terlebih dahulu karena aku sangat mengantuk, sedangkan evan dan galang mengunci angkringan. Sembari menunggu evan masuk kedalam mobil, ponselku berdering. Beberapa sms dan telpon yang masuk dari rafa. Dia mencariku. Raut wajah mengantukku menghilang dan berganti dengan tangisan. Aku tak habis pikir, apa maksut dengan semua ini? Dia yang bilang kalau dia bosan denganku, bosan dengan jarak yang ada, tetapi dia masih mencariku, masih membuatku selayaknya kekasihnya, padahal jelas sekali dirinya sudah menggantikan diriku dengan yang lain. Apa maksutnya ini semua? Evan dan galang menuju ke arahku.

“Sa aku balik dulu ya?” Pamit galang kepadaku
Belum sempat aku menjawab, galang bertanya lagi. 

“Lho kamu kenapa nangis sa?” Evan yang tadinya sibuk dengan ponselnya ketika mendengar adik perempuannya kembali menangis, sontak dia melihatku.

“El, are you ok?” kata evan sembari membuka pintu mobil.

“Elsa, sudah dong sayang jangan sedih, sudah sudah cup cup sayang” katanya mencoba menenangkanku sambil memelukku.

“Lang, kalau lu mau balik, balik aja dlu lang, elsa biar aku yang ngurus” kata evan.

“Enggak van, kita bareng saja nanti baliknya.” Jawab galang

“Lu mau balik ketempat gue aja apa?” Tanya evan

“Gitu juga boleh van” singkat galang.

“Yaudah kita balik sekarang aja, udah malam ini, gak baik diliat warga.” Saran evan

“iya bener van ayok.”

Disepanjang jalan pulang, aku tak bicara apapun, aku hanya bisa diam dan netesin airmata, tak mengerti apa yang sedang rafa lakukan padaku. Rafa membuatku semakin bingung. Evan mencoba menghibur tetapi sia* saja.
Setelah sampai rumah sekitar pukul 11.30, aku langsung menuju kedalam kamar, aku tak menghiraukan evan dan galang. Aku berlari kekamar dan menangis sejadi-jadinya. Ponselku masih berdering. Setelah ku buka pesannya, masih dari rafa. Ya tuhan, mau gimana lagi aku ini, apa sebenarnya maunya rafa? Bukankah dia yang sudah bilang kalau dia bosan, tetapi kenapa dia sampai sekarang masih mencariku? Masih memberi perhatian padaku layaknya aku ini masih kekasihnya? Apa maksutnya tuhan? Terdengar evan memanggilku dari balik pintu, tapi aku tak menggubrisnya. Evan dan galang mencoba menghiburku melalui sms tetapi aku masih memikirkan rafa, oh apakah yang rafa lakukan sampai membuatku merasa seperti ini?