Aku percaya Takdir.

Minggu, 23 Maret 2014

Dia siapa dan Aku siapa?


Kopi yang kupesan sejak sejam yang lalu sudah terlalu dingin untuk diminum. Entah apa yang membuatku tak berminat meminumnya malam ini, mungkin caffeinnya yang terlalu banyak jadi terasa agak tak enak untuk diminum. Tak seperti biasanya, biasanya kopi yang disuguhkan oleh waiter disini, porsi rasanya selalu pas, tak kurang tak lebih. Mungkin bukan kopinya yang tak enak, mungkin perasaanku yang membuat kopi ini tak enak atau mungkin peracik kopinya sedang tak baik-baik saja. Memang sih kedai kopi ini tercatat kedai baru yg launching sekitar 2bulan yang lalu, sejak pertama aku berkunjung dan menikmati kopi disini, semuanya terkesan sangat enak. Bukan hanya enak saja, para waiternya juga terlihat ramah dan friendly sekali orangnya. Hampir setiap hari aku tak pernah absen mengunjungi kedai ini, sampai-sampai beberapa waiternya tak  asing lagi denganku bahkan mereka sudah begitu mengenalku.
“Kok sendiri mbak, mas Bayu tak diajak?” Tanya salah seorang kasir.

Ini yang sudah aku takutkan sebelum memutuskan pergi ke kedai ini, mesti akan menjadi pertanyaan besar ketika aku ke kedai ini sendiri tanpa ditemani Bayu. Iya biasanya memang bayu yang menemaniku mengunjungi kedai ini sejak pertama kali aku menginjakkan kaki dikedai ini. Bayu juga yang mengenalkanku bagaimana caranya menikmati kopi yang terlalu pahit agar terasa lebih manis ketika diseduh. Yang mengajariku bagaimana hidup ini seperti secangkir kopi, ada pahit ,manisnya. Tergantung bagaimana cara kita menyeduhnya dan menikmatinya.

“Bayunya masih disemarang mas” jawabku ngasal.
Padahal aku sendiri tak tau bayu sekarang ada dimana? Tak ada kabar, tiba-tiba menghilang sudah hampir seminggu. Disms tak terkirim, dihubungi lewat sosnet juga tak ada respon. Entahlah menghilang kemana bayu sekarang.
“Oh begitu, mau pesan apa? Ganti menu baru apa kayak biasanya?” Tawarnya  
“emmm apa ya,  kayak biasanya aja lah mas, tak mau coba-coba yang lain takut gak cocok sama rasa kopi yang baru” jawabku
“Wih bahasanya seperti orang sedang putus cinta” tanggapnya
“Hahaha itu mah masnya saja yang berlebihan” tepisku

Kedai kali ini teramat rame, hampir semua tempat duduk penuh dengan pengunjung. Kuinget-inget kembali hari apakah ini? Kok kedai ini terlihat sangat ramai. Sebelumnya tak pernah aku melihat kedai ini teramat rame seperti ini, biasanya separo dari tempat duduk terisi. Ku raih ponselku lalu kulihat hari apakah hari ini? Oh pantesan, ini hari minggu. Pantesan ramai bener. Sepertinya aku salah keluar malam ini. Yasudah sudah terlanjur, daripada tak merasakan kopi malam ini. Aku mencoba mencari tempat duduk yang tak terlalu rame, iya hanya ada satu bangku kosong diujung sana, aku bergegas menghampiri bangku kosong tersebut.
Selang beberapa menit, seorang waiter mengantarkan kopi pesananku.

“Silahkan mbak” ujarnya
“Iya makasih” jawabku

Aroma kopi ini begitu menyedapkan hidung siapa saja yang menciumnya, terlebih bayu. Dia sangat suka dengan aroma kopi ini, entah kenapa setiap kali aku menyeduh kopi panas ini, aku selalu merasa bayu tak pergi, aku selalu merasa dia selalu disampingku, didekatku, mendekapku. Sesekali aku memejamkan mata dan mencubit kecil tubuhku sendiri, barangkali benar adanya kalau sekarang ini bayu memang disampingku, setelah kubuka kembali mataku yang sempat terpejam beberapa menit ketika menyeduh kopi panas ini, kosong. Tak ada bayu disini. Kemana sih kamu bay, batinku. aku tak tau salahku dimana sampai kau hilang dariku begitu tiba-tiba seperti ini. Suara ponsel mengagetkanku. Kulihat disana tertera nomor yang tak kukenal memanggil. Kucoba mengangkat panggilan tersebut.

“Elsaaa” terdengar suara dari ujung sana
“Iya halo, ini siapa?” tanyaku
“Elsa, ini aku bayu.” Jawabnya

Ada sedikit ketenangan dihatiku, ketika dia menyebutkan namanya. Pria ini tak biasanya menghilang begitu saja  seperti tadi.

“Bayu, serius ini kamu?” tanyaku lagi
“Sebegitu asingkah diriku el, sampai kamu tak mengenaliku suara merduku” jawabnya.
“Bay, kamu kemana saja bay? Tiba-tiba gada kabar, nomor gak aktip, wa, bm, line , fb, twitter juga gak aktip. Kamu habis diculik siapa?” tanyaku
“Ciye ciye nyariin aku ciye, ciye hawatir ciye” usilnya
“Gimana tak hawatir coba bay, sudah seminggu kamu tak kasih kabar, sudah seminggu kamu tak kunjung pulang.”
“Iya iya sory, kemarin-kemarin hpku hilang el dikampus.”
“Kok bisa sih bay, kenapa kamu tak cepat-cepat menghubungiku kala itu? Aku coba sms ke diko, katanya kamu sudah seminggu tak balik ke kosan. Bener begitu?”
“Kamu cariin aku ke diko el?”
“Iya aku nanyain kamu ke diko, habisnya aku hawatir bay sama kamu.”
“Iya tenang saja el, aku baik-baik saja kok, kmu dimana sekarang el? Kok suaranya rame banget”
“Aku lagi dikedai bay, kamu belum jawab pertanyaanku bay, kamu darimana seminggu yang lalu? Hilang tak ada kabar”
“Tuh kan ke kedai gak ngajak-ngajak”
“Gimana mau ngajak? Orang kamunya tiba-tiba ngilang kayak pocong”
“Ih jahat sekali, aku disamain sama pocong”
“Biarin, salah siapa ngilang-ngilang begitu”
“Iya dah gak ngilang lagi, janji deh”
“Halah janji-janji doang paling orang kamu tuh”
“Serius elsa. El besok aku balik, tungguin aku ya besok kita ke kedai bareng lagi.”
“Besok memang kamu tak ada kuliah?”
“Gada elsa. Selasa baru ada kelas”
“Yaudah besok hati-hati baliknya, tak usah ngebut-ngebut”
“Iy siap bos, sekalian besok aku mau cerita sama kamu el”
“Soal apa?”
“Aku sedang jatuh hati sama seseorang el”

Senyum mengembangku tiba-tiba sedikit meredup. Mungkin ini ada kaitannya kenapa bayu seminggu ini ngilang. Kenapa aku jadi tak karuan begini? Bukankah wajar-wajar saja bayu jatuh hati kepada wanita lain selain diriku. Toh memang selama ini hubunganku sama bayu hanya sekedar teman semasa kecil, sahabat lah istimewanya. Tak lebih.

“el apa kamu dengerin aku?”
“eh ya bay, ok lah sampai berjumpa besok” kataku menutup telepon secara tiba-tiba. 

Hatiku tak karuan rasanya, seharusnya aku tak seperti ini, seharusnya aku biasa saja, seharusnya aku paham betul bahwa aku tak pantas cemburu tak dalam status. Mungkin aku terlalu lama bareng sama bayu, jadi berasa susah menerima kenyataan kalau pada akhirnya antara aku dan bayu harus pisah, menuju hidup masing-masing. Mencari jodohnya sendiri-sendiri. Seharusnya seperti itu tapi entahlah. Aku tak mengerti kenapa tiba-tiba seperti ini. Rasanya tak ingin ada hari esok biar aku tak bisa ketemu bayu dan tak mendengarkan cerita tentang wanita yang didambanya itu. Tapi apa boleh buat? Mau tak mau, yang namanya sahabat harus ada disaat sahabatnya membutuhkan meskipun terkadang sesuatu itu menjadi kebalikannya. Setelah cukup lama berdiam diri dikedai ini sendirian ditambah suasana yang rame begini, rasanya aku ingin cepet-cepet pulang dan merebahkan sejenak apa yang sejak tadi mengulumutiku. Segera aku bereskan barang-barangku kedalam tas dan bergegas menuju kasir untuk membayar kopi yang tadi aku pesan.

“Cepat banget mbak, jam segini udah mau pulang” Tanya kasir tersebut
“Iya mas, udah disuruh mama pulang, ini mas uangnya” jawabku
“Iya mbak, makasih ya. Sering-sering kesini lagi” pintanya
“Iya mas ok, mari mas” jawabku
“Nggeh mbak monggo”

Aku keluar dari kedai dan bergegas menaiki sepeda motorku dengan kecepatan yang tak terlalu ngebut,  malam ini malam minggu. Banyak pemuda pemudi yang ngawur bawa motor dijalanan. Rasanya aku ingin terbang dan cling sampai rumah. Tapi apa boleh buat? Jalan ini bukan jalan milik eyangku, ini jalan umum yang siapa saja boleh melewatinya. Sesampainya dirumah, aku bergegas kedalam kamar, ku rebahkan semua bebanku disini, tak ada yang tau aku lagi bersedih, jangankan papa, mama saja tak tau kalau anaknya lagi sedih. Tak ada satupun yang berusaha menghiburku, biasanya bayu yang selalu menghiburkan ketika aku bersedih tetapi sekarang yang menjadi alasanku bersedih adalah dirinya. Mana bisa dia bisa menghiburku? Aku tak dapat tidur, apa yang harus aku lakukan besok? Apakah aku harus menemuinya besok? 

To be continue................... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar