Senja kali ini tak begitu indah, terlihat murung,
seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi dia tak mampu. Entahlah walaupun senja
kali ini terlihat murung tapi aku bisa menikmatinya dengan perasaan yang justru
kebalikannya, aku merasa bahagia saat ini, karena aku bisa mengajak perempuan
yang dulu hanya bisa aku mimpikan didalam dunia mimpi. Sekarang, hari ini
tepatnya diulang tahunnya yang ke 21tahun, aku bisa menikmati senja bersamanya,
ditempat yang sama. Sesekali aku mencubit lenganku sendiri, barangkali aku
sedang bermimpi bisa mengajaknya kepantai ini.
“Lu orang pertama yang mengajakku menyaksikan senja
seperti vin” suara lirih irin membuyarkanku
“Benarkah?” tanyaku melempar pandangan kearahnya.
“Benarkah?” tanyaku melempar pandangan kearahnya.
Irin hanya mengangguk, menandakan bahwa yang
dikatakannya sungguh benar adanya.
“Irin, happy birthday ya, semoga nambah baik segalanya, makin lancar.” Kataku sambil mengulurkan tangan
“Iya amin, thanks vin” jawabnya sambil membalas uluran tanganku
“Sory ya rin, gue gak bisa ngasih lu kado apa*”
“Ini udah cukup kok vin, udah hadiah terindah yang pernah gue terima, thanks ya vin” jawabnya.
“Irin, happy birthday ya, semoga nambah baik segalanya, makin lancar.” Kataku sambil mengulurkan tangan
“Iya amin, thanks vin” jawabnya sambil membalas uluran tanganku
“Sory ya rin, gue gak bisa ngasih lu kado apa*”
“Ini udah cukup kok vin, udah hadiah terindah yang pernah gue terima, thanks ya vin” jawabnya.
Sorotan mata itu yang selalu tak bisa aku pandang
lama-lama. Kedua bola mata yang indah, yang selalu berhasil membuatku berdebar
tak karuan, berkeringat dingin, dan membuatku tak bisa berkata apa-apa. Ditambah
bibirnya yang indah membuat wajahnya semakin terlihat sempurna. Perempuan ini
yang dulu hanya bisa aku cintai dalam diam, yang hanya bisa aku mimpikan,
sekarang dia berada didepanku, menemaniku menikmati senja yang terlihat
murung, bukan ikut menikmati senja lebih tepatnya ikut menghibur senja yang
cenderung murung. Duh betapa beruntungnya pria seperti aku yang bisa duduk
berdua dibibir pantai sambil menikmati senja sore ini bersama perempuan cantik
seperti irin, yang namanya selalu digembar-gemborkan oleh pria-pria difakultas
ekonomi. Aku tak tahu bagaimana nanti tanggapan mereka ketika mengetahui irin
mau aku ajak kesini. Mungkin mereka akan mengolok-olokku dan bilang aku tak
punya malu.
“Kenapa lu nglamun vin?”panggilnya
“oh enggak rin, gimana? Lu suka?”tanyaku
“Iya vin gue suka, sering-sering ya ngajak gue kesini”
“ok siap”
“Lu sering kesini ya vin?”
“Iya rin, gue kalau lagi bĂȘte, sering kesini.”
“Sendirian?”
“Iya sendirian rin, baru lu yang gue ajak kesini”
Irin tak menjawab, dia hanya mengangguk. Entahlah, aku tak mengerti arti anggukannya tersebut. Tiba-tiba terbesit didalam benakku untuk mengatakan sesuatu yang dulu hanya bisa aku pendam dalam diam, aku ingin mengatakan kalau aku mencintainya. Tapi aku tak mampu. Aku tak berani menerima resikonya kalau nanti akhirnya irin menolakku. Tetapi kalau tak mencobanya, sampai kapan aku hanya bisa menjadi temannya irin, sampai kapan aku harus mencintai irin dalam diam, sampai kapan?
“oh enggak rin, gimana? Lu suka?”tanyaku
“Iya vin gue suka, sering-sering ya ngajak gue kesini”
“ok siap”
“Lu sering kesini ya vin?”
“Iya rin, gue kalau lagi bĂȘte, sering kesini.”
“Sendirian?”
“Iya sendirian rin, baru lu yang gue ajak kesini”
Irin tak menjawab, dia hanya mengangguk. Entahlah, aku tak mengerti arti anggukannya tersebut. Tiba-tiba terbesit didalam benakku untuk mengatakan sesuatu yang dulu hanya bisa aku pendam dalam diam, aku ingin mengatakan kalau aku mencintainya. Tapi aku tak mampu. Aku tak berani menerima resikonya kalau nanti akhirnya irin menolakku. Tetapi kalau tak mencobanya, sampai kapan aku hanya bisa menjadi temannya irin, sampai kapan aku harus mencintai irin dalam diam, sampai kapan?
“Irin” panggilku.
“Hemm, iya kenapa?” jawabnya sambil memainkan pasir yang digenggamnya.
“Irin mau sering-sering diajak kesini kan?”
“he.em iya mau lah” jawabnya singkat.
“Kalau misalnya irin udah punya pacar, irin memang dibolehin pacarnya, gue ajakin kesini lagi?”
Irin menghentikan mainan pasir ditangannya, kedua matanya menatapku cukup lama, seolah memberi isyarat bahwa apa yang sudah aku katakan tadi salah. Kami terdiam cukup lama, tak ada suara, hanya suara ombak dan hembusan angin yang mengacak-acak rambut irin. Aku tak tau harus bagaimana, aku takut menyinggung perasaan irin.
“Gue salah bicara ya?” aku memberanikan membunuh kebungkaman ini.
“Mana mungkin pacar gue nanti melarang gue menikmati senja seperti ini vin, kebiasaan dia kalau lagi bĂȘte saja sering kesini.” Katanya sambil tersenyum
Aku tak mengerti apa yang irin katakan, berarti irin membohongiku kalau dia bilang dia baru pertama kali menikmati senja seperti ini, padahal pria yang dia cintai sering melakukan hal yang sama sepertiku. Belum sempat aku menanyainya lagi, dia sudah balik bertanya padaku.
“Bagaimana nanti
kalau pacar lu yang nglarang lu ngajakin gue kesini? Apa mungkin nanti lu
ngajakin pacar lu kesini?” tanyanya balik“Hemm, iya kenapa?” jawabnya sambil memainkan pasir yang digenggamnya.
“Irin mau sering-sering diajak kesini kan?”
“he.em iya mau lah” jawabnya singkat.
“Kalau misalnya irin udah punya pacar, irin memang dibolehin pacarnya, gue ajakin kesini lagi?”
Irin menghentikan mainan pasir ditangannya, kedua matanya menatapku cukup lama, seolah memberi isyarat bahwa apa yang sudah aku katakan tadi salah. Kami terdiam cukup lama, tak ada suara, hanya suara ombak dan hembusan angin yang mengacak-acak rambut irin. Aku tak tau harus bagaimana, aku takut menyinggung perasaan irin.
“Gue salah bicara ya?” aku memberanikan membunuh kebungkaman ini.
“Mana mungkin pacar gue nanti melarang gue menikmati senja seperti ini vin, kebiasaan dia kalau lagi bĂȘte saja sering kesini.” Katanya sambil tersenyum
Aku tak mengerti apa yang irin katakan, berarti irin membohongiku kalau dia bilang dia baru pertama kali menikmati senja seperti ini, padahal pria yang dia cintai sering melakukan hal yang sama sepertiku. Belum sempat aku menanyainya lagi, dia sudah balik bertanya padaku.
Aku sejenak diam, tak langsung menjawab.
“Aku hanya ingin membawa satu perempuan kesini rin, hanya satu perempuan yang akan aku kenalkan kepada senja, pantai, ombak, dan orangtuaku nanti.” Jawabku
“Maksut lu? Kan lu ini udah ngajak gue kesini, lalu?”
“Iya rin, aku hanya ingin membawamu dan mengenalkanmu pada mereka jika kamu berkenan” kataku sambil menggenggam tangan irin. Irin tak menjawab dia hanya bisa diam, entahlah apa yang sedang dia pikirkan.
“Irin, maukah lu? Tak usah bingung rin, kalau memang lu tak bisa, gue gak maksa.” Jelasku
Irin nampak mendongakkan kepalanya dan berusaha menjawab pertanyaanku. Terlihat matanya berkaca-kaca, apa yang sedang dipikirkan sama irin? Entahlah. Aku tak mau berandai-andai daripada aku salah mengartikan semua ini.
“Kalau lu gak bisa tak apa rin, memang lebih baik lagi kalau kita hanya berteman, udah gak usah dibahas lagi” kataku melepaskan genggaman tangannya.
“Vin, gue mau” jawabnya sambil meneteskan airmata.
“Rin, lu serius? Kataku tak percaya.
“iya gue serius, gue terharu vin”
ku genggam kembali tangannya, kuusap airmatanya dan kuraih tubuhnya kedalam pelukanku. Aku kegirangan, aku peluk irin erat-erat ku bisikan lirih ditelinganya “I love you sayang” dia tak menjawab, dia hanya menangis terharu. Aku longgarkan pelukannya, aku cium keningnya dan mengusap air matanya lalu menggendongnya berlari dibibir pantai. Senyum mengembang dibibir irin.
“Lihat sayang, betapa senja ikut ceria melihat kita seperti ini, I love you bee” kataku
“Iya bee, love you too”
Ku peluk irin sekali lagi, terdengar debur ombak semakin merdu seperti ikutserta dalam kebahagiaan kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar