Aku percaya Takdir.

Selasa, 04 Maret 2014

Wanita itu bernama ELSA


 “Kenapa bersedih El ?”  Kata seorang pria yang duduk disampingku.

Aku tak menjawab, dia masih terdiam dan seolah tak menggubris apa yang sedang dibicarakan oleh abangku itu. Mengerti kalau adik perempuannya tidak akan menjawab pertanyaannya, Evan menggenggam tangan elsa, berharap elsa mau menceritakan apa yang telah terjadi padanya. Namun rupanya upaya evan masih tak mampu membuat elsa mau angkat bicara.
“El, apa gerangan yang membuatmu seperti ini ? Biasanya kamu tak pernah seperti ini el, sebelumnya kamu tak pernah seperti ini.” Tanyanya lagi.

Elsa menoleh kearah evan lalu kembali dia melempar pandangan kearah pengunjung yang datang diangkringan miliknya.

“Aku tak mengerti apa yang sedang aku alami ini van, aku bingung.” Jawab elsa lirih diiringi airmatanya yang mulai jatuh menumpahi kopi hitamnya itu.

 “Sudah, sudah husssttt jangan nangis sayang, masih ada abang disini.” Kata evan sambil memeluk adiknya itu.

 “Tenangin dulu hatinya, jangan ceritakan dulu. Buatlah hatimu nyaman dulu. Hussttt udah jangan menangis.” timpalnya lagi.

Elsa mengerti bahwasannya evan yang selalu bisa membuatnya merasa nyaman. Elsa menumpahkan semua tangisannnya dipelukan evan. Elsa tak peduli dengan pengunjung  yang datang memerhatikannya. Dia tak peduli. Yang elsa pikirkan hanya bagaimana dia tidak sesakit ini.
Hari semakan malam, pengunjung yang datang sudah bergegas meninggalkan angkringan miliknya dan elsa masih belum berhenti menangis, mungkin saking berat beban yang dipikul elsa sehingga dia tak kunjung berhenti menangis.

“Sebaiknya kamu pulang dulu saja, kamu istirahatkan dulu badan dan pikiranmu, biar abang yang jaga angkringan.” Evan menyarankan.

“Aku pulang nanti bareng kamu saja van, lagian percuma kalau aku pulang aku juga nanti susah tidur.” Jawab elsa.

“Yasudah kamu rebahan dulu diruang kerjamu, biar abang disini jagain angkringan, ini sudah jam 10 lho, gak baik wanita jam segini belum tidur, nanti kamu sakit, gih tidur sana.” Suruhnya.

“Van, biar aku disini, aku egk mau sendirian van, nanti aku jadi semakin mikir yang egk*. Ujarku.

“Memangnya apa sih yang kamu pikirkan, soal Rafa?” Tanyanya lagi.

Deg, tiba* hatiku merasa tak karuan ketika evan menyebut nama rafa. Rafa, pria yang bernama lengkap Rafael Aditya, dia dulu adalah kekasihku, dia menyayangiku, dia yang membawaku menuju kesuksesan, dia yang merawatku ketika aku sakit, dia yang selalu mampu membuatku merasa paling nyaman setelah evan. Begitulah dulu sosok rafa, ketika dia masih sabar menghadapi jarak rumahku dan rumahnya, ratusan bahkan ribuan kilometer. Namun setelah sekian lama, mungkin dia merasa bosan dan pengen seperti halnya pasangan lainnya yang kemana* bisa bareng, ngapain* bareng, begitulah sejatinya pasangan, katanya. Aku sangat merasa, sekarang ini rafa berubah, sikapnya yang dulu kupikir berlebihan kini berubah menjadi cuek. Saat itulah aku merasa mungkin rafa sebenarnya sudah tak butuh aku lagi, mungkin rafa sudah mempunyai sosok lain disana, yang bisa diajak kesana kesini bareng. Bukan seperti aku ini. Ah begitu banyak pertanyaan yang muncul dikepalaku ketika nama rafa disebut, mengingat yang manis dan mengingat yang pahit sekalipun. Biarkan Rafa memilih jalannya, bukankah sejatinya mencintai seseorang itu harus rela orang yang disayanginya bahagia tanpa dirinya? Begitulah semestinya.

“hey el, kok bengong? Abang salah ngomong ya?” Tanya evan.

Aku masih tak menjawab, pikiranku masih tentang rafa, rafa dan rafa. Ah berlebihan.

“Elsa.” Panggilnya lagi.

“Egk salah kok van” jawabku.

“Terus apa sih yang sedang kamu pikirkan?” tanyanya.

“Van, begini ya rasanya kehilangan? 

“Kehilangan siapa el? Ayah?”

“Kehilangan orang* yang kita sayangi”

“Beginilah hidup el, tentang siapa yang datang dan pergi, ada kalanya orang yang kita sayang pergi, dan mau tak mau kita hanya bisa menerima apa yang sebenarnya sudah menjadi takdir kita el.”

“Aku tak mengerti van, kenapa mereka perginya barengan. Ayah lalu rafa. Mereka dua ini adalah pria yang teramat berarti buatku van, termasuk kamu. Ayah, rafa dan kamu adalah tempat ku bercerita, sosok yang sangat aku impikan van tapi sekarang, ayah lebih memilih tinggal disurga ketimbang disini bersamaku. Lalu rafa lebih memilih tinggal dipelukan orang lain ketimbang pelukanku. Pria yang aku punya sekarang cuma kamu van, aku tak tau apakah nanti kamu seperti mereka, tega meninggalkanku sendiri disini, sungguh van aku kehilangan segalanya, kesuksesan yang aku raih tak ada artinya kalau tanpa kalian van.” Tangisku.

“Aku tau el apa yang sedang kamu rasakan, masih ada aku disini el, aku tidak akan ninggalin kamu el, aku nemenin kamu terus el, jangan sedih ya cantik ya, sekarang lanjutin hidup kamu sayang, masih banyak kok pria diluar sana yang jauh lebih baik dri rafa, masih banyak, cuman kamu buka dulu hatimu buat yang baru. Kalau kamu masih menutup hatimu mana bisa pria diluar sana mau masuk el, ngerti kan sayang?” ucapnya sambil memelukku.

“Kamu tau teman abang yang namanya galang? Yang dulu pernah jagain kamu selama kamu hilang ingatan? Yang sering nganterin kamu kemanapun kamu pergi? Dia kemarin cerita sama abang kalau dia juga suka sama kamu, belum lagi si bayu.”

“Tapi kan suka sama sayang itu beda van, mungkin galang itu hanya sekedar suka, sekedar sayang sebagai seorang adik. Kalau bayu, aku sudah janji sama rafa van, rafa dulu pernah melarangku berteman dengan bayu, karena sikapnya  yang temperamental, yang emosinya suka meledak* dan sering nyusahkan keluarga kita van.”

“Ya sudah apapun yang ingin kamu lakukan, lakukan saja, abang gk ingin melarangmu, abang dukung kamu selama yang kamu lakukan itu membuatmu seneng, ya?

Aku hanya menggangguk, tak menjawab. Sudah pukul 10.30, pengunjung masih begitu ramai. Aku melempar pandangan kesemua pengunjung yang datang, banyak pengunjung yang bersuka ria bersama teman*nya, ada pengunjung yang menghabiskan waktunya sendiri,  menikmati aroma kopi yang begitu menyengat hidung siapa saja yang datang ketempat ini. Lalu aku melempar pandangan kearah kanan dimana tepat didepanku duduk, terlihat dua sejoli itu sedang merasakan kebahagiaan dengan menghabiskan waktunya dengan duduk manis berdua menikmati suasana yang ada ditempat ini, terkadang aku melihat mereka saling bersuapan, pegangan tangan, mengusap keringat perempuannya, sungguh ini pemandangan yang tak menyedapkan mata dan hatiku. Pandanganku buyar ketika ada sosok pria datang menghampiri tempat dudukku bersama evan, dia adalah galang. Sahabat evan yang dulu pernah merawatku ketika aku lupa ingatan, galang ini yang mengantarkanku kemanapun aku pergi.

“sory bro gue telat,” kata galang mengawali percakapan.

“Santai aja lang, kagak apa*” Evan menjawab sambil berjabat tangan dengan sahabatnya itu.

“Elsa apa kabar? Sudah sembuh sakitnya? Kenal sama aku gak?” Kata galang

“Alhamdulillah udah mendingan, ingat lah, kamu galang yang dulu abangku nitipin aku ke kamu ketika dia sibuk ngurusi skripinya itu kan?” jawabku

“Nah iya pinter, udah inget” katanya sambil mengacak* rambutku.”

“ih resek banget ya kamu ini”  aku tak membalasnya.

Kulihat sedari tadi evan sedang asik dengan handphone yang dipegangnya, dia lagi asik bbm-an sama kezia, kekasihnya. Lalu galang mencairkan suasana kembali.

“Sa, kamu habis nangis ya? Kok matanya bengkak gitu” Tanya galang.

“Iya lang, dia lagi galau” jawab evan.

“Ngapain sih galau* mulu” kata galang

“Tau tuh elsa, cemen banget” timpal evan

Percakapan kita terhenti ketika kasir memberi peringatan kepada semua pengunjung yang datang kalau 20 menit lagi, angkringan akan ditutup. Evan lalu menghampiri kasir tersebut guna menghitung jumlah uang pemasukan yang ada. Aku tak sadar bahwasannya dari tadi, galang sedang memandangiku. Aku mencoba tak menghiraukannya namun semakin lama, galang semakin tak berhenti memandangiku.

“Lang, mau minum apa?”

“Ehmm, terserah deh”

“Ya sudah sebentar ya, aku nyusul evan dulu.”

“Ngapain, disini aja nemenin aku” katanya.

“Ada yang mau aku omongin sama kamu sa,” timpalnya lagi.

“Mau ngomong apa? Ngomong gih”

“Kamu kenapa sedih?”

“ih kepo banget sih kamu ini lang, rahasia :p”

“Kok gitu sih sa”

“Biarin :p “

Evan memanggilku, dan aku bergegas menghampirinya. Setelah aku dan evan membereskan semuanya. Semua pengunjung sudah pada pulang. Begitu juga sebagian dari karyawan*. Tinggal aku evan galang. Aku menuju kedalam mobil terlebih dahulu karena aku sangat mengantuk, sedangkan evan dan galang mengunci angkringan. Sembari menunggu evan masuk kedalam mobil, ponselku berdering. Beberapa sms dan telpon yang masuk dari rafa. Dia mencariku. Raut wajah mengantukku menghilang dan berganti dengan tangisan. Aku tak habis pikir, apa maksut dengan semua ini? Dia yang bilang kalau dia bosan denganku, bosan dengan jarak yang ada, tetapi dia masih mencariku, masih membuatku selayaknya kekasihnya, padahal jelas sekali dirinya sudah menggantikan diriku dengan yang lain. Apa maksutnya ini semua? Evan dan galang menuju ke arahku.

“Sa aku balik dulu ya?” Pamit galang kepadaku
Belum sempat aku menjawab, galang bertanya lagi. 

“Lho kamu kenapa nangis sa?” Evan yang tadinya sibuk dengan ponselnya ketika mendengar adik perempuannya kembali menangis, sontak dia melihatku.

“El, are you ok?” kata evan sembari membuka pintu mobil.

“Elsa, sudah dong sayang jangan sedih, sudah sudah cup cup sayang” katanya mencoba menenangkanku sambil memelukku.

“Lang, kalau lu mau balik, balik aja dlu lang, elsa biar aku yang ngurus” kata evan.

“Enggak van, kita bareng saja nanti baliknya.” Jawab galang

“Lu mau balik ketempat gue aja apa?” Tanya evan

“Gitu juga boleh van” singkat galang.

“Yaudah kita balik sekarang aja, udah malam ini, gak baik diliat warga.” Saran evan

“iya bener van ayok.”

Disepanjang jalan pulang, aku tak bicara apapun, aku hanya bisa diam dan netesin airmata, tak mengerti apa yang sedang rafa lakukan padaku. Rafa membuatku semakin bingung. Evan mencoba menghibur tetapi sia* saja.
Setelah sampai rumah sekitar pukul 11.30, aku langsung menuju kedalam kamar, aku tak menghiraukan evan dan galang. Aku berlari kekamar dan menangis sejadi-jadinya. Ponselku masih berdering. Setelah ku buka pesannya, masih dari rafa. Ya tuhan, mau gimana lagi aku ini, apa sebenarnya maunya rafa? Bukankah dia yang sudah bilang kalau dia bosan, tetapi kenapa dia sampai sekarang masih mencariku? Masih memberi perhatian padaku layaknya aku ini masih kekasihnya? Apa maksutnya tuhan? Terdengar evan memanggilku dari balik pintu, tapi aku tak menggubrisnya. Evan dan galang mencoba menghiburku melalui sms tetapi aku masih memikirkan rafa, oh apakah yang rafa lakukan sampai membuatku merasa seperti ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar