"Part of my writing"
Setelah sampai dipantai, galang memarkirkan mobilnya
ditempat parkir yang semestinya sudah disiapkan. Mobil baru saja berhenti, tak
peduli evan dan galang, aku lalu bergegas turun dari mobil dan berlari kearah
pantai disebrang tempat kami memarkir mobil. Galang dan evan menggelengkan
kepala mereka melihat tingkahku yang lucu ini. Setelah sampai dibibir pantai,
aku menghela nafas panjang.
“huuuuuuuuuuhhhhhhhhh” Nafasku tersendak
“Begitu cintanya ya sama pantai, sampai* aku
ditinggalkan” Suara itu berasal dari belakangku
“Eh galang, iya sory lang, aku memang suka sekali
dengan pantai lang, pantai ini bisa menenangkanku” jelasku
“Ohh gitu” jawabnya singkat
“Evan mana lang?” tanyaku
“Dia sedang ketoilet sa” jawabnya
“kamu kenapa jadi murung gitu lang” kataku
menanyakan.
“Enggak apa* sa, aku hanya takut dengan pantai”
“Loh kenapa gak suka lang? Pantai kan indah”
“Aku pernah punya masa lalu yang jelek dengan pantai
sa”
“Aduh sory ya lang, aku enggak tau kamu enggak suka
dengan pantai, kalau kamu enggak suka dengan pantai, kenapa tadi kamu ikut
kesini?”
“Aku kan maunya nemenin kamu sa”
“Halah, mulai lagi rese nya”
“Lhoh siapa yang rese?”
“Iya kamu lah, siapa lagi”
“Sa kesana yuk, disana tempatnya indah lho”
“Iyaudah ayok” kataku berjalan beriringan mengikutinya.”
“Lang boleh tau enggak kenapa kamu enggak suka
dengan pantai?”
“Ihh gantian kamu kan yang kepo”
“Ihh kok gitu sih lang”
“Biarin saja, salah siapa kemarin aku nanya kamu
enggak jawab gitu”
“Iyaudah kamu certain dulu nanti gantian aku
ceritakan, gimana?”
“Deal ya?”
“Iya deal” kataku sambil menjabat uluran tangannya
“Ceritanya begini sa, dulu aku pernah kehilangan
perempuanku disini sa, ketika kita mencoba untuk menaiki kapal menuju ke pulau
panjang. Waktu berangkatnya kita aman* saja sa, aku dan perempuanku sempat
menghabiskan waktu dipulau panjang sa tapi setelah perjalanan pulang dari pulau
panjang tiba* kapal yang kami naiki terbalik sa, banyak sekali korban yang
tidak selamat dalam peristiwa ini termasuk perempuanku sa.” jelasnya
Aku tak bisa berkata apa*, aku hanya bisa menepuk* bahunya.
“Peristiwa itu masih jelas teringat olehku sa, tapi
aku yakin kalau rahasia Allah lebih indah dari ini sa.”
“Iya lang, dibalik setiap masalah pasti ada
hikmahnya kok, tinggal kita yang sabar dalam
menjalani semuanya”
“Kalau enggak ada peristiwa kayak kemarin, mungkin
sekarang aku enggak akan kenal sama wanita secerdas dan secantik kamu elsa.”
“Tuh kan gombal lagi”
“Enggak gombal kok, aku serius, kamu itu cerdas
sekali berbisnis, pinter juga mengolah uang. Bangga sekali aku kenal sama kamu
sa”
“Sudahlah tak usah berlebihan”
“Iyauda iya, sekarang giliranmu bercerita” katanya
menatapku.
Aku memandangnya balik, ada keseriusan dimatanya
untuk mengetahui apa yang ingin aku ceritakan padanya. Lalu aku melempar
pandangan kepantai yang lepas ini.
“Begini lang ceritanya, aku sudah enggak sama rafa”
kataku sambil merunduk.
“Maafkan aku sa kalau aku memaksamu bercerita”
sesalnya sambil merangkul lenganku kedalam pelukannya.
“Tak usah bersedih sa, semua yang ada didunia ini
enggak ada yang abadi, ada kalanya orang yang kita sayangi meninggalkan kita,
seharusnya kita dari awal sudah sepakat kalau dengan datangnya cinta yang
dibawa oleh pasangan kita pada akhirnya kita memang harus siap apabila mereka
meninggalkan kita” katanya lirih.
“Sudah janganlah larut dalam sedihmu begini, masih
banyak yang sayang sama kita, banyak kok yang sayang sama kamu, setauku, selain
kamu wanita cerdas dan pandai berbisnins, kamu juga wanita terkuat yang pernah
aku temui setelah ibuku sa, kamu kuat dalam menjalani semua rintangan hidup
yang datang menghampirimu. Seharusnya beruntunglah pria yang bisa mendapatkan
cintamu dengan tulus sa, seharusnya kamu tak pantas disia*kan begini sa.”
Timpalnya
Seharusnya memang begitu lang, batinku. Seharusnya
rafa tak melakukan hal tersebut padaku. aku selalu salah dimata rafa, aku
seperti anak kecil dimata rafa, rafa tak pernah melakukan tindakan yang
membuktikan dia sayang sama aku. Kalau memang aku tak bisa menjemput dia
dikotanya, seharusnya dia yang berusaha menemuiku disini, tapi kenapa dia tidak
tak berusaha? Kenapa dia tak berusaha menabung? Siapapun wanita ingin prianya
yang mengunjunginya bukan wanitanya. Aku sudah pernah ingin memberikannya
surprise dengan menemuinya diam* namun pada saat aku kesana yang kudapat hanya
luka, yang kulihat rafa sedang berboncengan dengan wanita lain. Hati wanita
mana yang tak sakit melihat prianya begitu dibelakangnya. Pria yang selalu
kudamba kubanggakan karena kegigihannya, kecerdasannya, kesetiaannya namun
kenyataannya begitu.
“aku tak tau lang” jawabku
“tak usah kau pikirkan sa, biarkan semua ini
mengalir seperti air dipantai ini, ada hikmah yang lebih indah dari ini sa”
katanya sambil mengusap rambutku
“tenangkanlah dirimu terlebih dahulu, luruhkan semua
bebanmu disini, tinggalkanlah semua bebanmu disini, biar air dipantai ini yang
membawanya pergi” timpalnya lagi.
“Lang, dulu apa kamu merasakan apa yang saat ini
sedang aku rasakan?” tanyaku sembari bangun dari bahunya
“Iya sa, aku dulu merasakan lebih dari yang kau
rasa. Semua orang pasti merasakan seperti kita kalau mereka ditinggalkan oleh
orang yang mereka sayang” jawabnya menatapku
“Sakit kan lang rasanya?” isakku
“Sakit yang kita rasakan saat ini tidak akan lama
kok sa, kita hanya butuh waktu untuk berdamai dengan masa lalu kita sa, jangan malah
kau melupakannya. Semakin kamu mencoba melupakannya semakin kamu akan teringat
olehnya” hiburnya mengusap airmataku
“Sudah jangan menangis sa” peluknya lagi.
*To be continue*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar