Aku percaya Takdir.
Minggu, 27 April 2014
Kamis, 17 April 2014
Dulu, ketika aku masih mencintaimu
Sayup
sayup terdengar suara angin berhembus dari jendela kamarku, hanya suara dentang
jam yang terdengar jelas, tak lagi ada suaramu ketika malam mulai menghampiri.
Entahlah, sedang dimana keberadaanmu sekarang. Jangankan sosok dirimu, suaramu
saja sudah tak lagi ku dapati. Apakah tak pernah kamu rasakan bagaimana rasanya
ditinggalkan oleh seseorang yang selalu ada buatmu? Tak pernahkah kamu pikirkan
hal itu? Tak ingatkah kamu dulu, dulu ketika kekasihmu yang sangat kamu
agung-agungkan tiba-tiba mengkhianatimu dan meninggalkanmu sendiri diangkringan
dan pergi dengan kekasihnya yang baru? Tak ingatkah kamu bagaimana hatimu kala
itu? Tak ingatkah kamu, siapa orang yang rela kehujanan menghampirimu ke
angkringan kala itu? Jika dirimu sudah tak ingat lagi, tak usah kamu
mengingatnya dengan terlalu, karena aku tak pernah memaksamu untuk
mengingatnya. Aku masih sabar untuk menunggumu mengingatnya. Aku percaya suatu
saat nanti, entah kapan, kamu bisa mengingat kembali bagaimana rasanya
ditinggal pergi dan dikhianati oleh orang yang kamu anggap penting. Semoga
ketika suatu saat nanti kamu kembali mengingat dan menyadari peristiwa
tersebut, aku masih duduk dibibir pantai ini bersamamu. Tidakkah kamu tahu, aku
sudah tak punya banyak waktu lagi menemanimu duduk dibibir pantai seperti saat
ini, maaf bukannya aku lancang mendahului kehendak Tuhan. Tapi akan lebih baik
kalau aku menyiapkan semua ini dari awal. Benar begitu bukan?
Terhitung
sejak dokter menvonis bahwa aku positif menderita penyakit kanker otak stadium
akhir. Sejak saat itu aku merasa tak ingin lagi memperjuangkan rasa cintaku
padamu yang tak kunjung kamu rasakan sampai saat ini. Aku merasa tak pantas
mendampingimu, aku merasa tak mau menyusahkan dirimu jika aku bersamamu. Kucoba
untuk membunuh rasa yang ada, rasa yang dulu menggebu-gebu minta ingin kamu
rasakan. Namun sampai saat ini, detik inipun tak kunjung terwujud. Dulu memang
aku pernah punya niat ingin menghilang darimu tapi hatiku berontak tak karuan
mendengar ide konyol tersebut. Dan hal itu tak pernah bisa aku lakukan. Namun
sekarang? Lihatlah. Kamu tiba-tiba menghilang dariku, sudah sebulan lebih kamu
tak ada kabar, tak bisa dihubungi. Tidakkah hatimu sedikit iba melihatku
seperti ini? Inikah balasan dari semua yang sudah aku lakukan kepadamu selama
ini? Selama kekasihmu mengkhianatimu? Yang merawatmu ketika kamu sakit? Ketika
kamu butuh teman curhat dan segalanya? Siapa yang selalu ada buatmu? Siapa?
Duhai pria bermata sipit dan berpipi lesung, kenapa tega kamu membiarkanku melawan
penyakit ini sendirian? Kenapa teganya kamu menghempaskanku dan memilih
bersembunyi ditempat yang tak pernah bisa kujamah? Malukah dirimu mempunyai
teman berpenyakit kanker seperti aku ini? Bukannya kamu sendiri yang bilang
kalau kamu sangat bangga memiliki teman sepertiku. Bukankah mulutmu sendiri
yang mengatakan kalau hanya aku satu-satunya wanita yang bisa mengerti maunya
hatimu selain ibumu.
Alvin,
bukankah kamu selalu berkata kalau tiba-tiba penyakitku lagi kumat-kumatnya
kamu mau selalu disampingku, kamu mau mengelus lembut kepalaku sampai aku
tertidur dan tak merasa sakit lagi, dan ketika ku jawab kalau aku wanita kuat
dan aku tak akan pernah merasakan sakit yang sering kau sebut itu lalu dengan
lantang kamu menjawab kalau kumatnya sakit kanker itu sakitnya berlipat-lipat,
dan aku hanya bisa membungkam mendengar nada suaramu mulai meninggi. Namun
memang benar katamu, saat ini aku sedang merasakannya, sungguh sakitnya
keterlaluan. Vin, aku sedang kumat seperti ini, katanya kamu mau menemaniku
meredam rasa sakit ini tapi sekarang mana vin? Jangankan sosok dirimu
disampingku, suara dan kabarmu saja tak ku dengar. Kalau memang bahagiamu itu
dengan meninggalkanku, tak apa vin, aku tak marah. Aku juga tak pernah punya
hak atas dirimu. Pergilah semaumu vin, maafkan diriku kalau nanti tiba-tiba
kamu datang dan mencariku lagi tetapi aku sudah tertidur disamping makam ayah
dan abangku. Maafkan diriku jika aku tak bisa merawatmu lagi saat kamu sakit,
tak bisa mendengarkan ceritamu lagi, tak bisa selalu ada buatmu lagi.
Terimakasih vin, sudah menjadi sosok pria yang menemaniku selama ini, walau
hanya sekedar teman, aku sudah sangat beruntung. Bahagialah vin, aku hanya
ingin melihatmu bahagia dari atas sana nanti.
Aku mencintaimu Alvin.
Wanita yang menggilaimu
Aku mencintaimu Alvin.
Wanita yang menggilaimu
Soya
Selasa, 08 April 2014
Kepada hati yang tak tau diri
Maafkan hatiku yang
sudah lancang merindukan dirimu, ah tidak, maksutku aku merindukan hatimu.
Maafkanlah. Aku tak tau harus bagaimana. Tapi tenang saja, aku hanya
merindukanmu, tak berusaha untuk mengusik semua keadaanmu yang sudah baik-baik
saja, tak akan. Aku bukan tipe wanita yang ingin merusak hubungan orang lain,
aku hanya ingin mengutarakan segala yang kurasa dalam bentuk tulisan ini, dan
aku yakin kamupun tak akan sempat membaca tulisan jelekku ini, dan aku juga tak
berharap kamu membacanya karena kalau sampai kamu membacanya mungkin aku akan
tutup muka atau memalingkan wajahku ketika bertemu denganmu. Kalaupun kamu
sempat membaca tulisan ini mungkin kamu akan tertawa terbahak-bahak mendapati
diriku yang bisa dikatakan belum sepenuhnya buang rasa. Oh ya, aku memang tak
berusaha untuk membuang semua rasa yang sudah pernah tercipta, aku hanya ingin
menyempitkan rasa tersebut tanpa harus mengurangi rasa itu sendiri. Jadi tak
usah kuatir aku akan mengusik kehidupanmu, akan kupastikan hal tersebut tak
akan terjadi. Kamu mau tau apa alasannya? Iya karena aku adalah salah satu
seseorang yang sangat mendamba hubungan kalian, aku kagum, aku senang melihat hubungan
kalian berdua, tak tau kenapa, tapi itu benar adanya. Kalian sangatlah cocok.
Gejolak yang saat ini
sedang aku rasakan memang seharusnya tak boleh seperti ini, tak seharusnya aku merindukan
seseorang yang sudah menjadi milik orang lain, tak sepantasnya hal ini terjadi
pada hatiku. Beribu kali ku coba untuk tak merasakan hal seperti ini namun entahlah.
Ini sudah yang kesekian kalinya aku sibuk berdialog dengan hatiku sendiri, aku
lelah menciptakan asumsi-asumsi yang tak pasti seperti ini. Entah sampai kapan
aku akan selalu seperti ini. Proses. Iya benar, ini semua masih dalam kategori
proses. Biarkan saja sekarang ini hatiku berimajinasi, berasumsi, bergelak
sesukanya, sampai tiba saatnya nanti waktu yang meleburkan, mencairkan segala
sesuatunya menjadi jauh lebih baik dan tenang dari sekarang, aku mungkin cukup
lebih bersabar dan menikmati proses seperti ini yang mungkin nanti tak
kurasakan lagi. Tak perlu aku mencari pasangan baru untuk mengobati semua
luka-luka yang sudah menganga lebar dihati. Tak perlu. Jangan pernah
beranggapan kalau setelah putus cinta lalu dapat pasangan baru kita akan merasa
luka lama sudah hilang, atau kita akan merasa menang dari mantan-mantan yang
sudah menyakiti hati kita. Justru itu akan memperlihatkan betapa tak kuatnya
diri kita ketika ditinggalkan. Janganlah bertindak seperti anak kecil. Memilih
sendiri dengan menata hati dan membangun kembali mimpi-mimpi yang dulu sempat
tersingkirkan itu jauh lebih baik.
Wanita yang hatinya tak
tau diri.
Langganan:
Postingan (Atom)