Bulan September, Alhamdulillah gak tau knpa setiap bulan September
itu banyak banget kejutan* yg datang. Dari kejutan yang menyakitkan
sampai yang sangat membahagiakan, semua ada dan terkemas dibulan September. Kalau
flashback ke bulan September tahun lalu banyak kejutan yg membahagiakan,
menemukan seorang sahabat yg memang bener* sahabat gitu, slalu ada tanpa aku
minta, bisa ngerti aku banget, mau suka mau duka dia selalu nemenin aku, nyari
solusi dari setiap masalah yg ada, antara aku dan dia memang sudah seperti
keluarga sendiri, dia kenal, deket sama keluargaku, tapi aku gak begitu deket
sama keluarganya, ya mungkin difikiran kalian smua yg lagi baca ini, kenapa aku
gak bisa deket sama keluarganya seperti dia yg deket dengan keluargaku? Aku sendiri
juga bingung kenapa aku gak bisa sedeket dia sama keluargaku. Tapi ya itu tak
jadi masalah buatku, yg penting keakraban antara aku dan dia terjalin dengan
baik. Bulan September yg lalu itu bulan bener* menurut aku membahagiakan,
sangat membahagiakan.
Bedanya sama bulan September tahun ini ya memang sih sama*
membahagiakan tapi ada sedikit sesuatu yang aku rasa sedikit melebur, menjauh,
atau bahkan sudah hilang. Seperti ada yg kurang gitu. Mungkin aku yg terlalu
merindukan sosok sahabat yg tadi aku ceritakan diatas. Aku mulai merenggang
dengan dia orang ini saat aku mengetahui dia mengumbar sesuatu yg seharusnya
dia jaga, dia rahasiakan tapi malah dibocorkan, ya meskipun dia membocorkannya
dengan abangku sendiri tapi rasanya gimana gitu, ya aku kira dia ini memang
sosok sahabat yg bener* bisa aku andalkan, bisa dipercayalah. Tapi aku tertipu.
Sejak itulah kenapa aku sudah mulai enggak bisa percaya lagi sama dia. Oh iya
satu lagi, aku semakin yakin kalau dia itu gak bisa dipercaya seperti apa yg
aku harapkan. Setelah dia mulai menemukan pasangannya, sejak itu dia tak banyak
punya waktu buat aku dan dia bercerita banyak seperti apa yg seringkali aku dan
dia lakukan. Dan aku juga yakin, dia juga menceritakan aku kepada kekasihnya
sehingga kekasihnya mengganggap aku ini baik sama dia, care sama dia, banyak
waktu sama dia itu karena aku ada maunya, padahal enggak. Dan sekarang ini aku
mencoba membuktikan kepada kekasihnya bahwa aku ini tulus berbuat baik tanpa minta imbalan apapun dari dia. Kalau memang
kekasihnya gak percaya, coba Tanya saja sama dia, pernah enggak aku minta ini
itu sama dia? Enggak kan? Sedikitpun aku gak pernah minta apa* dari dia. Aku, mama, papa,
abang, itu sebenarnya tulus banget mau membantu dia menjadi orang yang bener*
orang gitu. Sebisa keluargaku membantu. Tapi ya terserah dia dan kekasihnya mau
bilang apapun, yang penting aku mama papa dan juga abang tak pernah ada niat
sedikitpun buat minta ataupun mengharapkan apa* dari dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar